mentari

36 4 2
                                        

Sinar mentari hangat ini benar-benar sangat nyaman. Kurenggang kan otot otot ku sejenak.

Cahaya hangatnya menbuat mahluk manapun tak dapat menolaknya.

"Apa lagi yang kau pikirkan?"  samar-samar aku mendengar suara

Aku menatap sosok itu sekilas dan kembali fokus pada cahaya terang diluar kamarku.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kau terlihat sangat kacau!". Kini gadis mungil itu bergerak mendekati ku.

Gadis bertubuh mungil dan berparas cantik. Dialah sahabatku. Jisoo.

"Ceritakan padaku. Apa kau masih menganggapku sebagai sahabat?" 

Kulirik sejenak jisoo dengan malas. Kuharap dia bisa paham dengan apa maksudku.

Aku belum bisa menceritakan apa yang telah terjadi padaku.

#Flashback on

'Oppa ayo kembali. Sebelum hujannya semakin deras'  seruku saat kami sedang berada dijalan.

'Ayo berteduh dulu. Jangan sampai kau sakit'. Ucapnya kini dan menarikku kesebuah tempat berteduh.

Buliran hujan turun dengan derasnya disertai angin kencang.

Pakaian yang basah membuatku benar-benar kedinginan saat ini.

Kueratkan tanganku memeluk tubuhku sendiri. Berharap kehangatan akan ada pada tubuhku.

'Kau kedinginan?'. Tanya nya.

Aku hanya menatapnya dengan sebuah senyum kecil. Berusaha mengatakan 'iya'

'Eoh!' aku kaget saat tangan kekarnya kini
Melingkar di pinggangku. Dia memelukku dengan erat. Sangat hangat.

'Biarkan seperti ini sampai kau hangat!' jelasnya.

Aku menerimanya karena memang aku sangat kedinginan. Tubuh kekarnya ini akan membantuku untuk menjadi hangat.

Lama kami berteduh. Tak terasa hari semakin malam dan kami belum juga kembali.

Hujan yang semakin lebat membuat kami memutuskan untuk bermalam disini.

I Can Do Donde viven las historias. Descúbrelo ahora