Pertemuan di Stasiun

129 11 6
                                        

"Kringggg.....kringgg.....kringgg" bel tanda berakhirnya jam pelajaran pun berbunyi.

"Cepatlah bereskan buku itu,buat pr aja, jangan kerajinan banget" ucap Nisri kepadaku."Iya sabarlah" jawabku dengan santai."hey bukan masalah sabar atau tidak, kau tak lihat bapak satpam yang galak tuh,apa kata dia kalo melihat kita masih dilantai tiga padahal bel pulang sudah lama berbunyi!" Nisri mengomel kembali."Iya iya aku rapihkan deh, tunggulah kau di depan kelas,kalo kau didekatku pasti akan kesal terus rasanya,ya kan? Hahaha" Candaku sambil mencubit tangannya dengan lembut."Huh dasar anak kerajinan sih,baiklah aku tunggu di depan" jawab Nisri.

Langkah kakiku nampak lambat karena merasa lelah seharian mencoba menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk untuk minggu depan.Sambil berjalan keluar pintu sekolah Nisri pun berbicara seolah-olah motivator handal yang sok bijak "Tik jangan terlalu memaksakam diri,lelah ego belajar mulu,sekali-kali refreshing gitu kita jalan,sekalian nyari cogan siapa tau dapet"."Hah pikiran macam apa yang kau buat ri,tidak nafsulah aku pada hal seperti itu,kau tak lihatkah langkah kita terlalu lamban,aku ingin cepat sampai stasiun sebelum sore dan keretanya jadi penuh" Jawabku."Serah kaulah tik,aku percaya suatu hari pasti ada seseorang yang bisa membuat tingkat kerajinanmu itu tidak terlalu overdosis" ucap Nisri saat kami melangkahkan kaki untuk naik ke angkutan umum.Aku yang berada dibelakangnya langsung tertegun, bertanya-tanya siapa yang akan mampu melakukan itu.Nisri saja yang sudah menjadi sahabatku sejak kecil tidak bisa mengontrol sikap overdosis kerajinan dalam diriku."Jangan sok tau kau,lagi pula menurutku tidak ada yang bisa merubah sikap kerajinan ini" jawabku."Jika bisa kau mau berkata apa, hal yang dapat merubahmu, ya Cinta" Ucap Nisri yang membuatku terkejut.

Apa itu cinta?.Bagiku cinta sangat sulit didapatkan sudah beberapa kali ku tahu tentang itu tapi rasanya cinta biasa saja,tak ada artinya.Aku justru merasa tugas-tugas sekolah yang menumpuklah yang lebih berarti.

"Baiklah aku turun duluan tik,hati-hati kau dikereta nanti pasti harta benda tetap terjaga" ucap Nisri mengejutkanku yang sedang melamun karena kata "Cinta".

"Akhirnya sampai distasiun juga" ucapku dalam hati.Kursi biru panjang menjadi tempat kesukaanku saat menunggu kereta datang.Tidak banyak orang distasiun karena memang belum jam pulang orang-orang kerja.Melihat ke sepatuku dan tampaknya aku masih memikirkan ucapan Nisri tentang cinta dapat mengubah sikapku.Aku bingung apakah harus percaya hal itu atau itu hanya lelucon semata.

"Jalur dua akan segera masuk kereta tujuan Bogor.Jalur satu akan masuk kereta tujuan Jakarta Kota" informasi kereta.Aku pun segera berdiri dan berjalan menuju pinggir peron, saat ku angkat wajahku, di peron seberang.

Aku melihat seorang cowo yang terlihat tidak jauh umurnya dengan diriku yang tiba-tiba membuang muka saat tahu aku melihatnya juga.Apa sejak tadi dia melihatku?

Hah ini pikiran macam apa, mengapa aku jadi begitu baper mengenai hal-hal yang berhubungan dengan lawan jenis seperti itu.

Kereta pun datang di peronku, begitu pula di peron si cowo itu juga.Sebelum kereta menutupi pandanganku dan pandangannya.Si lelaki itu kembali melihatku dan begitu pula dengan aku yang melihatnya.

Kereta pun menutupi pandangan kami seketika.Aku pun masuk ke dalam gerbong kereta dan duduk kembali duduk.Aku memikirkan sesuatu.

Rasanya detik-detik yang lalu mengapa aku merasakan hal yang begitu berbeda, seperti ada sesuatu yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya.Apakah karena pandangan cowo itu? Apa dia sudah menghipnotis aku? Hah kurasa iti bodoh.Tapi mengapa ya aku merasa ada sesuatu setelah mengalami pertemuan itu.Pertemuan di stasiun? Pertemuan aneh karena aku pun tidak mengenali cowo itu sama sekali.

Huh perasaan apa ini,perasaan aneh yang timbul setelah pertemuan di stasiun.

AGAT (Strory Of A Kuadrat)Stories to obsess over. Discover now