1. Buku Theo

39 4 8
                                        


Aku membenamkan kepalaku di atas meja. Menghela nafas lalu melihat jam dinding belakang yang ternyata masih jam enam.

Bukan salahku yang sengaja datang pagi buta gini ke sekolah yang cuma ada bunyi AC di dalamnya.

Ini salah Theo.

Gara-gara dia, aku jadi datang sepagi ini karena kabur menghindari introgasi mama dan papaku. Sebenarnya bukan salah dia sepenuhnya sih, aku juga termasuk.

Tapi siapa coba yang mulai? Sore kemarin aku mengembalikan novel tebal berisi dunia fantasi ke Theo.

Niatnya aku ingin beristirahat dulu dari cerita cerita khayal itu, namun Theo ternyata sudah membawa novel lanjutannya. Dia menawariku untuk terus membaca, katanya ngga baik menunda novel series. Aku terus menolak, tapi bukan namanya Theo jika dia putus asa. Berjalan menuju ke rumah, dia selalu membututiku, merayuku yang lebih pantas memaksaku untuk mengambil novel itu dari tanganya.

"Theo. Sakit kuping yah? Aku bilang kan minggu depan." Kataku kemarin kesal kepadanya.

Theo menyodorkan novelnya, "Sekarang aja, entar kalo lupa ceritanya kan nggak seru, Din."

Aku melotot, "Minggu ini banyak ulangan. Seneng ya, kalo aku diremed tiap mata pelajaran?"

Theo menggeleng cepat-cepat, "Yakali temennya remed malah seneng. Entar deh gue bantu lo belajar. Ulangan apa sih?"

"Fisika, Mtk, Biologi, Prancis, Sejarah sama Kimia."

"Lah? Gampang itu mah. Besok ulangan apa dulu?" balas Theo sambil mengibas ngibas tanganya.

"Jam pertama Sejarah, habis istirahat Biologi, terus terakhir Fisika."

Theo mengangguk-angguk, "Sip, gue ajarin deh. Mau belajar dimana?"

Aku berbinar sedikit tidak percaya. Baru kali ini Theo sang juara satu yang ngga pernah ke geser di angkatan mengajari seseorang tanpa ada pertimbangan dahulu.

Theo menyodorkan novelnya lagi "Tapi lo baca novel ini ya nanti?"

Yah setidaknya pasti ada mau nya.

Aku mengangguk, "Iya, bawel. Udah yuk, kita belajar di Caffe latte aja."

Pukul tujuh malam aku baru sampai rumah disambut kedua orang tuaku yang sudah cemas menungguku dan mengajak langsung untuk makan malam. Aneh, padahal aku sudah memberitahu mereka kalau Aku lagi belajar bareng sama Theo.

Setelah makan malam aku menuju kekamar mengambil novel yang di paksa pinjam oleh Theo lalu kubaca. Baru sampai setengah halaman aku ketiduran.

Bangun dari tidurku, tiba-tiba Aku ingat yang ku mimpi kan semalam, gara-gara aku terlalu memikirkan jalan cerita novel milik Theo yang aku baca sebelum tidur tadi, aku jadi bermimpi kalau aku bukan anak mama dan papa ku karna aku mempunyai kekuatan sihir yang seharusnya dimiliki oleh keturunan penyihir asli.

Entah pikiran konyol darimana aku bangun dari tempat tidur langsung mengendap endap ke ruang dokumen dekat kamar mama.

Aku membuka surat kelahiranku dan konyol sekali aku bisa terlalu percaya dengan mimpi gila ku semalam. Mana ada jaman sekarang keturunan penyihir seperti itu.

Tepat di saat aku menutup map dokument, mamaku memasuki ruangan. Aku langsung keluar hanya berkata 'tadi aku ngecek akte lahir ma, takutnya lupa ngembaliin. Soalnya kemaren habis difoto copy buat daftar ekskul' syukurlah mamaku hanya mengangguk sambil mengucek matanya yang masih ngantuk.

"Hoy, ngelamun mulu."

Aku tersentak membuat lamunanku buyar lalu berdecak setelah melihat Theo duduk disampingku.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Oct 30, 2016 ⏰

Ajoute l'histoire à ta Bibliothèque et tu seras prévenu des nouveaux chapitres !

The Secret Of LinageDes histoires addictives. Découvrez maintenant