Awal dari segalanya
"Zara," keluh Ibu padaku. Wajahnya terlihat begitu cemas dan menyimpan banyak sekali masalah. Ia mengerutkan dahinya sembari menatapku.
"Ya, Ibu?" jawabku dengan singkat, seperti bagaimana aku selalu menjawabnya. Aku menatapnya dengan perasaan tak enak. Nampaknya, aku memang benar-benar menyusahkan.
"Umurmu, sudah 28. Apakah kau tidak mau menikah?" tanya Ibuku dengan nada sedikit terdesak. Nampaknya, Ibu bukan mau mengusirku dari rumah.
"Ibu ingin aku mendapatkan keluarga yang lebih baik?" aku membesarkan mataku dan menyunggingkan senyum samar di wajahku.
"Keluarga ini sudah sangat baik. Aku memiliki Ibu dan Adam," lanjutku dengan senyum yang lebih lebar.
Ibu terlihat menahan air matanya. Ia bergerak mendekatiku. Matanya memerah dan menampung air mata.
"Maafkan Ibu, Zara. Ibu tidak bisa memberikan fasilitas mewah untukmu," jawab Ibu sembari meneteskan air matanya.
Aku meraih tangan Ibu dan mengelus-elusnya dengan lembut, "Aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Aku akan tetap membiayai sekolah Adam," jawabku dengan santai.
"Ibu masih sanggup. Lagipula, jualan kue akhir-akhir ini mulai laris," respon seorang Ibu yang bertanggung jawab.
Bagiku, wanita yang selalu mengikat rambutnya dan mengenakan rok menutupi lutut ini adalah wanita terhebat. Ya, dia Ibuku. Ibu yang membesarkanku sendirian. Ayahku telah lama meninggal. Entahlah, mungkin karena kebaikannya atau beliau memang lalai sampai kecelakaan besar mencabut nyawanya. Namaku, Zara Abigail. Nama yang indah, namun hanya menjadi pekerja paruh waktu di sebuah restoran. Aku sempat kuliah sebagai seorang koki sembari membantu Ibu berjualan kue. Tapi, aku hanya sekolah dua semester. Alhasil, aku hanya tahu dasar-dasar memasak. Ujung-ujungnya, aku hanya dijadikan tukang cuci piring di restoran tersebut.
...
Pria itu berparas menarik. Namun, raut wajahnya begitu masam pagi ini. Ia memegang kepalanya dengan begitu depresi. Dia membaca koran maju dan mundur. Semakin ia pandang, semakin ingin ia sobek koran tersebut. Wanita cantik yang berpakaian hitam putih berdiri di sampingnya sembari menundukkan kepalanya.
"Siapa yang menulis berita ini?" tanyanya dengan berapi-api.
Pria itu nampak tidak baik-baik saja.
Wanita yang hanya mampu menggelengkan kepala dan menyilangkan tangannya di balik tubuhnya itu nampak ketakutan. Pria itu pun melemparkan koran tersebut kearah tubuh wanita tersebut dan segera berdiri.
"Ketika saya pulang, cari tahu siapa brengsek yang menuliskan hal semacam itu," pria itu pun berjalan dari meja kayunya menuju pintu.
Dia belum memegang gagang pintu, pintu sudah terbuka. Terlihat sekitar sepuluh wanita berpakaian hitam putih sudah membungkuk dan melipat tangannya dengan sopan. Tak ada satupun yang berani menatap mata pria itu secara langsung. Suasana hening sekali, hanya terdengar langkah sepatu yang melewati karpet dengan ruang kerjanya. Detik jam pun seakan menembus telinga. Pria itu berjalan sampai kedalam lift. Ia menekannya dan turun menuju lantai dasar rumahnya. Begitu pintu lift terbuka, ia kembali menemui pemandangan yang sama. Ia berjalan lurus menuju pintu keluar. Dimana mobil dan supir sudah menunggu di depan lobi rumahnya. Ia berjalan dengan pandangan lurus kedepan. Koper berisi dokumen berharga dibawakan oleh pria berseragam hitam putih, berpandangan datar yang setia berjalan di belakangnya.
Pria itu masuk kedalam mobil mewahnya. Ia duduk di bangku belakang dan seorang supir sudah menunggu di kursi depan.
Setelah pria itu pergi, barisan pelayan di rumahnya segera berkumpul membicarakan orang yang sudah memberinya penghidupan.
YOU ARE READING
Under the Moonlight
RomanceAku adalah perempuan berusia 30 tahun yang selalu hidup dalam karma. Hidupku serba susah, ditambah adikku yang bernama Adam selalu malas belajar. Aku pun terpaksa harus mencari pekerjaan yang lebih baik. Sampai, aku diterima sebagai koki di Hotel Ka...
