Kamu tau hujan? Dan kamu tau salju? Bukankah mereka berbeda?
Kala itu senjaku malu malu, oranye yang biasanya menghias cakrawala nyatanya tertutup kelabu tanpa permisi. Otakku hanya berpikir sebuah delusi. Mendung gelap kali ini bisakah menurunkan sebutir salju?
Alam khayalku seakan menemukan pegasnya, diputar searah lalu dilepaskan agar melaju.
Dari balik tiang lampu jalan yang berdiri tegak tanpa takut gelap, aku memerhatikannya, seksama lalu berharap lagi. Cukup lama aku berharap nyatanya sergapan bosan melumpuhkan imajiku.
"Percuma Sin" katamu. Di sampingku ketika itu. Jaket lusuh pemberianku dua Bulan lalu segera kamu eratkan, bahkan udara dingin ini lagi lagi hampir mematahkan keinginanku.
Kamu menatapku tajam, seakan sang elang yang akan menyergap mangsanya. Kata 'pulang' kembali berdengung di telingaku. Tiktoktiktok waktu berjalan tanpa diperhatikan, bahkan senja akan bergulir kearah barat, dan yang ku harapkan tak jua ditemukan.
Kamu mengambil alih pergelangan tanganku, digenggamnya erat seraya menyalurkan kehangatan yang kamu punya. Dengan ke hati hatian ditariknya tangaku, dan tanpa bisa kutolak yang jelas beberapa detik kemudian tubuhku sudah masuk kedalam ruang besi yang kemudian bergerak karena dikendalikan. Mendungku? Mengapa hanya datang seorang?
***
Aku marah. Tidak berlebihan. Bahkan tak kusebut tanduk seperti yang digambarkan. Aku hanya marah kepada langit. Mudah saja dia menciptakan mendung sendirian tanpa adanya teman. Bukan hanya itu, aku marah kepadamu karena melarangku untuk menunggu.
Katamu menunggu itu bosan, katamu menunggu itu penat.
"Gua kangen salju, ram" aku berbisik di dalam mobil. Kamu berdecih
"Jangan gila, Sin, disini ngga ada salju"
Aku memutar bola mataku kesal, tak bisakah sehari tanpa sanggahan?
Helaan nafasku terdengar keras, sungguh kali ini aku kembali akan membenci diriku sendiri. Aku benci. Aku benci. Aku ilusi.
Jangan tertawa bila kuceritakan yang sebenarnya, aku tak pernah melihat salju. Sekalipun. Tapi rindu itu benar benar ada, disini, ya tepat disini.
Mobil melaju menerjang jalan yang beberapanya telah berlubang. Rasanya aku ingat, aku pernah menunggu lebih lama dari itu. Aku ingat ketika dua kupu kupu itu terbang rendah seakan mengolok waktu tungguku.
Aku ingat. Waktu itu aku menunggu kamu, Ramanda Aditya Kamandhanu..
Mobil terus bergerak meninggalkan jalan berdebu, perlahan titik titik hujan membias muncul dibalik kaca. Tak apa, tak apa, tiada salju setidaknya ada hujan.
Hujan ini selalu memberi semangat baru ketika salju itu muncul, tapi sekarang saatnya aku waras. Tidak selamanya aku akan terjebak disini kan? Terjebak dalam imaji liar yang tak seharusnya ku miliki. Aku ingin berhenti, aku berhenti sampai disini.
Tape dinyalakan untuk mengurangi bosan, bunyi alunan lagu seakan merobek sukmaku
"Aku bukan Rama kau bukan Sinta, kita diciptakan sangat berbeda-"
Kita berdua sama sama terpaku, sepersekian detik kamu menoleh, matamu mengambil alih jiwaku.
Kamu Rama, dan aku Sinta tapi sayangnya kita masih juga berbeda..
Kebumen,23 Oktober 2016
Resinta Nendra Reswari
YOU ARE READING
Dunia Imaji
RomanceKamu Rama dan aku Sinta, sayangnya kita masih juga berbeda -Resinta Nendra (Hujan Salju)
