Malam ini, tidak ada satupun kalimat tertulis dibuku milikku. Seluruh perhatianku tertuju pada pesan singkat di media bernama blackberry massanger.
Sayang kamu hebat, sungguh.
Satu kalimat darimu berhasil merobohkan pertahananku. Terimakasih telah membuatku terpaksa mengeluarkan keluh kesahmu ini. Ah pasti kamupun.
Siapa yang kuat menghadapi wanita paling kekanakkan yang tak hentinya mencuri seluruh waktumu.
Maaf, karena tak selalu mengertimu.
Maaf, karena perduliku keterlaluan.
Sudahlah, esok kamu bisa dengan mudah hati membeberkan status hubunganmu. Ntah itu sendiri atau berhubungan atau apapun itu sungguh aju berusaha untuk tidak ingin perduli.
Karena memang sudah bukan wilayahku untuk perduli.
Aku sudah tak mengenalmu.
Sejak kepergianmu ketempat itu rasanya kamu bukan seseorang yang pernah aku kenal.
Katakan sibuk, aku mengerti.
Tapi kamu berlalu lalang di recent update-ku.
Media sosial facebook-mu pun selalu aktif yang ntah dengan siapa sebenarnya kamu bercumbu dengan jemarimu itu.
Hari ini terlalu sakit, bahkan aku tak dapat menutup mataku karena rasa pedihnya.
Harusnya aku sadar. Sejak kejujuranmu perihal taruhan, harusnya akulah yang mawas diri. Akulah yang semestinya memahami situasi.
Tak harus mengharapkan lebih karena pada akhirnya akulah yang tetap akan tersakiti.
STAI LEGGENDO
SEBERSIT KISAH TENTANGMU
CasualeKamu pernah bertanya: "Apa yang paling menyedihkan dari kamu?" Lalu dengan lantang aku membalas pesan singkatmu yang tak kusangka itu: Saat kisah tentangmu tak juga luruh dari ingatan. Ketika sang langit berpesan bahwa Bintang yang jatuh terkadang m...
