Kisah Tentang Hujan dan Jingga

29 1 0
                                        

"Bukankah Senja setelah Hujan itu indah, jingga?" Rain berbicara tanpa menoleh pada Jingga yang tengah sibuk dengan sesuatu -entah apa- di sudut ruangan.  Mata Rain sibuk memandang Matahari Senja dibalik dinding kaca. Jingga mulai meninggalkan kesibukannya dan berjalan menuju Rain "Mm,, Senja memang Indah setelah hujan" Jingga mengiyakan  pertanyaan Rain tanpa menoleh pada laki-laki itu. Cahaya jingga sang matahari menyelinap masuk kedalam apartemen tanpa penerang tsb, memberikan suasana romantis yang pekat oleh cahaya jingganya. Rain menoleh pada Jingga yang ada di sampingnya dan semakin terkagum oleh kecantika wanita itu. Wajahnya yang menghadap cahaya matahari senja semakin menampakkan sosok anggun dan tangguh dari wajahnya. "mengapa aku tidak pernah menyadarinya, jingga? " gumam Rain lebih kepada dirinya sendiri. Jinggapun menoleh atas pertanyaan aneh itu, semakin mengernyitkan kening saat menemukan keterpesonan laki-laki itu padanya. "Apa?!" tanya Jingga menutupi kegugupannya. Rain tak mengucapkan apapun namun ia membawa wajahnya semakin dekat pada gadis itu dan sebelum Jingga sempat berfikir Rain telah melumat bibir bawahnya lembut, penuh perasaan. Seakan akan Rain sedang menyalurkan cintanya. Ya!  Cintanya yang baru disadari di balik warna Jingga sang Senja. Warna Jingga yang membuka mata dan hatinya bahwa Jingga yang lebih indah telah berdiri disampingnya sepanjang musim, sepanjang tahun selama lebih dari setengah hidupnya. Bagaimana ia bisa ia tidak menoleh pada Jingga yang selalu menjadi miliknya, Jingga yang indahnya melebihi warna Jingga Sang Senja yang selalu dikaguminya sepanjang hidupnya.
Jingga terlena oleh kelembutan laki-laki yang telah dicintainya selama lebih dari setengah hidupnya ini. Demi tuhan!  Jingga bahkan telah melalui topan dan badai untuk tetap bisa bersama 'hujan'nya ini. Perlahan, Jingga mulai merespon ciuman Rain. Merkapun berciuman panjang dan lama. Lembut, tanpa nafsu. Seakan-akan nafsu akan memisahkan mereka lagi, seakan-akan jika mereka menyelipkan sedikit saja nafsu maka Badai akan memisahkan merek lagi, akan merusak cinta diantara mereka.
Karena Jingga tak akan terlihat jika sedang Badai. Begitu juga jika sedang hujan, jingga tak akan terlihat bahkan mungkin menghilang dan gelap.
Rain menarik dirinya dan menatap Jingga dengan lembut.  Tatapan yang selama ini diimpika Jingga sepanjang hidupnya,  dan kini Jingga mendapatkannnya.
Pada akhirnya Rain menyadari cinta Jingga padanya.  Cinta tulus yang selama ini diinginkannya dari sesosok yang telah ia nikahi namun tak ia dapatkan hatinya sehingga ia memilih berpisah dari sosok itu.  Siapa sangka?  Cinta tulus itu malah berasal dari sosok sahabat yang selama ini mendukungnya. Jingganya, wanita yang selama ini muncul saat di butuhkan dan menghilang saat masalahnya selesai. Bagaimana Rain (hujan)  bisa tidak merasakannya?  Tatapan itu tak pernah berubah terhadapnya,  tapi kini Rain telah  menemukan dan menyadarinya. Badai (adiknya)  tidak lagi bisa menyembunyikan Jingganya. Tentu saja Rain tidak bisa merasakan dan melihat Jingganya! karena selama ini Badai menutupinya.
Bukankah Jingga tidak akan terlihat jika sedang Badai?  Jika sedang Badai Jingga akan mencari tempat lain untuk di sinari,  bukan?  Dan Jingga selalu menemani Matahari bukan Hujan (Rain)  sepertinya.
Tapi sekarang tidak lagi,  Jingga akan indah mengiringi setelah Hujan (rain)  membasahi bumi.

Garing ya? 
Sory,,
Kalian harus pintar-pintar bedain aku nyebut nama tokoh atau kaindahan alam di kisah 'aneh' ini,  terkadang juga bermakna ganda.  Hehehe sory,  I'm still learning. Hope you enjoy it.😊

Kisah Tentang Jingga & HujanBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin