*Vanya's pov*
"Vanyaa... ayoo!!" Suara Tasya.
"Gue udah diluar!!" Ucapku memakai sepatu adidas neo basline putih hitamku di depan apartment ku.
Kita lari ke lift apartment karena harus mengumpulkan tugas skripsi yang tiba tiba dimajukan jam 9 pagi. Di mobilku..
"Anjir emang itu dosen" ucap Tasya.
"Tuh kan untung kita udah ngeprint semalem" ucapku sambilengendarai mobilku menuju kampus.
Pagi ini Malang sedang gerimis. Tasya dia sahabatku sejak kecil di Bandung dan kita satu sekolah dan satu kelas terus mulai dulu sampe sekarang. Ada lagi sahabat kita Aldi dan Dio tapi mereka di Universitas negri bandung. Sedangkan kita di Universitas Brawijaya. Kita kuliah jurusan MIPA kususnya Biologi. Aku juga merangkap di kedokteran UB. Tapi kedokterannya udah selesai. Jadi wisuda dapet 2 gelar. Sesampainya di parkiran kita turun dan langsung ke kantornya Pak Redy. Aku ditabrak seseorang laki laki disana.
"What the.. maaf maaf" ucapku mengambil skripsi ku dan lalu masuk ke kantor Pak Redy.
Setelah itu aku keluar bersama Tasya. Dan sepertinya anak tadi masih mengambili kertas kertas itu aku menolongnya.
"Maaf ya.." ucapku menolongnya.
"Salah gue lagian tadi huru buru." Ucapnya.
"Nih" ucapku memberikan kertas itu padanya.
"Thank's ya☺" ucapnya menatap mataku tepat di mataku.
Mata hazel dan senyumnya itu.. aromanya juga aku dapat menciumnya.
"Not at all" ucapku tersenyum dan berdiri.
Dia berdiri dan jalan pergi.
YOU ARE READING
Hurt
Romance"MAAF" mungkin hanya itu yang dapat Febry lakukan kepada Vanya setelah kejadian semalam. Semua yang telah dipersiapkan,seakan musnah seketika. Mungkinkah Febry dapat meyakinkan Vanya?
