Beautiful Art

2.7K 149 7
                                        

Senja mentari memantulkan biasnya. Ia tetap memperhatikan pria itu dengan saksama. Hingga tak sadar jemarinya yang lentik mengukirkan lekukan-lekukan ciptaan Tuhan itu ke dalam kertas putihnya. Terpampang secara nyata keindahan ciptaan Tuhan itu di selembar kertas putih. Ia tersenyum pelan. Bibirnya yang indah mengukir senyum.

'toktok'

"Jejungie, kau sudah minum obat?"

Teriakan kecil dari luar kamarnya menyentakkannya. Segera ia menarik gorden jendelanya agar jendela besarnya tertutup sepenuhnya. Ia pun segera menutup kembali beberapa lukisan yang ia ukir sejak kemarin. Membereskan secepatnya sebelum makhluk lain mengetahuinya.

"Jejungiee~"

Rengek sang bunda yang mendadak membuka pintu kamarnya sembari membawa gelas air putih dan pil di dalam genggaman tangannya. Kim Jaejoong, pria manis itu hanya tersenyum. Ia masih duduk di pinggir jendela yang sudah tertutup gorden berwarna emas. Bias mentari senja yang masuk melalui celah gorden sedikit menyinari wajahnya yang selalu pucat.

"Kau ini. Jika umma menyuruh segeralah bergegas."

Wanita cantik paruh baya itu segera mendekati sang putra tercintanya. Ia pun memberikan beberapa pil dengan berbagai macam warna kearah putranya. Kim Jaejoong menghela nafas berat sejenak. Ia pun mulai meminum beberapa pil dengan bantuan air putih hangat yang dibawakan sang bunda tersayangnya.

"Jangan malam-malam tidurnya. Ini sudah hampir malam."

"Umma,ini masih sore."

"Tapi kau harus istirahat. Lihat. Wajahmu pucat begitu."

"Wajahku selalu pucat umma." tanggap Jaejoong datar, ia tersenyum kecil. Sang bunda hanya menatapnya. Wanita itu pun tersenyum sendu kemudian. Sedikit membelai rambut putra tercintanya dengan penuh sayang.

"Maka dari itu. Banyaklah beristirahat. Ara?" pinta sang bunda lembut. Jaejoongpun hanya tersenyum dan mengangguk. Ia memang selalu luluh dengan kelembutan sang ibunya meskipun ia pun merasa bosan dengan kehidupannya.

-------------------------------------

Lagi-lagi Kim Jaejoong memperhatikan beberapa pemain basket yang sedang berlatih di lapangan dekat rumah mewahnya. Ia duduk di pinggir jendela besarnya. Menunduk melihat mereka yang bahagia berada di bawah sana. Ia selalu tersenyum melihat mereka. Seperti ingin bergabung menjadi satu disana. Seperti ingin bermain juga dengan mereka. Tertawa bersama, saling melempar bola, saling bekerja sama dengan suka cita. Namun, penyakitnya tak mampu ia lawan. Ia terkena penyakit asma akut. Ia harus sering beristirahat dan rutin meminum obat. Terkena angin malam saja asmanya bisa kumat, bagaimana ia bisa bermain basket bersama mereka dengan semangat?

Jaejoong hanya memandang beberapa pria yang seperti seumuran dengannya. Ia tak sadar jika kedua bola matanya yang besar terfokus pada satu pria yang memiliki aura berbeda dari pria lain. Seperti ia merasakan jika tatapan mata sang pria itupun sepi. Seperti dirinya disini. Sendirian di kamar atas. Sendiri di rumah mewahnya. Tak bisa keluar menikmati indahnya dunia. Selalu meminum berbagai macam pil. Selalu dibantu dengan alat pernapasan. Muak. Sangat muak. Ingin sekali ia menjadi pria normal. Namun, takdir yang menentukan. Ia harus menjalani takdir yang diberikan Tuhan.

--------------------------------------

'sret'

KimJaejoong membuka gordennya kembali. Ia ingin meneruskan hobby menggambarnya yang tertunda kemarin. Kemarin ia terlalu sibuk dengan pikiran sendunya, hingga ia hanya memperhatikan pria itu bersama beberapa teman basketnya, tanpa meneruskan kelincahannya dalam mengukirkan sesuatu di kertas putih.

Segera parasnya yang pucat berubah menjadi sangat sendu. Mendadak lapangan basket disamping rumah mewahnya tak terisi oleh siapapun. Hanya terdapat keranjang basket yang bergerak-gerak kecil tertiup angin senja yang cukup kencang. Ia menghela nafas sembari menarik kembali gordennya. Pelan, ia mengantuk-antukkan sebuah pensil di kertas gambarnya yang masih belum selesai itu. Setitik keberanian ia pun ingin melakukan sesuatu hal yang mungkin membuat sang bundanya mabuk kepayang.

Jaejoong dengan segera memakai sweater dan syal tebal. Tak lupa ia memakai topi kain yang membungkus rambut lembutnya. Ia pun membawa alat bantu asma di saku celananya yang terlihat kedodoran di tubuhnya. Tak lupa juga ia membawa buku gambar serta satu pensil di sakunya. Dengan langkah mengendap-endap ia pun keluar dari kamar. Menengok ke kanan dan ke kiri, dan kemudian lari kecil keluar dari rumah mewahnya.

--------------------------------

Sepi.Lagi-lagi hanya angin kencang yang bergemulur di lapangan basket. Ini diluar pemikiran gilanya. Ia berharap ketika ia datang langsung disana, para pemain basket itu sudah ada dan seperti biasa bermain dengan lincah. Namun, pikiran khayalannya memang sekedar khayalan. Mungkin, hari ini libur. Mengingat ini adalah hari Sabtu. Jam kegiatan pun tak ada di sore hari. Dengan perasaan sendu Jaejoong pun perlahan membalikkan tubuhnya yang sudah berdiri disamping lapangan basket itu. Ia sedikit menundukkan wajahnya dan melangkah pelan.

"Hei.."

Jaejoong berjingkat terkejut. Ia pun segera menegakkan wajahnya ketika dengan tiba-tiba ada sesosok makhluk di hadapannya.

"Kenapa kau ada disini?"

Pria itu.. Jaejoong hanya diam. Ia pun hanya memalingkan kepalanya tak menatap pria itu.

"Kau...Kau pria yang tinggal di rumah itu hm?" pria itu menunjuk rumah Jaejoong. Jaejoong hanya memandang rumahnya sekilas. Untuk kemudian ia menatap pria itu lagi. Kenapa pria ini tau? Batinnya bergejolak.

"Aku memperhatikanmu di saat aku berlatih basket. Kau selalu ada di kamar atas dan memperhatikan kami, aniya?"

deg!

Jantung Kim Jaejoong berdetak cepat. Ia tak percaya jika pria ini begitu memperhatikannya. Sama seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini. Terlebih dengan pria yang ada di depannya ini.

"Apa yang kau bawa?" pria itu dengan segera menarik buku gambar Jaejoong yang terselip di lengannya. Jaejoong pun dengan segera menarik kembali buku gambarnya dan..

braakk!

Buku itu pun terjatuh dan terbuka. Dengan masih adanya angin senja yang cukup kencang, buku itu pun membuka satu demi satu halaman dengan sendirinya. Pria itu hanya memperhatikan beberapa gambar yang ada di buku itu. Seperti takjub tak menyangka jika ada lukisan yang sangat indah disana.

"Wah indah.." pria itu tersenyum manis sembari merendahkah tubuhnya dan berniat mengambil buku itu. Namun dengan segera Kim Jaejoong mengambilnya dan langsung mendekap buku itu.

"Eh?Kenapa?"

"J-Jangan..G-Gambarku jelek.."

BeautifulStories to obsess over. Discover now