Uh, dari seluruh dunia, mengapa harus tempat ini? Rutuk Rea. Mulutnya mengerucut, bola matanya berputar malas. Sejurus kemudian ia menghembuskan nafas. Lebih mirip setengah dengusan sebenarnya. Sebal.
Ayahnya baru saja pergi. Ke-Ja-kar-ta. Tempat dimana seharusnya ia berada. Bukan disini. Bukan di sebuah kamar loteng berdebu di rumah nenek. Di-de-sa. Dengan sebuah ranjang kayu tua berseprai biru muda di samping jendela. Serta sebuah tirai warna senada yang menutupi jendela dengan tinggi separuh dirinya. Pot-pot sebesar mug menghiasi tepi jendela yang dibuat menjorok ke dalam. Cukup untuk Rea meletakkan kepala dan memandang hamparan sawah yang membentang.
Tapi itulah yang Rea benci.
Apa yang menarik dari hamparan sawah sejauh mata memandang? Tanpa kelip lampu jalanan, tanpa pusat perbelanjaan, tanpa Club, tanpa sinyal apalagi wifi. Rea merasa seperti ikan yang dipaksa hidup di daratan. Mungkin sebentar lagi dia akan berevolusi jadi kadal.
Koper biru mudanya ia letakkan sekenanya. Rea mendekati meja rias yang berjarak sekitar tujuh langkah dari pintu. Menyapu permukaannya dan mengecek kacanya.
Bagus! Setidaknya ini bersih.
Rea membuka sling bag nya. Mengeluarkan tas yang lebih kecil lagi, dan membongkar isinya. Cermin tangan, foundation, bedak, make up remover, dan... Ah, ini dia! Sebuah facial wash digenggamnya dan ia kini bergegas ke kamar mandi.
Aku tidak akan jadi kadal! Tekadnya.
YOU ARE READING
Mr. Carrot
FantasySebuah cerpen dari Islamic Otaku Community Writing Challenge.. Kita lihat bagaimana cerita ini akan mengalir...
