13 tahun yang lalu. Aku menyadari suatu ketika usiaku 3 tahun.
"Ais seru sekali mainnya?" tanya Ayah. Aku masih tetap bermain. "Ayah punya hadiah buat Ais loh" Ayah menghampiriku sambil tersenyum penuh makna.
Aku langsung mendongak menatap ayah dengan riang. Ayah duduk bersila dan mengangkatku duduk dipangkuannya.
"Mana, Yah, hadiahnya?" aku sudah tidak sabar. Lalu ayah menyodorkan sebuah kotak berwarna pink.
"Ais buka ya"
"Iya sayang" begitu kotak pink itu terbuka, aku terpana melihat benda yang ada didalam kotak itu. Benda yang selama ini aku inginkan. Boneka kelinci putih. Aku sangat senang dan langsung memeluk erat boneka itu.
"Telimakasih, Ayaaaahh" aku memeluk Ayah.
"Iya Ais sayang" Ayah tersenyum, mencium keningku, dan membalas pelukanku.
Sejak hari itu, setiap tidur, makan, bahkan sekolah aku selalu membawa Hilmy-boneka kelinci putih itu kuberi nama Hilmy- Sebenarnya aku selalu ingin membawa Hilmy ketika mandi, tapi Bunda bilang "Hilmy nggak usah dibawa mandi, Ais. Nanti Hilmy masuk angin loh". Alhasil aku mengurungkan niatku untuk 'memandikan' Hilmy, takut dia sakit.
Ah, betapa polosnya aku saat itu.
Di hari yang lain, masih 13 tahun yang lalu. Ada yang membuatku berbeda dari remaja perempuan lain.
Siang itu musim panas di bulan Juli. Ayah dan Kak Adit sedang berpanas-panas ria menendang bola. Aku duduk santai dibawah pohon bersama Hilmy. Tadinya bersama Bunda juga, tapi Bunda bilang hendak mengambil gula di dapur. Iya, aku dan keluargaku sedang piknik sederhana di halaman belakang rumah.
"Hosh hosh hoshh" napas Kak Adit terengah-engah dan menjatuhkan diri di samping kiriku.
"Adit tadi.... larinya... kenceng banget. Ayah sam...pai ga kuat ngejar" Ayah menyusul berbaring disamping kananku.
"Iya.. Dong .. Yahhh... Adit..kan... Kuattt" jawab Kak Adit sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kak, Ais juga mau main sama Kakak. Kan kemarin Kak Adit sudah janji" aku mengingatkan Kak Adit tentang janjinya menemaniku bermain hari itu.
"Iya tembem, sebentar ya. Kakak istirahat dulu" Kak Adit mencubit pipi kiriku.
"Iya cepetan" ku singkirkan tangan Kak Adit dari pipiku dan pergi meninggalkannya dengan muka manyun, khas anak kecil yang lagi ngambek.
"Yaah, kok marah sih, tembem. Jangan marah dong" Kak Adit langsung bangun dan menyusulku. Aku mempercepat langkah kecilku. Hendak langsung memulai permain yang aku sukai.
"Eh, Ais mau lari dari Kakak yaa. Hayooo. Rwrwwwrrwrrr" Kak Adit menirukan suara monster.
"Aaahhh" aku sambil tertawa riang, berlari memutari halaman belakang. Hilmy kupeluk dengan erat.
"Mana yaa putri kecil itu? Aku lapar. Aku ingin memakannnya. Rrwwrrrwwwrr"
Inilah permainan yang membuatku menyadari sesuatu yang aneh diriku. Dulu ku pikir itu hanya imajinasi masa kecil yang akan ku lupakan seiring dengan berjalannya waktu. Tapi ternyata aku salah.
"Mana yaaa??" terdengar suara Kak Adit dari kejauhan. Aku tengah bersembunyi di balik semak-semak di dekat pagar. Aku menahan tawa sambil menutup mulut mungilku dengan kedua telapak tangan.
"Ssttt. Jangan belisik, Hilmy. Nanti kita bisa di makan monstel" bisikku di telinga panjang Hilmy. Ku anggukkan kepala Hilmy, seolah ia mengerti apa yang aku katakan padanya. Aku mendengar langkah kaki yang menginjak deduanan kering. Awalnya terdengar samar lalu semakin jelas. Aku menahan nafas, takut kalau 'monstel' itu menangkapku.
"Putri kecil, keluarlah. Aku lapar. Aku ingin...."
"Rrrrwwrrww" Kak Adit mengira aku bersembunyi di balik pohon. Dia mengagetkan angin. "Loh? Mana putri kecil itu?". Aku sedikit tertawa kecil dan bergerak mundur. "Rrwrr disitu kau rupanya putri kecil" Kak Adit berjalan menuju kearah tempatku bersembunyi.
Aku menutup mata, memeluk erat Hilmy, dan terus bergerak mundur. "Aku sangat lapar. Aku akan mema..." Kak Adit bersiap mengagetkan ku.
"...kanmu!" Kak Adit menyibak semak-semak. Aku membuka mata. Tapi..
Kosong.
Tidak ada aku dibalik semak-semak itu.
"Loh?" ku dengar suara Kak Adit kebingungan.
Aku juga sama bingungnya dengan Kak Adit. Begitu ku buka mata, ku kira aku akan melihat Kak Adit dengan matanya yang melolot kearahku. Tapi aku malah melihat tembok bercat putih yang kira-kira saat itu tingginya masih sepundakku.
Aku menengok ke sekitar. Sekelilingku bukan semak-semak, yang ada malah jalanan sempit di belakang rumah yang memisahkan halaman belakang rumahku dengan halaman belakang rumah Dion, tetanggaku. Aku terdiam dan masih berjongkok disitu.
"Loh, Ais kok sembunyi di luar sih? Kakak kira kamu sembunyi belakang semak-semak ini" Kak Adit baru saja menerobos semak-semak dan melihat aku berjongkok di balik tembok. Kak Adit melompati tembok yang tingginya hanya sebatas lututnya.
"Ais juga ga tau, Kak" jawabku bingung.
"Yaudah, ayo masuk" Kak Adit menggendongku dan kembali melompati tembok itu. Aku hanya terdiam dan terus melihat tembok itu.
Aku menembus tembok itu?
YOU ARE READING
Bilberry
AdventureAisha memiliki gambaran keluarga idaman yang di impikan hampir setiap orang. Ayah yang berjiwa melindungi dan penuh kasih sayang. Ibu yang cantik dan jago memasak. Dan kakak laki-laki yang karismatik.Tidak ada yang berbeda. Aisha sama seperti remaja...
