Kamu ingat waktu pertama kali berkenalan dengannya? Kamu ingat waktu pertama kali saling berkata "Hai" dengannya? Aku tau kamu tidak akan lupa, tapi aku juga tau kamu tidak pernah mengingat. -Begitulah putih, tidak akan pernah menjadi hidup jika tidak ada hitam yg menggores.-
Semua berawal dari sosial media, kamu dan dia berkenalan tanpa ada kata godaan atau tergoda. Aku gak tau apa yang membuat kamu penasaran dengannya, mungkin karna dia cantik (menurutku biasa saja), atau mungkin karna kamu memang orang yang mau berteman dengan siapapun. Entahlah, yang aku tau dia pun juga meresponmu dengan syahdu, merdu, dan tanpa kelabu. -Saat itulah putih berkata, "aku hidup, aku pulih. Aku merasakan hitam."-
Seiring waktu berjalan, kamu dan dia saling mengenal satu sama lain. Memang kalian tidak mengenal terlalu jauh, tapi yg aku tau dia merasakan sesuatu yang menarik ada pada di dirimu. Sampai pada akhirnya kamu mengajak dia bertemu, ajakan yang sangat menarik untuknya. Tapi entah alasan apa yang salah satu kalian sampaikan, pada akhirnya kalian tidak jadi saling bertemu. Bukan, bukan karna halangan apapun, menurutku hanya kalian saja yang tidak mau berusaha/mengusahakan untuk bertemu. -Putih pun mulai lupa dengan warna dasar yang ia ciptakan.-
Musim sudah berganti, perasaan pun mulai menjadi. Dia bercerita, bahwa saat matanya terpejam dan khayalannya mulai berkreasi, dia bertemu denganmu tanpa mengenal jeda. Memang kalian tidak pernah bertemu dengan nyata di dunia yang sudah rapuh ini, tetapi dia merasakan perasaan penasaran kepadamu yang semakin bergolak karena pertemuan kalian di dunia ciptaannya (mimpi). -Putih mulai semakin lekat dengan hitam.-
Sekarang sudah satu tahun kalian kenal, sudah satu tahun juga kalian belum saling bertemu. Komunikasi pun tidak sesering waktu kalian baru berkenalan. Dia yang gengsi dan kadang juga agresif untuk memulai obrolan denganmu. Dan kamu yang cuek dan kadang asik untuk merespon sebuah obrolan darinya. -Putih berusaha menjadi kelabu.-
Ada satu saat dimana dia mulai berusaha melupakanmu, mulai berusaha menyangkal perasaan yg dia rasakan kepadamu, tapi kemudian kamu muncul tanpa permisi yang membuat dia lemah untuk tidak meresponmu dengan semangat. -Putih pun berkata, "oh hitam, aku merindukanmu. Sudah lama kamu menghilang di dalam warna dasarku.-
Dia bahagia, dia ceria (aku rasa dia ge'er+baper juga sih) ketika saat itu kamu bilang bertemu dengannya ketika matamu sedang terpejam dan khayalanmu mulai berkreasi. Yaaa benaaarr, kamu bertemu dengannya di dunia ciptaanmu (mimpi). Semenjak kamu cerita hal itu, dia pun mulai berani jujur sering bertemu denganmu di mimpi, jujur tentang perasaannya ke kamu. Kamu memang bilang juga merasakan hal yg sama dengan apa yang dia rasakan, tapi dia tidak merasakan kejujuran dari hatimu. -Kepuasan, kebahagiaan, sekaligus kesedihan sedang melanda putih kepada hitam.-
Dia tidak pernah menuntut apapun kepadamu, marah sekalipun tidak pernah. "Yang penting silaturahmi kita tetap terjaga yaa" hanya itulah kalimat yang dia harapkan darimu, hanya kalimat itulah yang slalu berkata 'siapa lo sih emang mau ngambek gak jelas sama dia?' kepadanya. -Oh putih, emosi mu mulai padam. Tapi tidak dengan kemunafikanmu.-
Hari ini, kamu menghilang. Kali ini beda, kamu benar2 menghilang tanpa meninggalkan jejak. Kamu pergi tanpa menjelaskan apapun kepada dia (yaa menurutku sih gak masalah, siapa dia coba yang mesti dapet penjelasan dari kamu). Aku tau, ini bukan salahmu, bukan salah dia juga. Tapi ini salahku yang tak pernah mau mengaku bahwa aku adalah dia. -Putih, tetap menjadi putih. Tanpa ada hitam, tanpa berharap kelabu. Putih yang menjadi warna kepalsuan.-
Tamat
YOU ARE READING
PUTIH
Historical FictionPutih. Warna yang lemah, rapuh, dan penuh dengan kekecewaan.
