"Hmph!"
Ini bukan soal pertanyaan yang sejak tadi muncul di hatinya. Bukan pula soal harus kemana ia menetapkan hatinya. Tapi ini tentang hujan rintik di luar yang mulai menderas. Perlahan tanpa kilat ataupun petir, rasa dingin ini menyambar ke balik kemeja setiap insan di bawahnya. Menelusup manis di sela pori-pori dan menyapa titik kedinginan paling parah yang pernah ada. Seharusnya semua merasakan dingin ini begitu menyengat. Tapi entah kenapa, yang dirasakan gadis satu ini bukan itu.
Satu hal, ia bahkan tak sempat berpikir untuk menolak serangan yang tiba-tiba ini. Ia terlalu terkejut.
Cukup lama, namun pria ini mulai sadar, yang dilakukannya tak ada artinya. Sedikit pun ia tak menikmatinya. Karenanya, ia melepasnya sepihak. Membiarkan gadis yang hanya sepundaknya ini merasakan nafasnya yang mulai tersengal. Bibirnya memerah. Sedikit bergetar, mungkin efek dari keterkejutannya tadi. Sesaat lama, hingga rasa nikmat yang tadi menjalarinya membuatnya sedikit kecewa. Kecewa karena apa yang dirasakannya tadi tiba-tiba berhenti.
Sedangkan pria di depannya ini menatapnya. Datar. Entah apa yang ada di pikirannya. Posisinya tetap sama. Menghimpit tubuh mungil gadis ini ke dinding. Tangan kirinya masih setia menopang tubuhnya agar tak serta merta menghimpit gadis ini lebih rapat. Kepalanya tertunduk, menyejajarkan dengan tatapan gadis ini. Melihat ekspresi si gadis yang menuntut suatu jawaban, alasan kenapa ia melakukan adegan tadi, ia menghela nafasnya ringan. Perlahan mengendurkan posisinya. Memberi ruang agar si gadis mudah mencari oksigen.
Pandangannya turun ke bawah. Tepatnya kembali ke bibir itu. Ada jejaknya di sana. Matanya menyipit, seolah meyakinkan dirinya bahwa itu memang bekas miliknya. Kini ia diganduli pertanyaan besar. Benarkah ia baru saja melakukan hal itu pada gadis ini?
"Aku..." mulutnya mulai bergetar. Kalimatnya terpaksa tersendat karena ludahnya tertelan sedikit. Mungkin ia terlalu berat untuk mengatakan ini. Tapi, wajah gadis ini terus menuntut. Mewakili bibirnya yang sepertinya tak mampu lagi untuk melontarkan kata-kata.
"Aku..." ya! Ia harus membulatkan tekad jika ingin mengakhiri ini. "Aku enggak punya rasa sama kamu."
Blarr! Kalimat lirih ini tiba-tiba menyerupai petir dahsyat. Menyambar telinga dan hati gadis ini. Memaksa matanya mendelik sempurna lantaran tak percaya dengan kalimat barusan. Hatinya memanas. Menggenang air di kedua sudut matanya. Perlahan tangannya bergetar seirama dengan bibirnya. Ada perih yang menjadi penyebab getaran dan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun di sudut hatinya.
Plak! Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi pria ini. Sekuat tenaga, seolah semua perih di hatinya terluap di sana. Tak ada kata-kata umpatan yang cocok untuk membantai pria ini. Karenanya ia memilih keluar. Membawa linangan air mata yang mulai membanjiri wajahnya.
Sementara itu, pria yang sudah membuatnya sakit hati itu mengangkat kepalanya. Lewat sudut matanya bisa dilihatnya dengan jelas. Sosok yang berdiri di balik pintu memperhatikan ia sejak tadi. Lantas ia menoleh. Memberi tatapan seadanya pada sosok itu. Ia tahu, tangan sosok itu mulai mengepal. Bergetar keras menahan sekuat tenaga amarahnya yang tiada terkira. Bahkan tatapan itu terlalu tajam untuknya. Hingga rasanya, tatapan itu hampir mampu membunuhnya saat itu juga.
***
"Selamat malam Petirs! Para Pengamuk Hati Lovers tercinta! Gimana nih kabarnya? Pastinya dan seharusnya pada baik, dong? Balik lagi nih bareng gue, Fahmi Linasta, DJ dengan suara merdu semerdu burung pipit yang lagi sakit tenggorokan di radio kampus tercinta kita, Korek Ati, Komunitas Pengorek Amukan Hati di 77, 8. Kali ini, dan tentunya untuk seterusnya, gue bakalan temenin malam senin elo semua dengan penuh suka duka. Jadi, buat elo-elo yang selalu mengutuk malam Senin karena besok itu hari Senin, bakalan tambah terpuruk lagi karena dengerin suara gue. Haha... bercanda, kok. Tenang-tenang. Gue selalu bisa bikin kalian happy di malam Senin yang agak-agak mendung bombay ini. Atau dari Petirs yang emang pengen nangis, bisa-bisa. Tinggal ambil bawang merah aja, usapin ke mata terus dengerin suara gue sekarang. Haha...
YOU ARE READING
Korek Ati
RomanceHey, siapa bilang yang dimaksud di sini adalah sebatang korek yang dijadikan orang-orang untuk menyulut api? Ini adalah nama radio kampus yang sedang diperjuangkan Sandi dan Derwan. Komunitas Pengorek Amukan Hati. Siapapun pasti tahu bagaimana terke...
