Bagian Cerita Tak Berjudul

6 0 0
                                        

Sudah pukul 07.07 WIB, tapi hujan terus saja turun, tak mau mengalah barang beberapa jam saja. Membuat semua orang enggan keluar saat cuaca buruk seperti ini. Selain karena dingin dan beresiko menggunakan kendaraan, juga mampu membuat banyak virus-virus jahat dengan cepat menempel di tubuh manusia. Contohnya saja virus influenza yang berkepanjangan. Jelas sangat menyiksa sudah begitu virus lain seperti batuk, seolah-olah mengikuti jejak induknya. Lagi-lagi dengan durasi waktu yang panjang.

Raden baru keluar kamar, dengan rambut basah dan jaket kulit tebal membungkus tubuhnya yang sedikit terasa kekar. Beberapa kali cowok tampan itu menggosok-gosok telapak tangannya. Berusaha menghangatkan tubuhnya yang masih terasa kedinginan. Padahal ini di dalam rumah.

"Selamat pagi mah." sapa Raden pada Irna yang juga sudah rapi seperti dirinya. Sedang mengaduk segelas susu coklat panas untuk Raden, sedangkan Irna sendiri lebih memilih teh hangat.

"Selamat pagi juga nak." jawab Irna yang kemudian beralih menyiapberhenti lembar roti tawar dan juga selai coklat. Lagi-lagi kesukaan Raden.

Sebulan yang lalu, mereka memulai semuanya dengan seperti ini. Sederhana saja, sarapan berdua setiap pagi, bahu membahu satu sama lain, dan masih sama seperti sebelumnya menghabiskan waktu malam dengan menonton acara tv layaknya keluarga normal.

Walau Raden sadar, semakin lama semakin terasa hambar. Tak ada Sekar yang selalu memberondongi pertanyaan konyol padanya setiap malam, tak ada Sekar penakut yang selalu berlari menggedor kamarnya karena suara kucing tetangga di tengah malam. Tak ada yang akan menanyai bagaimana sekolahnya layaknya Eyang Kakung. Semuanya terasa kaku, bahkan dengan mamahnya sekalipun. Benar-benar kaku. Tapi Raden berusaha tidak menggubris rasa sesaknya yang perlahan-perlahan menjalar ke seluruh hatinya. Entah ini benar atau tidak, Raden akan bertahan seperti ini. Seperti layaknya keluarga normal.

"Mamah nanti pulang malam. Ada design yang harus mama buat hari ini dan di kirim besok. Nanti kamu bisa susul mamah di butik, itupun kalau kamu mau."

Raden tersenyum kecil lalu mengangguk. Mengerti apa yang di katakan Irna. Kemudian melanjutkan mengunyah roti tawar selai coklatnya dengan khidmat.

Irma kembali ke kota kelahirannya setelah proses perceraiannya dengan ayah Raden tuntas. Membawa anak laki-lakinya bersama kemari. Di Jakarta sendiri, Irma memiliki rumah modern minimalis di daerah komplek perumahan Bumi Pertiwi yang dibelinya beberapa tahun yang lalu. Karena tidak nyaman jika harus menginap di hotel setiap kali Irna memboyong keluarga kecilnya menjenguk ibunya disini. Sebenarnya ia bisa saja menginap di rumah ibunya, tapi karena alasan Raden dan Sekar yang tidak betah berlama-lama di rumah sang nenek, terpaksa setiap kali mereka pergi ke Jakarta mereka selalu menyewa kamar hotel untuk beberapa hari. Hingga gagasan membeli rumah di Jakarta baru dapat terlaksana beberapa tahun yang lalu.

"Jam berapa masuk sekolahnya nak?" Irna kembali membuka percakapan dengan Raden, berharap anaknya itu berbicara banyak dengannya.

"07.45," jawab Raden singkat. Lalu meminum susu coklatnya beberapa tegukan. Menyisakan setengah gelas panjang. Membuat Irna mendesah pasrah.

Raden berubah. Anaknya yang mulai menginjak usia 17 tahun itu, dulu tidak seperti ini. Walau jarang Irna mengobrol dengan anak-anaknya karena jadwal pekerjaannya di bidang fashion selalu padat, tapi bagaimanapun perasaan seorang ibu tetap akn lebih peka. Apalagi terhadap polah tingkah anak-anaknya. Termasuk Irna pada Raden dan Sekar.

"Raden, takdir itu selalu mengejutkan. Akan selalu seperti itu. Tidak ada yang tahu rencana-Nya. Semuanya sudah di garis dengan apik sebagaimana mestinya."

Raden benci jika Irna sudah mengeluarkan kalimat panjang itu. Membuat dada Raden bergemuruh karena emosi tertahan tapi tetap terlihat tenang. Bukankah hanya ini yang bisa dilakukannya?. Dimata kedua orang tuanya, Raden hanyalah seorang anak kecil yang tidak perlu tahu menahu tentang masalah orang dewasa. Yang hanya terus dicekoki omongan-omongan tentang tadir buruk. Raden hanya bisa tersenyum dan mengangguk pada Irna, seolah-olah ia sudah mengikhlaskan semuanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 12, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RADENWhere stories live. Discover now