Awal dari Segala Cerita

44 1 0
                                        

Bertemu dengan seraut wajah...
Awal tak disangka akan punya rasa
Dengan nada tak peduli
Hati pun ingin berdali,
Diri tak punya hati
Sudah biarlah angin pergi
Pastikan nanti ia tak kembali
Dan nanti hati tak merajuk lagi.
Jangan pikirkan wajah asing yang bertamu,
Bertemu untuk berpisah hilang tanpa dijamu.

Hari seakan belum mau berhenti bermain.
Perasaan milikku sendiri seolah dikecam untuk jujur.
Paras itu datang dan datang lagi,

Esok dan esok ada takdir bertemu lalu mulai terbiasa.
Aku bisa biasa-biasa saja,
Aku bisa...
Hatiku yang tak sejalan
Dengan apa yang telah aku tekankan dalam logika
Ia memberontak agar aku percaya aku punya cinta,
Untuk dia.

SAAT ITU...

Hatiku masih resmi milik orang lain.
Yang cukup dalam aku pahami sosok dirinya,
Tidak seperti kamu...
Kamu hanya sebentar,
Iya, tak apa katakan saja aku jatuh cinta padamu sosok asing !
Asal rasaku ini bukan jatuh hati.

TAK APA.

"Eh Fahri, dicariin nih sama cewek samping gue"

Aku. Sontak mata ini terbelalak ketika suara Nino nyaring ditelingaku. Menuduh gadis yang tak tahu apa-apa, jelas hanya aku yang duduk disamping Nino waktu itu. Aku yang sedang jatuh dalam novel dipaksa untuk menoleh kearah laki-laki bernama Fahri.

Laki-laki berkulit putih, dengan tinggi badan standar, rambut hitam kelam mengenakan baju seragam yang ditutup dengan jaket berwarna abu-abu. Yups, aku melihat kearahnya menimpali dengan senyum konyol sembari menggelengkan kepala. Dan, sedikit malu tidak ada respon darinya.

Laki-laki dingin itu berhasil memecah konsentrasiku, aku mencoba menenggelamkan diri lagi pada novel dipangkuan tanganku tapi gagal. Apakah mungkin dia marah atas kejadian beberapa menit lalu? TIDAK!
Aku tidak tahu siapa dia dan tiba-tiba saja aku mentapnya dengan ekspresi konyol. Apa dia merasa aku gadis yang aneh dan kurang kerjaan menanggapi guyonan kecil secara berlebihan ? Kan niatku klarifikasi agar dia tidak salah paham.

Haduh bener-bener tuh anak, nggak bener banget kalau aku terus terbayang perawakannya. Ini pasti otakku lagi kurang asupan gizi, jadi kurang berfungsi dengan baik. Mungkin cuaca yang mendung, ditambah bosan tidak ada teman ngobrol, dan sudah letih hampir 10 jam di sekolah. Ya aku pasti lelah.

"Yeah, jangan dipikirin Bilqis. Anak tadi itu temen sekelas gue, anaknya pendiem banget makanya gue iseng ngerjain dia"

Ini teman satu nggak mikir dulu kalau mau ngerjain. Iya kali aku diseret masuk ke trap buatanya, mana aku nggak kenal sama anak itu. Nih ya kalau saja Nino bukan pacar sahabatku, buku novel yang tebelnya 5cm aku lempar kemukanya. Serah deh sakit-sakit, toh aku nggak bakalan dipenjara gara-gara menganiyaya teman dengan benda tajam, novel kan benda tumpul (haha).

Angin semilir menerbangkan dedaunan kering yang jatuh karena usia yang menua. Lapangan kecil sekolahku terlihat begitu megah ketika semua penghuninya pulang ke pangkuan keluarga. Seperti biasa aku menunggu Salwa menyelesaikan semua kegiatannya baru pulang bersama. Hari ini Salwa dan Ivory sibuk dengan latihan paduan suara untuk acara wisuda. Aku dan Nino terpaksa menunggu didepan kelas, Nino asyik dengan HPnya dan aku sudah tidak konsen lagi dengan novel yang sedang kubaca. Sungguh menyebalkan. Aku harap latihan padus segera berakhir, aku punya firasat akan segera turun hujan hari ini. Aku tidak mau basah kuyup lagi seperti kemarin. Aku suka hujan tapi aku tidak suka sakit.

Pandanganku lurus, pintu ruang kelas 11 IPA2 terbuka. Akhirnya. Satu gadis berjilbab sibuk merapikan jilbabnya disusul dengan gadis berambut lurus berjalan menuju tempatku menunggu.

Kulirik Nino yang sedari tadi asyik dengan ponselnya kini beralih melihat gadis berambut panjang, perawakan tinggi langsing disambutnya degan senyuman kecil. Itu wajah kelasihnya, Ivory. Romantisme hubungan mereka sudah tidak diragukan. Ini bukan kali pertama Nino harus menunggu dalam waktu yang cukup lama hanya untuk pulang bersama Ivory. Yang aku tahu selama Nino menunggu tidak pernah ada kata "bosan" , jangankan bosan air wajahnya pun tak pernah mengatakan "pacarku menyebalkan". Eits, jangan bilang aku iri ya? TENTU IYA.

Salwa tersenyum lebar dia melambaikan tangannya kearahku.

"Hehe maaf Qis, lama ya?"
Ujarnya sembari mengambil helm disamping kananku.

Aku pun segera berkemas, kumasukan beberapa novel yang belum kusentuh. Sebelum insiden konyol tadi aku yakin akan selesai membaca setidaknya beberapa dari mereka ternyata, aku hanya memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan lagi.

"Salwa nggak papa kan kalau kamu yang bawa sepedanya?"
Salwa tersenyum dan mendahului langkahku setelah berpamitan pada Ivory dan Nino.

Aku pun melakukan hal yang sama pada pasangan kekasih itu. Setelah berpamitan aku melambaikan tangan pada mereka. Ivory cukup puas dengan senyum dibibirnya, paras nan ayu tubuh langsing-tinggi dan berperawakan seperti ras cina itu bergelantungan manja pada lengan Nino. Aku selalu memandang iri padanya, Ivory mampu bergaul dengan sangat baik. Jadi tidak mengherankan kalau teman prianya ada dimana-mana. Ditempat LBB, kursus, dan teman hang outnya.

Sedangkan aku, hanya seorang Bilqis Al-Rummi. Yang sering ditinggal sendiran kedua orangtuaku kerja. Hanya rumah, ya benar aku menghabiskan waktuku lebih banyak di rumah. Sedikit teman karena tidak pandai bergaul. Ditambah lagi hobi yang kupunya tidak perlu melibatkan seorang teman untuk menjadi partner, karena aktivitas itu hanya membaca novel. Ya aku ingat, ada hobiku yang seharusnya melibatkan teman. 'Lihat film'. Tapi sayang, aku suka nggak konsen kalau harus melihat film ditemani seseorang. Jadi kuputuskan untuk melihat film sendiri.

Ya walau aku hanya seorang Bilqis, aku tidak terlalu payah lah. Toh aku pernah punya pacar kok. (Yeah, sorak gembira). Meskipun akhirnya diduakan dan nggak bisa move on selama 2 tahun. Tak apa Qis, kalau sekarang hanya bisa tersenyum pahit siapa tahu besok akan tersenyum manis. Iya kan ? ☺

***

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 12, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Lautan RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang