Zealous

57 3 27
                                        

Lee Sin Yae menghentikan langkahnya sejenak, mengamati perempatan jalan di sudut utara kota Seoul ini dalam diam. Musim dingin sudah tiba, dan salju sudah menutupi beberapa akses jalan. Hal itulah yang membuatnya betah berada di antara cuaca sedingin ini, demi merasakan rintik-rintik salju mendarat di penutup kepalanya. Musim dingin adalah musim di mana dia dilahirkan, musim favoritnya, di mana dia bisa melihat salju turun sampai puas.

Tak masalah jika dia harus menghabiskan waktu sepanjang hari ini sendirian dengan bermain salju, seperti yang sudah-sudah—maksudnya, kini semua orang tampak sibuk di atas normal. Terlebih, entah mengapa, teman-temannya kini juga tampak sibuk sendiri—atau malah dirinya yang sok sibuk. Jangankan pergi dan tertawa berjam-jam seperti dulu, bertemu sepuluh menit pun jarang akhir-akhir ini—yah, sekitar lima bulan terakhir. Di sisi lain, waktu yang dipunyai drumer 'itu' untuknya pun semakin menipis. Bahkan, hanya untuk mengiriminya sebuah pesan singkat pun ibaratkan sekaligus saat berada di toilet. Apalagi untuk menemuinya, terdengar sulit—dan dia tak berharap banyak untuk itu, meskipun faktanya dia kerap mengintip jadwal CNBLUE di sosial media apakah ada waktu senggang atau tidak. Tapi Sin Yae, sejauh ini, baik-baik saja—tampaknya. Meskipun tidak munafik, dia sering merasa kesepian atas semua itu. Dan dia sering merasa bahwa hubungannya—dengan Min Hyuk maupun teman-temannya—sedikit-banyak menjadi renggang.

Well, sebenarnya, dia sendiri pun juga agak menutup diri—yah, katakan saja sok sibuk dengan tugas-tugas kuliah—yang menjadi utangnya karena sering mendapat dispensasi acara-acara organisasi, ditambah kesibukan organisasi kedisiplinan yang diikutinya—padahal dia bukan termasuk orang disiplin, dan juga pikiran-pikiran kacau—yang sesungguhnya tidaklah begitu penting. Dia sering mengurung diri di apartemen dengan laptopnya, sekadar mengurusi proposal-proposal untuk organisasi kepenulisan yang juga diikutinya, mengerjakan deadline tugas yang tak bisa diundur terus menerus, atau bermain DOTA 2—sebuah game online yang dikenalnya dari Jang Han Byul. Pergi keluar hanya untuk makan, atau menghirup udara segar saat otaknya mulai bekerja tidak beres. Jadi kesimpulannya, akhir-akhir ini, mereka—Min Hyuk dan Sin Yae—kurang berkomunikasi dengan baik antara satu dengan yang lain.

Seperti yang sudah hampir lima bulan dilakukannya sendiri saat waktu makan, Sin Yae tidak pernah absen membawa laptop putih kesayangannya itu ke restoran. Kali ini pilihannya tertambat pada restoran di sudut utara kota Seoul yang memang sering sepi oleh pengunjung. Dan oleh karena itu pula, dia senang mengunjungi tempat makan ini. Meskipun makanannya tidak terlalu enak, tak masalah bagi Sin Yae, karena yang dibutuhkannya cuma suasana sepi dari tempat itu.

Saat dirasakannya hampir membeku, Sin Yae segera melanjutkan perjalanan, memasuki restoran sepi itu. Dan seperti biasa, senyum gadis pelayan di sana selalu menyapanya. Dia balas tersenyum tipis, lantas menambatkan dirinya di tempat duduk paling pojok—dekat jendela, yang sudah berkali-kali pula dipilihnya. Tanpa harus melihat lagi buku menu, Sin Yae berucap dengan lancar dan fasih, "Latte hangat dan tenderloin steak," saat gadis pelayan itu menanyai pesanannya.

Sin Yae mengeluarkan laptop putih dan headphone dari tas punggungnya, tepat sesaat setelah pelayan itu pergi untuk mengambilkan pesanannya. Dan saat itu juga, sebuah pesan masuk dari Jung Ji Hyun—mengatakan bahwa gadis itu kesepian dan memberikan undangan pesta tahun baru yang diadakan di restocafe orang tuanya nanti malam. Aku juga, gadis itu tersenyum sambil mengetikkan balasan untuk Jung eonnie-nya. Selang beberapa waktu, disusul pesan singkat dari Min Hyuk. Sin Yae melihatnya juga, namun tanggapannya agak berbeda.

Aku akan ke apartemenmu. Nanti kuhubungi lagi, selamat makan siang.

Gadis itu mengulas senyum yang nyaris tak bisa disebut senyum. Dia sempat berpikir apakah kepulangannya ke Korea ada gunanya atau tidak. Karena, baginya, semua terasa hambar, datar dan monoton. Teman, pacar, keluarga—semua terasa jauh dari jangkauannya, seolah dunia menutup diri untuknya. Well, kalau keluarga, memang seperti yang kalian tahu, ayah, ibu, dan keluarga kakaknya, tinggal di Inggris. Baiklah, dia sudah berjanji dan siap menyumpal otaknya jika terus memikirkan penyesalan. Tapi, setegar apa pun seseorang, pasti akan punya titik lemah. Titik lemah—di mana seseorang selalu merasa sendiri dan berada di bawah batas kemampuannya. Dan saat ini, Sin Yae merasa begitu. Normal, kan?

ZealousStories to obsess over. Discover now