Aku selalu membicarakan hujan. Mengagumi dan menyukai setiap jatuhnya pada bumi.
Satu-satunya alasanku tidak pernah membawa payung di musim seperti ini hanya satu,
"Karena aku tidak ingin menghindar dari apa yang kusukai."
Dan sebutlah aku, Nona Hujan.
Aku tidak pernah merasa kesepian saat hujan. Akan ada hujan yang siap merengkuhku. Ada setiap rintiknya yang seakan meluruhkan seluruh beban dan duka hatiku.
Kacamataku basah terkena rintik-rintik lucu dari langit Depok sore itu. Dan tepat di saat itulah, aku melihat sosok yang paling kuhindari selama ini.
"Eh, ikut juga?"
"I...ya."
"Nitip beliin, ya," ia menyerahkan selembar uang berwarna hijau untuk membeli tiket kereta.
Aku mengernyitkan dahi sejenak, tapi kemudian menerimanya.
Aku tidak suka kehadiran orang ini di dekatku. Setiap gerak-geriknya menggangguku. Suaranya seakan menghujamku. Dan tatapannya... tentu yang paling kuhindari.
Mendung. Bahkan langit pun tahu suasana hatiku. Kacau. Kacau sekali rasanya berada di dekat orang ini.
Tuhan, aku minta hujan saja.
Setelah memasuki peron, aku tahu Tuhan mengabulkan doaku. Hujan turun dengan intensias sedang. Aku memasang headset sambil membaca buku novel. Dan tidak jauh dari posisi dudukku... ada orang itu.
Aku melihat jam pada ponselku. Harusnya aku dapat melihat matahari terbenam yang cantik dari kereta. Tentunya, jika tak ada awan mendung yang menutupi.
Kuperhatikan lelaki itu menatap jendela kereta sambil terpaku. Entah memikirkan apa.
Halo, Tuan Senja. Selamat bertemu lagi.
YOU ARE READING
Nona Hujan dan Tuan Senja
Poetry"Apakah masih ada kesempatan kedua?" tanya Tuan Senja. Nona Hujan menunduk dalam keheningan. Menahan agar airmatanya tidak meleleh karena pertanyaan itu. Jika ini tentang maaf, tentu Nona Hujan telah memaafkannya, tanpa ingin mengungkit luka itu kem...
