Kemarin, sewaktu seluruh keluarga besar Dad datang mengunjungi rumah kami, aku sudah merasa bahwa hari itu merupakan hari sialku. Dan benar saja, semenjak hari 'itu' aku selalu menemui kesialanku. Kemarin. Kakek Richard datang bergerombol dengan para cucu cucunya yang berjumlah belasan orang(bahkan aku lupa jumlah keseluruhan dari cucu Kakek Richard) dengan alasan "aku hanya ingin mengunjungi anak ku apa itu salah?" Sebenarnya niat Kakek Richard tidak salah tetapi apa yang dia bawa merupakan kesalahan besar. Kakek Richard membawa belasan cucunya dengan kereta mini beroda besar dengan kepala naga menghiasi ujung keretanya(beserta ekor naganya juga jika kau ingin tau), serta membuat parade kecil kecilan(jika kau mengerti arti 'kecil' menurut Kakek Richard). Dan sedetik setelah Kakek Richard beserta cucu cucunya menginjakan kaki dirumah kami, Dad menghampiriku dengan perutnya yang besar serta memilin kumisnya yang panjang "Katana sayangku bisa tolong kau bersihkan serbuk serbuk yang bertebaran di depan rumah kita. Dad berjanji akan memberikanmu seloyang besar Pizza dan sebuah video game terbaru yang sangat kau inginkan." Dad tau betul kesukaanku, jadi tanpa memikirkan efek samping atau berapa lama aku bisa membersihkan serbuk warna warni yang berjatuhan di halaman rumah kami hanya dengan sebuah sapu(yang aku yakini bahwa umur sapu itu lebih tua dari Kakek Richard) aku langsung mengiyakan perintah Dad. Butuh waktu hingga sore hari untuk membersihkan serbuk sialan itu(aku tidak tau apa yang Kakek Richard terbarkan di halamanku tetapi sebuk itu seakan menempel di rumput rumputku).
Dan hari ini aku menagih upah kerjaku kepada Dad, tetapi Dad bilang aku harus membelinya sendiri jadi Dad hanya memberiku uang yang lebih dari cukup untuk membeli seloyang besar Pizza dan satu buah video game terbaru. Aku tidak masalah selagi aku mendapatkan barang barang itu.
Aku berangkat menggunakan sepeda milik Blade. Blade adalah kakak ku, ya aku akui bahwa namanya memang aneh. Percayalah tidak ada kata normal di dalam keluargaku. Dad dengan berutnya yang buncit serta kumisnya yang lebat sangat tergila gila dengan serial tv Game of Thrones, Dad bahkan mengoleksi pernak pernik dari serial tv tersebut. Setiap pagi Dad selalu membangunkanku berserta Blade dengan memegang sebuah pedang seraya berteriak "Valar Morghulis. Bangun anak anak. Kalian harus bangun sekarang, jika tidak Iron Throne akan jatuh ketangan Lannister. Dan percayalah, kau tidak akan menyukainya." Lalu aku akan menjawab "Persetan dengan hal itu. Aku tidak akan peduli." Aku memang anak yang sangat berdosa.
Berbeda denganku, Blade akan langsung bangun. Bukan untuk mandi atau turun kebawah tetapi untuk menutup pintu kelewat kencang di depan muka Dad. Lalu Dad akan berteriak "Mom, Katana dan Blade tidak ingin beranjak ke kamar mandi." Lalu Mom akan membanting pintuku kelewat kencang dan mulai menyeret kakiku agar segera pergi ke kamar mandi, sebelum aku benar benar jatuh aku segera bangun dengan mata menyipit marah kearah Dad. Mom segera pergi ke kamar Blade, dari kamarku aku bisa mendengar Blade berkata "Ampun Mom, iya aku bangun."
Aku menatap bangunan di depanku, bangunan tercinta tampat semua Pizza berasal, dari luar aku sudah mencium bau bau surga di sekitar hidungku, aku merasakan sesuatu yang basah menetes di tanganku. Ya ampun, ternyata air liurku menetes di tanganku. Aku melihat kearah sekeliling, aku khawatir jika ada yang melihatku meneteskan air liurku di luar sini. Di sekitar tempat ini aku bisa melihat dua orang anak sedang bermain sepedah, satu pasangan sedang berciuman di bawah pohon(ewh, bisakah kalian mencari tempat lain) dan dua orang lansia, yang aku perkirakan buta karna memakai kacamata hitam dan membawa tongkat untuk berjalan. Jadi aku putuskan bahwa tidak ada orang yang melihatku. Aku menghela nafas lega, seorang Katana Cyna harus selalu terlihat sempurna, seorang kandidat ratu prom harus tampil menawan. Aku segera memasuki bangunan tercinta itu. Bunyi bel tanda ada pelanggan masuk segera berdenting diatas kepalaku.
"Silahkan masuk, kami mempunyai promo menarik untuk hari ini." Seorang waiters bername tag 'Cilla Austin' menyapaku dengan senyum ramahnya. Aku membalasnya dengan senyum paling menawan yang aku punya. Aku melihat kesekeliling, para laki laki melihatku dengan tatapan memuja, bahkan seorang pria diujung sana memperhatikanku dengan serius.
YOU ARE READING
My Destiny
FantasyJangan pernah bermain main dengan nenek tua berbaju hitam panjang dengan gulungan kain diatas kepalanya, walaupun mulutnya mengeluarkan bau yang tidak sedap jangan sekali kali kau mencoba mengejeknya. - Katana Cyna Jika kau menjumpai wanita aneh ber...
