Prolog

29 12 61
                                        

Kamar bernuansa putih itu terasa terlalu lengang, dipenuhi aroma tajam antiseptik yang menggantung tipis di udara. Di sudut ruangan, monitor medis berdiri tegak dengan lampu hijau yang berkedip pelan, mengeluarkan bunyi bip... bip... bip... yang pendek dan teratur, menjadikannya satu-satunya penanda bahwa waktu masih terus bergerak.

Kazuya duduk bersandar di atas ranjang berseprai abu-abu pucat. Tubuhnya tampak tenang, nyaris tak bergerak. Di hadapannya, sebuah laptop terletak di atas meja dorong rumah sakit. Cahaya lavender dari layarnya memantul di kedua matanya, menyoroti wajah pucat yang mulai kehilangan warna.

Baris demi baris tulisan dari sebuah blog baru saja selesai ia baca.

Seperti biasa.

Perlahan, jemarinya yang dingin menyentuh layar laptop, menurunkannya hingga tertutup rapat dengan bunyi klik yang pelan. Sepasang matanya menyimpan terlalu banyak hal yang tak pernah berhasil diucapkan.

Kazuya mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca besar di sisi ruangan, merenungi apa yang baru saja dia baca.

Sore itu dipenuhi awan gelap.

Langit kota berubah sekelam jelaga, sementara hujan turun tanpa jeda, menghantam permukaan kaca dan meninggalkan jejak-jejak air yang berkejaran turun seperti air mata yang tak sempat diseka.

Melalui pantulan samar di jendela yang basah, Kazuya melihat bayangan dirinya sendiri.

Duduk sendirian.

Diapit dinding putih rumah sakit yang terasa asing, dengan deretan gedung tinggi di luar sana yang tampak kabur tertelan hujan.

Dunia tetap berjalan seperti biasa.

"Kalau kamu saja bisa bertahan..."

Jemarinya mengepal lemah di atas selimut.

"Mungkin aku juga bisa."

Di dalam kamar putih yang terasa terlalu sunyi itu, ditemani bunyi konstan dari mesin medis dan hujan yang tak kunjung reda, Kazuya kembali memilih untuk bertahan.

Setidaknya...

untuk satu hari lagi.

Will You Marry Me?Stories to obsess over. Discover now