Prolog

23 4 6
                                        

"FVCK!"

Suara teriakan seseorang menggema di dalam gedung tak terpakai yang hanya mampu memberikan cahaya redup dari bola lampu yang mulai rusak. Kemudian teriakannya disusul dengan suara tinju yang dilayangkan berkali-kali di rahang seseorang yang sudah pasti menginginkan kematiannya dipercepat. Muncullah suara teriakan yang kesakitan, melolong keras saat laki-laki yang sedang menahan kedua tangannya itu mematahkan tulang-tulang lengannya dengan sekali gerakan.

"Kau benar-benar merindukan Tuhan ya?" Tanya laki-laki berambut pirang sebahu yang sedari tadi hanya diam menikmati tontonan gratis di depannya.

Laki-laki yang menyiksanya melempar laki-laki yang sedang menunggu ajalnya agar cepat datang. Dia sudah tidak mampu menahan rasa sakit nan menyiksa disekujur tubuhnya. Ketakutannya akan laki-laki bertubuh tinggi besar dengan rambut hitam yang diikat asal, menambah rasa sakit di dadanya yang sesak. Jantungnya memacu lebih cepat saat si pirang mengeluarkan sebilah pisau yang memantulkan cahaya rembulan di sisi-sisinya.

"Sudah siap, teman kecil?"

Laki-laki yang terbujur di lantai itu meludah "Brengsek! Pergilah ke neraka! Fvck! Kakakku pasti akan membalasmu!"

Si rambut pirang tertawa mencemooh. Dia menatap laki-laki yang membantunya untuk menghajar laki-laki yang dibencinya, sambil menjulurkan sebilah pisau yang sejak tadi digenggamnya, "mau membantu?"

Laki-laki berambut hitam itu hanya menatapnya dengan tatapan ragu. Sedangkan laki-laki berambut pirang didepannya menaikkan alisnya, menunggu temannya untuk mengambil sebilah pisau itu. Namun tanpa disangka-sangka, laki-laki itu menggeleng. Dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, dia berkata, "cukup. Aku tidak ingin mengotori tanganku lebih jauh. Dan aku rasa kau berlebihan."

Si pirang mengerutkan kening sebelum tawanya meledak, bergema ke seisi gedung. Dia berdecak heran sambil memberikan senyuman miring kepada laki-laki di depannya, "kemana perginya Muller yang tidak kenal ampun? Kemana perginya sang iblis yang ditakuti semua orang? Saudaraku, sang Dewa Peperangan, dimana dia?"

Laki-laki berambut hitam itu hanya diam, menatap si pirang dengan tatapan geram. Dia ingin sekali melayangkan tinju yang akan mematahkan rahang si pirang itu dengan sekali pukul. Namun dia tidak bisa menyakitinya karena sumpah persaudaraan. Dia hanya bisa menahan emosi yang meluap-luap dengan tangannya yang terkepal rapat.

"Oh, ayolah saudaraku! Memotong nadinya dengan sebilah pisau yang setiap hari terasah ini tidak akan sulit. Bahkan tidak membutuhkan tenaga." Hasut si pirang yang sudah berdiri sangat dekat di depannya. Dia berbisik di telinga laki-laki berambut hitam itu sambil memainkan pisau ditangannya, "ini kesempatan! Kau tidak ingat kalau keparat ini telah mengkhianatimu beberapa kali? Dia bahkan telah membunuh saudara kita! Dia membunuh Hans! Keparat ini membunuh Hans, for God sake!"

"AAAARGH!" teriakan penuh emosi itu mengalirkan darah segar dari tubuh seorang laki-laki. Tubuh laki-laki itu mengejang beberapa kali dengan matanya yang membelalak lebar. Sampai darahnya terkuras dari dalam tubuhnya, nyawanya pun ikut pergi meninggalkan tubuhnya. Kini dia hanya jasad berkulit pucat dengan kondisi yang mengenaskan.

"Ini baru saudaraku." Bisik si pirang lalu tertawa kecil.

Laki-laki yang diajak bicara itu hanya diam. Dia memperhatikan tubuh yang terbujur kaku itu dengan tatapan puas sekaligus menyesal. Dia sudah bertekad untuk mengurangi kekejamannya. Dia hanya ingin menjadi lebih baik dan berusaha meninggalkan dunia kelam yang digelutinya. Dia hanya mengkhawatirkan ibunya yang pasti akan sedih melihat putra satu-satunya gemar melayangkan nyawa seseorang. Dia hanya tidak ingin menjadi laki-laki yang haus darah. Namun dunia tampak belum mengizinkannya untuk berpindah ke jalan surgawi. Mungkin dia memang ditakdirkan di neraka terdalam.

CAITDonde viven las historias. Descúbrelo ahora