Pagiku Cerahku

127 0 1
                                        

Tepat pukul 6 pagi jam beker ku berdering. "Kring.... Kring.... Kring...." suaranya memekakkan telinga.
Dengan malasnya aku bangun dari tempat tidurku. "Hoaammm... Ngantuk!" keluhku. (Maklum, ini efek bergadang nonton bola tadi malam guys!).

Masih dengan malasnya kulangkahkan kakiku ke kamar mandi dan... "Tok tok tok.. Siapa didalam?" teriakku setelah mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi. "Tito.." sahutnya dari dalam. Ya, Tito adalah adikku satu satunya dan dia sangat tepat waktu.

Dia pernah terlambat gara-gara aku mandi nya luuaaammaa... Banget! Ya begitulah wanita. Bahkan dia bilang waktu yg dihabiskan untuk menungguku mandi bisa digunakan untuk jalan jalan ke Paris, kemudian pergi shopping ke New York dan nonton konser 1D di Inggris! Omegat he's so exaggerate! Maka dari itu, Dia akan sangat marah jika aku menggunakan kamar mandi sebelum dia. Pastinya itu akan membuat dia terlambat! dasar Si Mr. On time!

Sambil menunggunya keluar dari kamar mandi. Kubaringkan badanku di sofa empuk yang berhadapan langsung dengan pintu kamar mandi. Tak terasa, 30 menit aku berbaring disana. Bahkan Tito pun sudah berangkat ke sekolah. Namun tak ada yang membangunkanku!

Dan akhirnya.... Nada dering hp ku pun membangunkanku. Aku tersentak kaget. Nama pengirim pesan itu yang membuatku ingin bergegas membukanya.
Yeah, he is Adrian. Sahabatku sekaligus kakak buatku.

From : Adrian
Ren, maaf hari ini saya tidak bisa menjemputmu. Ada sedikit masalah dirumah.

Pesan dari Adrian membuatku berfikir sejenak. Sebenarnya apa yang terjadi? Seketika aku tersadar dari pikiranku.
"Astaga... Sudah jam 6.30!!"kataku dengan mata melotot memandangi jam dinding. "Damn! Aku akan terlambat!" kataku sembari bangun dari sofa empuk nan menyenyakkan. Aku pun berjalan ke kamar mandi dengan tergesa-gesa berharap masih ada waktu untukku hingga tak terlambat ke sekolah. Aku tak mau hari pertamaku sekolah ditahun ajaran baru ini buruk gara-gara terlambat.

Aku berdandan ala kadarnya. Pokoknya terlihat segar, pikirku. Sambil menggigit roti panggang buatan Mama, Aku pun pergi ke bagasi untuk mengambil sepedaku. "Ma... Mama.."Aku berniat berpamitan pada ibuku namun, setelah ku telusuri semua bagian rumah. Dia tidak ada! "Ah mungkin Mama sedang berjalan-jalan menghirup udara segar" dugaanku.
Ku tinggalkan pesan di secarik kertas.

Mama, Irene berangkat.

Tanpa berfikir panjang segera ku kayuh sepedaku menelusuri beranekaragam pekebunan seperti perkebunan teh, kopi dan kelapa sawit. Biasanya aku berangkat ke sekolah bersama sahabatku Adrian. Tapi kali ini dia tak bisa menjemputku karena ada sedikit masalah *katanya*.

Jarak ke sekolahku lumayan dekat. Hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit. Hanya saja aku harus melewati 3 perkebunan itu yang kadang sesak saat panen tiba dan membuatku menghabiskan banyak waktu di jalan saat hendak berangkat ke sekolah.

Beruntung, kali ini tidak bertepatan dengan musim panen. Jadi aku lebih leluasa untuk melenggak lenggok di jalanan aspal tanpa harus terganggu truk-truk/troli-troli pengangkut hasil panen. Ya, jalanan di tempat tinggalku kini sudah di aspal. Jadi sepedaku bisa di andalkan meskipun medannya naik turun.

Tepat 5 menit sebelum bel sekolah berbunyi, aku sudah sampai disekolah. "Syukurlah!!" kataku terengah-engah. Aku pun segera masuk kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Beruntung kantukku bisa diajak kompromi. "Selamat pagi anak-anak, senang bisa bertemu kalian di tahun ajaran baru ini!! Bapak harap kalian bisa belajar lebih giat lagi di kelas 3 ini. Jangan sampai seperti semester lalu." kata pak guruku sebelum mengawali pelajaran.
Perkataan pak guru mengingatkanku akan peristiwa masa lalu saat kami (satu kelas) terancam tidak bisa naik kelas karena mendapat nilai yang buruk selama semester. Kompak sih .. Tapi menyedihkan!! *hiks

Lamunanku tentang masa lalu pun terbuyarkan dengan teriakan yang riuh dari teman-teman sekelasku. Bersamaan dengan riuhnya teriakan tadi, dan dari balik pintu muncullah seorang laki-laki bertubuh bak model majalah ibukota dengan paras tampan nan rupawan melelehkan hati.

Semua cewek dikelasku mulai bereaksi "wow.. Gantengnya.." "aduh, postur tubuhnya bikin klepek-klepek" dan sebagainya. Sampe-sampe cewek terkalem dikelas yang biasanya cuek dan masa bodo ikut bereaksi. Hufftt dasar cewek!

Dan juga... Cowok yang dinobatkan sebagai yang tertampan dan terkece di sekolah ikut bereaksi, ya Dia adalah Adrian, sahabatku. Entah siapa yang memberinya gelar seperti itu. Tapi sepertinya dia tidak terganggu akan hal itu. Bahkan seganteng-gantengnya dia. Dia gak pernah punya cewek. Bukannya tak ada cewek yang mau mendekat, namun dia masih enggan menjalin hubungan.

Pak guru pun mulai memperkenalkan lelaki tampan tadi "Baiklah anak-anak, perkenalkan ini teman baru kita. Dia pindahan dari sekolah Einsclear Senior High School." "wow.. Einsclear..? Sekolah yang bergengsi itu?" celoteh salah satu siswi. "Ya, itu adalah sekolah terfavorit di kota!" sahut siswi yang lain. Dan seisi kelaspun riuh membicarakan asal sekolah lelaki tampan tadi.

"Mengapa dia pindah di sekolah kita ini Pak? Bukannya sekolahnya dahulu lebih oke?" Adrian mulai bermuka masam dan seluruh penghuni kelas yang ikut penasaran pun meng iyakan."Pekerjaan orang tuanya yang mengharuskan dia kesini." jawab pak guru.

"Hahaha, apakah bapaknya juga kuli di perkebunan sawit?" ejek salah satu siswa yang terlihat tak suka akan kedatangan murid baru yang tampan itu disambut dengan tawa teman-teman satu geng nya. "Baiklah. Saya persilahkan siswa baru kita untuk memperkenalkan dirinya!" kata Pak guru yang sepertinya mulai tak suka dengan candaan yang berbau penghinaan ini.

"Oke, perkenalkan nama saya Reinaldi Assraffi Hartanto. Panggil saja saya Rein. Pindahan dari Einsclear Senior High School. Terima kasih" ucapnya dengan tetap stay cool. Semua orang terperangah dengan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

"Wow.. Suaranya .. " celetuk seorang siswi dengan mata berbinar. "Baiklah Rein, duduklah di...." kata Pak guru dengan pandangan mencari-cari. "Nah, itu di sebelah Irene!"lanjutnya. Ya, tempat duduk itu memang kosong setelah kepindahan Dennis sebulan lalu.

Dengan cool-nya ia berjalan menuju tempat duduknya. Dan lagi! Semua mata tertuju padanya. Helloowww... Apakah ini acara Asian's Top Models? Ckck

"Hai!" sapa Irene sembari menyunggingkan senyuman manisnya.
Krik...Krik...
Tak ada satupun kata terlontar dari bibir Rein. Hufttt jangankan membalas sapaan Irene. Menolehpun tidak.
"Huftt.. Cowok menyebalkan." gerutunya. Irene memonyongkan bibirnya kesal.

********

Kali ini Irene berangkat ke sekolah dengan Adrian.
"Kring... Kring..." terdengar bunyi bel sepeda milik Adrian di teras rumah. Irene pun segera berlari menghampiri Adrian. "Apa kau sudah lama menunggu?" tanyaku sembari mengikat tali sepatuku.
"Tidak, aku baru saja sampai." jawab Adrian "ehem., tumben kamu cepet yang dandan tuan putri?" lanjutnya.
"Hahaha tidak, aku sengaja bangun lebih awal agar kau tak lama menunggu." candaku. "Ah.. Itu gak masalah." tukasnya.

Dan kami pun berangkat dengan mengendarai sepeda Adrian.

Sesampainya di sekolah aku tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
Bruk... Buku-buku yang ia bawa terhempas ke lantai. Tak sempat ku lihat wajahnya. "Maaf... Aku tidak sengaja" aku segera membantu merapikan bukunya. Tak sengaja nama dari pemilik buku itu terlihat.
Dan ternyata....

Hayoo.. Kira-kira siapa ya? Pasti sudah pada tau jawabannya kan guys!!!
Ckckck, okelah..
Langsung cekidot yuks!

You Are My Little BoyHistórias para pegar e não largar. Descubra agora