prolog

27 1 5
                                        

"Hah payah", akupun menghela nafas panjang , sambil melihat keatas langit dengan tatapan kosong yang ku punya aku menggaruk-garuk rambutku yang tak gatal.
"Oi aoyama" pria berambut hitam pekat itu memanggilku dengan melambai-lambaikan tangannya padaku lalu menghampiriku "aoyama kau dipanggil ayah" tangannya pun menunjuk dengan jempolnya ke belakang
"Ya aku tahu kok , memangnya si kakek tua itu perlu apa?" Red pun menggelengkan kepalanya
"Dasar kau red tak berguna!"
Aku berjalan dengan sedikit membungkuk ,dan langkahku yang malas membuat langkah ku lambat, namun Red mengikutiku dengan senyuman yang kubenci.
" oy bodoh! Kenapa kau mengikutiku!?" tatapanku penuh amarah terhadapnya.
"Haha.... tenanglah kita kan saudara wajarkan aku mengikutimu, sebagai saudara aku harus tahu apa yang ayah ingin bicarakan" Red pun tersenyum kembali seolah-olah tak ada masalah apa-apa antara aku denganya.
"Justru itu! Aku tidak menyukai saudara 'haram sepertimu' Red!"
Aku mengraung kebencian padanya dengan tatapan kebencianku.
"Haha... tenang... tenanglah aoyama jangan marah seperti layaknya anak kecil dong ... aku janji tidak akan mengganggumu kok".

🍂🍂🍂

Tangga-tangga yang membuatku kecapean untuk menaikinya, menaiki seratus dua puluh anak tangga yang setiap empat puluh tangga nya membuatku sesak nafas dan harus terdiam lalu istirahat karena kelelahan. Pemandangan sekitar atas yang indah ini menghiasi sebagian besar hutan amazon, mungkin ini agak sedikit aneh karena kebenarannya semua manusia tak mengetahui di hutan amazon ada sekumpulan serigala atau bangsa kami sering bilang 'fenris'. Kami bangsa fenris harus disembunyikan ke beradaan kami jika kami terlibat oleh bangsa manusia, kami mau tidak mau harus membunuhnya, sebenarnya aku benci dengan cara itu.
" yap hah.... kita sampai" kataku sambil mengambil nafas dalam-dalam, nafasku terengah-engah dan membungkuk.
" Aoyama ayo semangat!" aku melihat ke arah Red dengan expresi kesal padahal yang ku inginkan adalah gadis imut yang medukung ku bukan sesosok anak laki-laki yang ku benci.
"Bodoh! aku tak butuh semangat darimu!" aku pun masuk dengan marahnya.

🍂🍂🍂

Aku masuk dan menginjak karpet merah di lantai kerajaan, aku tidak mengira bahwa bangsa 'fenris' akan berkumpul di dalam kerajaan, para fenris itu melihat ke arahku dan Red dengan penuh harapan, aku menatap mereka dengan kebingungan lalu mengerutkan alisku.Seorang wanita pun menghampiriku dengan rambutnya yang hitam pekat dan matanya yang berwarna merah darah.
"Aoyama masuklah cepat ayah memanggilmu" wanita itu mengelus-elus pipiku, Red pun mendekat kearah wanita itu
"Ibu? dimana ayah?"
"Ayah kalian terbaring sakit di kasurnya" dengan senyumannya yang tulus dan lembut.
"Cih" , aku pun melepaskan elusan itu lalu bejalan menuju kamar ayah, "Aoyama!.....apa kau tahu sopan santun!? terhadap ibu?".
Expresi Red pun berubah menjadi garanf terhadapku, aku hanya mengabaikannya dan pergi ke kamar ayah .
Yah dipikir-pikir untuk apa aku memanggilnya 'Ibu'? lagi pula ia bukan 'ibuku'.

🍂🍂🍂

Ruangan ini terasa sesak bagiku melihat 'kakek tua' itu terkapar, mungkin aku membencinya tapi disisi lain dia pun juga ayahku, tatapanku yang bisa kutunjukan padanya hanyalah tatapan kosong , tanpa rasa kasih sayang sedikit pun yang tertera di mataku.
"Aoyama..." kakek tua itu memanggilku dengan suaranya yang serak parau.
"Mendekatlah" aku mendekat kepadanya, telingaku pun di bisikan olehnya kata-kata yang tak ingin kudengar darinya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 19, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

AoyamaWhere stories live. Discover now