Entahlah.

16 1 0
                                        

Aku hanya seorang pelajar tingkat akhir yang menemukan cintanya dalam diri seorang laki-laki yang aku tahu tak akan pernah mencintaiku.
Sebab planet ini terlalu besar untuk menemukanku di hatimu.

Pagi itu, duniaku seperti pecahan kembang api yang cahayanya berpendar ke seluruh tubuh menjadi jutaan kristal.
Kristal itu berdetak, jadi sajak.

Kau tahu, alangkah menyakitkan menuliskan kata-kata yang disertai air mata.
Aku seringkali belajar berdusta bahwa aku tak pernah mencintaimu.
Tapi semakin sering aku berdusta, kejujuran menampakkan dirinya melalui air mata.

Ada puluhan ineks, tali gantungan, bahkan silet didepanku.
Tapi aku lebih memilih digilas satu kontainer kenanganmu dan bunuh diri dengan jutaan diksi.

Engkau serupa opium di dalam tubuh, doping paling kuat bagi ingatanku.
Dan senyummu.. senyummu adalah empat sehat lima sempurna.
Aku mengingatmu dengan riang, menceritakanmu seperti gerimis, lalu menangis dalam senyum.

Abstrak?Where stories live. Discover now