01. Malapetaka di Laut

225 8 1
                                        

Guntur mendesah, melihat tiga orang berjas merah mendekat dengan gaya sok ke arahnya. Ia tahu apa yang mereka akan katakan kepadanya, namun ia tak bergeser seinci pun dan menanti mereka sampai tiba di sampingnya.

"Hei, menyingkir kau, indo."

Pemuda yang mengucapkan itu usia dan tingginya nyaris sama dengan Guntur. Bila mereka berdiri tegak berhadapan, hidung mereka sejajar. Namun sementara mata Guntur hitam dan rambutnya cokelat, pemuda itu berambut pirang dan bermata biru pucat. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik berbagai ukuran dan nuansa warna cokelat.

Guntur berusaha menegakkan tubuhnya agar terlihat lebih menjulang dan menakutkan. Ia saling melotot tanpa berkata-kata dengan pemuda pirang itu beberapa lama, namun akhirnya ia mengalah. Si pirang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda gentar – yah, dia punya dua teman yang meski bertubuh lebih pendek, namun lebih berotot darinya. Guntur minggir ke samping, dan ketiga pemuda berjas merah itu lewat dengan lagak penuh kemenangan.

Terdengar Klaas terkikik. Pemuda itu sedang duduk tak jauh dari situ sambil membersihkan laras senapannya.

"Orang-orang Inggris," gerutu Guntur sambil mendudukkan diri di samping sahabatnya. "Lagaknya habis menang judi saja. Padahal jalannya juga masih luas, buat apa pula pelotot-pelototan denganku hanya agar bisa lewat."

"Begitulah mereka," Klaas berkata riang, "Merasa lebih jago dari kita hanya karena mereka sudah berlayar lebih jauh dari kita."

Guntur diam saja, namun ia tidak bisa berpikir sepositif Klaas. Betul, tentunya pemuda-pemuda berkulit pucat itu merasa lebih berpengalaman, karena mereka telah berlayar mengitari separuh dunia, jauh-jauh dari negeri mereka ke Hindia Timur di seberang samudera luas. Namun Guntur tahu sikap sok mereka juga bersumber dari kesombongan mereka sebagai orang Inggris. Orang-orang Belanda hanyalah warga negara jajahan; dan orang-orang separuh Belanda-separuh Hindia seperti Guntur dan Klaas dianggap lebih rendah lagi.

Dulu keadaannya tidak begitu. Tadinya Belanda berhasil menyingkirkan pengaruh Spanyol dan Portugis di sebagian besar wilayah Hindia Timur, sehingga menjadi bangsa Eropa yang mendominasi kepulauan raksasa tersebut. Namun kemudian datang Britania Raya. Didukung oleh angkatan bersenjata yang tangguh dan penyihir-penyihir yang berkekuatan dahsyat, mereka menggemparkan dunia dengan secepat kilat menyapu dan merebut daerah demi daerah, baik di Eropa maupun di benua-benua jauh semenjak abad ke-18. Seandainya Rusia, Cina, Prancis, dan Turki tidak dengan cepat menggalang para penyihir dan alkemis mereka sendiri, pasti Britania sudah menjadi penguasa tunggal dunia.

Salah satu negara yang berhasil Britania libas adalah Belanda, yang sama sekali tak punya pertahanan terhadap sihir. Kota demi kota jatuh bagai digulung air bah, dan bersama Belanda, jatuh pula koloni-koloni mereka di seberang lautan. Hindia Timur Belanda tiba-tiba menjadi Hindia Timur Britania.

Dan mulailah pemuda-pemuda berkulit pucat itu berdatangan, dikirim untuk berjaga-jaga di negeri panas dan lembap berselubung rimba raya yang sebelumnya terpikirkan oleh mereka pun tidak. Banyak di antara mereka mati sebelum penuh melaksanakan tugas, dimangsa oleh penyakit-penyakit asing yang tak dikenali sistem kekebalan tubuh mereka. Bahkan banyak di antara mereka yang tak pernah mencapai pulau-pulau tropis yang seharusnya menjadi tempat mereka mengabdi beberapa tahun ke depan: mereka tewas di tengah perjalanan, dan laut menjadi makam abadi mereka.

Sementara yang bertahan hidup dan tiba di Hindia Timur, rata-rata menjadi seperti si pirang dan teman-temannya: menempatkan diri di atas prajurit-prajurit berdarah Belanda, pribumi, maupun yang campuran keduanya. Dan di atas kapal-kapal seperti Stille Zee, peleton Inggris ditempatkan bersama-sama peleton Hindia Timur—belanga bergolak di mana tidak hanya bahu dan bahu yang bergesekan, melainkan juga ras.

The Age of MisruleStories to obsess over. Discover now