Seperti biasa, setiap pagi Ferry keluar dari kamar dengan seragam yang sangat bersih dan rapih, namun kancing bajunya yang atas tak terpasang dan agak sedikit terbuka, ia tetap terlihat tampan. Meskipun begitu Ferry adalah satu-satunya keluarga yang mungkin tak pernah dianggap disini, karena ada atau tidaknya di rumah itu, mereka tak pernah memperdulikannya, meski begitu, Ferry tetap mencoba untuk menunjukkan rasa hormatnya pada orang tua nya.
"Selamat pagi Pah, Mah." Salamnya seraya duduk di meja makan.
"Pagi Pah, Mah." Sapa Lheynel, Kakak yang selalu dibanggakan Orang tua mereka.
"Hai sayang, selamat pagi juga. Ayo cepat duduk, kita sarapan dulu sebelum kamu berangkat." Jawab Mamah dengan penuh perhatian.
"Huft" Ferry menghela nafas pendek dan pelan, kemudian bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkan rumah. Dengan senyum tipis Ferry mencoba menguatkan diri sendiri. Gak apa-apa.. tenang Fer, bukannya itu udah biasa ya terjadi dikehidupan lo? bodoh nya lo Fer datang ke meja makan dengan harapan bisa makan bareng orang tua lo, sedangkan mereka sedikitpun gak pernah anggap lo ada. Ujarnya dalam hati, mencoba menenangkan diri sendiri dan pergi kesekolah.
"Oy, Bro! ngapain lo pagi-pagi udah bengong. ati-ati lo, gua kasih tau ayam tetangga gua kemaren mati gegara nyebrang sambil bengong. hehehe" Adel, teman sekelasnya menghampiri Ferry dan duduk disampingnya.
Ferry tersenyum tipis "Gue sampe apal banget Del kalo lo yang dateng tanpa harus liat muka lo. apal banget gue sama suara lo. hahaha.."
"Ah, lo mah selalu gitu dah."
"Yah, abisnya gima dong Del, logat suara lo itu betawi banget, makanya gue hafal kalo itu tanpa harus noleh kanan atau kiri." Kata Ferry mencoba membela dirinya dengan senyuman khasnya.
"Aduh Per, bisa kagak sih lo kalo mau bela diri itu kagak pake mesem-mesem senyum kayak gitu?"
Ferry mengernyitkan dahinya. "Kenapa emangnya?"
"Kagak nahan gua liat senyum lo itu."
Seketika tawa Ferry lepas "Hahahaha.. Bisa aja lo Del ngiburnya, tengs ya."
"Widiiihh.. Rame amat nih pagi-pagi, ada apa deh?" Fikri dan Rafi, teman sekelas Ferry datang menghampiri mereka.
"Tau nih, heboh banget lo berdua, masih pagi juga" Sambung Noval yang datang belakangan.
"Apa dah lo pada, kepo amat mau tau apa yang gua sama Peri obrolin."
Noval nerjalan mendekati Adel. "Del, parah banget deh lo nama Ferry udah bagus lo ganti jadi Peri.. emangnya kapal"
Adel melirik Noval sebal. "Udah deh lo kagak usah ngeledek gua."
"Hehehe, yah bukannya ngeledek cantik... tapi gue ngasih tau ke lo, kan kasian emak bapaknya si Ferry susah payah nyari nama buat dia, tapi lo ganti namanya."
"Ciye.. Modusnya mulai si Noval" Ledek temannya yang lain.
"Udah-udah, guru udah dateng tuh, lanjut nanti lagi" Potong Ferry.
#####
"Mas Ferry kok baru pulang jam segini?" Tanya mbok Ijah yang sudahberkerja di keluarga Ferry sejak Lheynel, kakaknya dilahirkan di dunia.
Ferry tersenyum ramah. "Iya nih mbok, lumayan capek juga."
"Mau makan siang dulu gak Mas?"
"Gak usah mbok, Ferry udah makan tadi disekolah."
"Baik Mas kalau begitu. Hhmm... Anu Mas, apa boleh mbok tanya? Tapi sebelumnya mohon maaf sangat Mas kalau mbok kurang ajar.."
"Kenapa mbok?"
"Kalau mbok perhatiin, Mas Ferry kenapa gak pernah makan bareng sama Tuan, Nyonya dan Mas Lheynel sih belakangan ini? Mas Ferry juga gak pernah makan malem, nanti kalau sakit gimana?"
Sejenak Ferry terdiam mendengar pertanyaan dari bibi yang mengurusnya sejak ia kecil itu, namun tanpa sadar ia tersenyum. "Makasih ya mbok, udah perhatiin Ferry. Ferry gak apa-apa kok, lagi gak mau makan di meja makan aja mbok. Ferry masuk dulu ya mbok."
"Iya Mas, Silahkan. Maaf ya Mas Ferry, kalau mbok nanya nya aneh-aneh."
Ferry tersenyum tipis kemudian beranjak kekamarnya. ketika ia membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya ia melihat kamarnya yang hancur berantakan dan tidak tertata rapih seperti sebelumnya. Dengan wajah terkejut Ferry masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Diperhatikannya dengan seksama kamarnya yang sudah tidak tertata seperti sebelumnya itu.
Ferry terduduk di atas kasurnya. "Siapa yang berantakin kamar gue?" Tanyanya pada diri sendiri dengan suara tertahan karena kesal. Kemudian matanya tertuju pada secarik kertas yang berada di atas meja belajarnya. Masih dengan perasaan kesalnya ia bangkit dari duduknya dan mengambil kertas itu, dan wajahnya semakin terkejut ketika membaca tulisan yang ada di ketas itu yang bertuliskan: "ANGGAP INI SEBAGAI PEMBUKAAN DARI GUE."
YOU ARE READING
Nothin' Without You
RomanceKetika Ferry mencoba untuk mendapatkan kebahagiannya di rumah dengan berbagai cobaan dan rintangan, Bramantio sang Papah justru tidak menginginkan itu semua dan lebih mementingkan anak sulungnya Lheynel, meskipun Lheynel sendiri pun ingin memberikan...
