1st

33 5 0
                                        

Author:

Rintik hujan masih membasahi kawasan sekolah Raihan, lelaki berumur 18 tahun itu tampak gelisah dan was-was.

"Lo ngapain mondar-mandir sih, Han?"

"Gue harus jemput nyokap di bandara nih!" ia menaruh ponsel di saku celananya. "Gue nggak bawa mobil, kasian lah nyokap gue kena hujan kalau gue jemput dia pakai motor," tambahnya.

Teman di sebelahnya hanya menggeleng-geleng, itu Tyo, sahabat Raihan sejak kelas 2 SMP, bertemu lagi di SMA, rasanya seperti bertemu belahan jiwa yang pernah hilang tertelan bumi.

"Bareng gue aja gimana? Sekalian ngantar si Lyssa ke tempat les biolanya," ajak Tyo. Raihan spontan menoleh ke arah temannya itu saat mendengar nama Lyssa.

"Udah lo nggak perlu khawatir, gue kan temen lo, Han. Keburu hujan, cepetan deh!" perintah si Tyo seraya kembali masuk kelas untuk mengambil tasnya.

Raihan masih terpaku di tempat sebelum akhirnya Tyo memanggil dirinya untuk segera berkemas.


"Eh tunggu Yo, kan nanti ada nyokap gue, masak dia ngikut kita? Penuh dong!" cetus Raihan. Tyo menggandeng tangan Alyssa dan mengiringnya untuk segera masuk ke dalam mobil sementara Raihan masih berjalan cukup jauh di belakang mereka.

"Nyokap lo segeda apa sih? Mobil gue luas, tenang aja!" seru Tyo sembari membukakan pintu untuk Lyssa kekasihnya.

"Bukan begitu, tapi kan jadi nggak enak kalau ada nyokap gue,"

"Kita antar si Lyssa dulu saja, baru jemput nyokap lo, gimana?"

Raihan mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju dengan keputusan Tyo.


Jalanan yang basah akan air hujan menjadi cukup licin, Tyo yang biasanya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menjadi sangat lambat demi keselamatan.
Alyssa duduk di sebelahnya sedangkan Raihan duduk di belakang, berdiam diri memainkan jari jemarinya. Pandangannya hanya kepada jalanan, tidak berkata apapun.

"Diam doang Han, kenapa sih?" tanya Tyo membuyarkan lamunan singkat Raihan.

"Heh? Nggak papa kok, gue ngantuk." jawabnya singkat.


Raihan:

Iya, aku ngantuk setiap kali melihat Tyo dan Alyssa tertawa bersama-sama, seakan aku ini tidak ada jika di dekat mereka. Kadang aku iri dengan si Hitam satu ini, bagaimana bisa dirinya menjadi orang pertama yang selalu berhasil membuat Malaikat Tanpa Sayang-ku ini tertawa lepas seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Pertanyaannya adalah kapan giliran ku, ya? Kapan aku bisa melakukan itu untuk Alyssa Kamri ini. Kalau ingin jawaban ya, tunggu saja seribu tahun lagi.

Perasaan suka yang timbul pada diri ku terhadap Alyssa bermula saat Tyo mengajak ku ke acara festival sore yang diadakan di Bandung. Festival yang diadakan 7 bulan lalu. Festival ini berlangsung selama 2 hari, dan kami menghadiri festival hari ke-2. Kami berdua berangkat sehari sebelum hari itu.

Saat kami berdua sudah berada di tengah-tengah keramaian, Tyo dengan lantang memanggil nama seseorang, awalnya aku tidak menggubris, aku biarkan saja dia melakukan apa yang dirinya mau, aku tetap serius dengan kaos-kaos keren yang terjual di salah satu stan festival tersebut.

Saat sedang serius-serius nya memilih, Tyo tiba-tiba hadir dan membawa seseorang perempuan yang membuat ku lupa dengan deretan kaos tadi, perempuan yang seketika membuat rasa dahaga ku hilang begitu saja. Tyo memperkenalkan ku kepadanya. Suara lembut yang keluar dari mulutnya menusuk gendang telingaku, seakan dunia ini berubah menjadi milik ku dan miliknya.

WAITINGStories to obsess over. Discover now