Aku duduk di samping sepupuku dan pacarnya. Mereka telah menjalin hubungan selama 6 tahun. Namun belum ada pembicaraan soal langkah selanjutnya. Dan itu membuat Giegie sedikit cemas mengingat usianya yang menginjak 25 tahun.
Mereka terlihat baik-baik saja meski terkadang mereka akan terlibat pertengkaran yang panjang bila sudah membahas soal pernikahan. Dan itu akan membuat Anto berusaha mati-matian untuk mendapatkan hati dan kepercayaan Giegie lagi.
Dering handphone nyaring terdengar dari dalam tas Giegie. Sebelum mengangkatnya Giegie memastikan Anto sudah benar-benar pergi dengan melongokkan kepalanya lagi keluar pintu.
"Hallo, iya Ho. Kenapa?"
Aku hanya mendengarkan percakapannya dengan seseorang yang tak ku ketahui siapa gerangan.
"Kamu mau ke sini? Yaudah tapi jangan lupa bawain nasgor ya! Aku laper, Ibuk tadi gak masak." gerutunya. "Oke aku tunggu kamu sekarang. Dahh." Katanya mengakhiri percakapan.
"Siapa Gie?"
"Emmmss... dia Endra. Emmms... tapi jangan ngomong sama Anto ya, please!" Rengeknya.
"Emangnya kenapa?"
"Jujur Nett aku lagi galau. Banyangkan aku dah pacaran sama Anto selama enam tahun. Tapi setiap kali aku membicarakan pernikahan Anto selalu bilang belum siap. Dia ingin memiliki sebuah rumah dulu lah, ingin menabung untuk biaya sekolah anak kami nanti lah, blablabla... aku pikir itu hanya alasan klasiknya aja."
"Tapi Gie, apa kamu gak takut kalo nanti ketahuan? Apa kamu sudah memikirkan semuanya baik-baik?"
Giegie membuang napas berat. Wajahnya menunjukkan kesedihan. Dia menggeleng dan menyelorotkan badannya di sofa.
"Tentu saja aku tak bisa memikirkan semuanya dengan baik. Aku hanya....," ia menarik nafas dalam-dalam. "Ingin mencari pelarian dan ketenanganku sejenak."
"Apakah dengan begini kamu bisa menyelesaikan masalahmu?"
"Tidak tapi setidaknya aku tau bahwa ada orang yang lebih siap menerima aku dibandingkan dia."
"What? Gie selama ini Anto dah menerima kamu apa adanya. Bahkan dia rela melalukan apapun demi kamu. Dan menurut aku dia belum menikahi kamu bukan karena dia tak ingin menikahimu. Tapi dia ingin mempersiapkan yang terbaik buat kamu, buat anak kalian kedepan," aku menggelengkan kepalaku tak percaya dengan pola pikir Giegie.
"Shut up. Aku ga pengen denger lagi. Kamu gak ada di posisi aku Nett, entar kalo kamu ada di posisi aku, pasti kamu juga akan sedih."
Dia meninggalkan ku di ruang tamu dan bergegas membanting pintu kamarnya.
*******
Aku menghadiri ulang tahun Bagas putra pertama Giegie dan Anto yang ke 4. Ya setelah insiden perselingkuhan Giegie dan Endra ternongkar dan sempat membuat hubungan mereka mengambang, akhirnya Anto melamar Giegie.
Namun setelah Anto meminta restu kepada kedua orang tuanya dan orang tua Giegie tentunya, Giegie malah semakin gelisah. Dia ragu apakah pilihannya tepat untuk segera menikah. Tapi akhirnya dia benar-benar membulatkan tekatnya untuk menjadi nyonya Dirga Anto 6 tahun silam.
Aku menggendong Bagas dan mengajaknya bermain di teras depan, sementara Giegie dan ibunya menyiapkan kue ultah dan snack yang akan dibagikan nanti. Bagas tampak ceria dan menggemaskan dengan pakaian. Beberapa kali ia berusaha turun dari teras. Dan berkali-kali pula aku harus menggendongnya menjauh dari pinggir teras.
Lelah harus mondar-mandir akhirnya aku berinisiatif mengeluarkan gadgetku dan mencarikannya film karton. Dan iapun duduk tenang di pangkuan ku, berusaha mengerti apa yang dilakukan Si Tokoh dalam cerita.
"Emms dah cocok ni Mbak Nett. Jadi kapan nyusul?"
Aku menengok orang yang tiba-tiba duduk di sampingku.
"Ahh.... Ibuk bisa aja," Kataku seraya mencium tangan Ibunda Mas Anto.
"Iya Ibuk ga boong kok, dah pantes jadi ibu loh. Calonnya yang kemarin kamu ajak ke sini kan?" Godanya.
"Iya Buk, insyallah. Loh Ibuk ke sini dengan siapa?"
"Tadi Mas Anto jembut Ibuk, Bapak gak bisa hadir. Masih dinas di Jogja."
"Ohhh.... hey Bagas salim dulu sama Oma!" Kataku seraya mengulurkan tangan Bagas ke oma nya.
Si empunya tangan mencium kemudian ia kembali menatap layar gadget ku.
"Serius banget Dedek kalo dah nonton kartun," cubit oma nya di pipi Bagas.
Anak-anak kecil dengan baju yang lucu-lucu ditemani oleh ibu mereka mulai berdatangan. Akupun bergegas menyambut mereka dan mempersilahkan mereka masuk.
Bagas tampak antusias sekali melihat banyaknya anak kecil sepantaran nya.
YOU ARE READING
MENIKAH
RandomSetiap wanita diatas usia 24 tahun pasti akan mulai khawatir dengan status single mereka. Begitu juga denganku. Sudah beberapa kali aku mencoba menjalani hubungan dengan beberapa orang yang memiliki karakter berbeda. Bahkan aku sempat menjalani hunu...
