Part 2

785 75 7

Di sebuah lapangan, seorang guru berdiri di mimbar untuk membacakan hasil lomba kaligrafi yang rutin diadakan setiap panitia sedang mood untuk mengadakannya.

"Anak-anak saya yang cakep, tujuan diadakannya lomba kaligrafi ini adalah untuk memberi ruang kreatif kepada murid-murid yang kerap melakukan vandalisme di lingkungan madrasah. Semoga dengan adanya lomba ini, tidak ada lagi siswa yang coret-coret di di dinding WC. Apalagi sampai nyebarin nomor HP cewek cantik butuh teman curhat, tapi ketika dihubungi malah nyambung ke nomor badut ultah," ucap sang guru sambil membaca kertas pengumuman setengah curhat.

"Ta, Insya Allah, lo menang deh," kata Karmen yakin. Membuat Cinta kegeeran dan cengengesan tak berkesudahan.

"Dan, dewan juri yang diketuai oleh Taufik Bagaskoro alias saya sendiri telah memutuskan bahwa pemenangnya adalah..." Pak Taufik sengaja berhenti sejenak untuk efek dramatis.

Semua murid hening.

Di saat hening tersebut, Milly mengacungkan tangan seraya berkata tegas, "I volunteer!"

Semua diam memandang Milly. Pak Taufik buru-buru memecahkan keheningan dengan menyahut, "Ini bukan pengumuman Hunger Games, Milly."

Milly celingukan. Teman-temannya hanya menanggapi dengan gelengan kepala heran.

"Dan pemenangnya adalah..." lanjut Pak Taufik.

Hampir semua murid mengelukan nama Cinta. Cinta makin kegeeran dan menutup wajah pakai tangannya. "Ah, malu!" ucap Cinta menirukan Fatin ketika audisi X-Factor.

"Pemenangnya adalah Rangga!" seru Pak Taufik.

Semua orang tak percaya dan protes. Hanya Milly yang tepuk tangan kencang di tengah keheningan. Semua mata kini tertuju pada Milly. Milly bingung dan mulai memelankan tepukan tangannya. Dikepung sorotan mata satu lapangan, Milly makin canggung dan perlahan-lahan menghentikan tepuk tangannya. Lalu Milly garuk-garuk kepala. "Ada apa ya?" tanyanya sok polos.

Sementara itu, Rangga sang pemenang sedang itikaf di mesjid. Pak Wardiman sang marbot mesjid buru-buru memberi kabar kemenangan tersebut kepada Rangga yang masih asyik tiduran di teras mesjid.

"Ngga, Ngga, ente dicari Pak Taufik. Mau dikasih hadiah, karena kaligrafi ente menang, Ga," warta Pak Wardiman.

"Ane kagak pernah ikutan lomba," elak Rangga sok cuek.

Balik lagi ke lapangan upacara. Semua orang menanti kemunculan batang leher Rangga.

"Mana nih yang namanya Rangga? Kalau nggak ada yang ngaku, hadiahnya saya kantongin lagi nih," ancam Pak Taufik. "Lumayan, voucher makan di bakmi kantin."

Setelah lama ditunggu, biji jakun Rangga tidak kelihatan juga.

Kembali ke mesjid. Rangga masih tiduran. Pak Wardiman terus membujuk.

"Itu, lho, kaligrafi yang ente tempel di punggung ane. Itu kan daripada dibuang, pamali, ane kirimin aja ke panitia. Eh, kun fayakun, menang, Ga!" heboh Pak Wardiman.

"Alah!" tampik Rangga.

"He, bener ini!" ngotot Pak Wardiman.

Rangga hanya mengibaskan tangan, dan kembali tidur di ubin mesjid yang adem.

"Hadiahnya voucher makan di bakmi kantin lho, Ga!" desak Pak Wardiman mengeluarkan jurus pamungkas.

Rangga langsung semangat bangun dan berkata lantang, "Ya, udah, wakilin ane ambilin vouchernya. Nanti ane kasih satu pangsitnya buat Pak Wardiman.

AADC SyariahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang