Gemi
Oh Tuhan, lapar sekali perutku ini. Tidak ada makanan lagi di lemari es. Cemilanku sudah habis dari lusa kemarin. Di tambah lagi aku tidak bisa memasak. Tapi lumayan, di lemari es ada beberapa sayuran. Mungkin aku bisa membuat salad mayonise, uh aku menyukai makanan itu. Sayang sekali mood-ku sedang tidak baik sekarang.
Aha! Aku ingin ke Bakery dan makan banyak roti disana. Tak peduli dengan tubuhku yang mulai gemuk. Aku bisa diet dengan latihan memukul banyak orang.
Aku mengecek uangku dilaci lemari. Cukup untuk membeli beberapa roti rasa stroberi. Aku mengambil lima lembar uang berjumlah 1 dollar dilaci lemari bajuku.
Aku berjalan santai menuju ruang keluarga. Lagi-lagi hanya ada Ibu yang sedang menonton film favoritnya.
"Dimana ayah?" tanyaku berhenti berjalan saat di tangga.
Ibu mengalihkan pandangannya padaku yang ada di belakangnya, ruang keluarga kami memang membelakangi tangga. Ibu menghela nafas panjang.
"Ayahmu sedang ke Bakery. Membeli roti untuk cemilan kita. Bukankah kau selalu minta dibelikan roti stroberi?" kata Ibu dengan jeda disetiap kalimatnya.
Aku membuang nafas kasar lalu kembali berjalan menghampiri Ibu. Aku duduk di sebelahnya dan menatapnya sebentar.
Kenapa firasatku jadi tidak enak? Tumben sekali aku mengkhawatirkan ayahku. Dia memang sering berpergian di malam hari, dan aku tidak pernah peduli sama sekali.
Sekarang, aku merasa aku harus menjaga ayahku. Aku merasa waktuku bersama ayahku tidak akan lama lagi. Aku merasa ayahku akan pergi meninggalkanku, tapi sekarang beda. Meninggalkanku selamanya. Ah sudahlah! Aku tidak boleh memikirkan hal yang tidak mungkin.
Ayahku tidak mungkin meninggalkanku!
"Aku baru saja mau ke Bakery. Yasudahlah, aku akan menyusul ayah. Dah Ibu!" ijinku lalu mencium pipi Ibuku.
--
Mungkin ayah pergi ke Bakery langganan kami. Tempatnya cukup jauh dari rumah, jadi harus naik taksi.
Aku memberhentikan taksi dan naik. Aku memberi tahu tujuanku. Selama di mobil aku hanya melihat jalanan.
Gedung-gedung di malam hari terlihat indah. Lampu-lampu dari kamar hotel seperti bintang dilangit. Dan sungai yang lebar dengan kapal-kapal pariwisata di malam hari. Ya, kita melewati jembatan.
Oh aku mengkhawatirkan ayahku sekarang. Jaga dia, Tuhan.
Akhirnya sebentar lagi sampai, tinggal satu belokan ke kanan. Sopir taksi memutar setir ke kanan, dan tepat berhenti di depan toko perhiasan, sebelah Bakery. Ah! Aku melihat ayahku sedang mengobrol dengan penjual buah di depan Bakery langgananku.
Saat aku hendak membuka pintu taksi, aku lihat dari belakang ada orang sedang berlari dan diikuti oleh dua orang laki-laki seumuranku. Aku menutup kembali pintunya agar tidak menghalangi mereka berlari.
Namun, dua pemuda itu berhenti disamping taksi yang ku naiki dan salah satu dari mereka mengeluarkan pistol.
Pistol?
Aku memperhatikan mereka dari dalam mobil. Dan...
Dorr...
Pistol itu menembak seseorang. Semua orang yang asalnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing menjadi mengalihkan perhatian pada orang yang ditembak pemuda berambut keriting itu.
Karena aku penasaran, aku keluar dari taksi setelah membayar argonya. Aku mendekati kerumunan orang-orang yang mengelilingi orang yang ditembak pemuda itu.
"Permisi," kataku berulang kali. Dan mereka memberiku jalan.
Astaga! Aku langsung menangis saat melihat siapa yang tertembak. Firasatku benar. Kenapa harus dia?
"Ini ayahku!" kataku lemas memberi tahu mereka yang menyaksikan ayahku yang tergeletak di depan Bakery. Dia memegang satu kantong plastik yang ku yakini isinya adalah roti stroberi kesukaanku. Tapi kantong plastik itu sudah di lumuri darah.
Tepat di bagian dada pemuda itu menembakkan pelurunya kepada ayahku. Pemuda itu?
"Tolong jaga ayahku. Aku ada urusan," ucapku kepada orang-orang di sekitarku. Aku mengusap air mata yang mengalir di pipiku.
Aku harus mencari pemuda itu. Aku keluar dari kerumunan orang-orang yang tak ku kenal. Namun mereka sudah tidak ada. "Arrgghhh!" teriakku kesal. Sialan, mereka telah kabur.
Lihat saja, aku masih mengingat wajah mereka. Yang menembak ayahku adalah pria berambut gondrong dan keriting. Dan yang satu lagi yang mungkin temannya, berwajah seperti orang arab dan berambut hitam pekat.
Aku mengingat kalian!
Yang sekarang harus aku lakukan adalah, bagaimana caranya aku membawa ayahku ke rumah sakit. Ini sudah malam, taksi semuanya pasti sudah berpenumpang oleh para orang kantoran. Dan mana ada yang mau membantuku disaat seperti ini. Tapi, aku ingat seseorang yang sangat kupercaya.
Aku mengeluarkan ponselku dan mencari kontaknya lalu menelponnya.
"Angkatlah kumohon," mohonku pada dirinya walau ia tak mendengarnya. Aku yakin dia bisa merasakan apa yang aku alami walaupun kita tidak bersama.
"Hallo, sayang. Ada apa?" Akhirnya ia mengangkatnya. Aku semakin mencintaimu!
"Bisakah kau ke Bakery yang suka kita datangi? Please bantu aku!" ucapku terburu-buru.
"Ada apa, honey? Kenapa kau terdengar mengkhawatirkan sesuatu?"
"Ayah, Neil. Dia ditembak seseorang yang tak ku kenal. Tolong bantu aku membawa ayahku ke rumah sakit," kataku dengan mulut bergetar.
"Aku segera kesana. Tunggu aku," ucapnya terburu-buru dan langsung memutuskan telepon kami.
Aku yakin ia khawatir dengan ayahku dan aku. Niall memang selalu membantuku. Dia pria terbaik yang pernah ku kenal. Tidak ada pria lain yang sebaik Niall di duniaku. Dia sudah sangat mengenalku. Tau semua rahasiaku. Dan dia tau ruangan khususku membalaskan dendam seseorang yang telah melukai orang yang ku sanyangi.
Aku kembali ke ayahku. Terduduk di samping ayahku yang terbaring lemah.
Apa dia masih bernapas?
---
First chapt first story for this acc❤
VOCÊ ESTÁ LENDO
Gemi // H.S
FanficGemi tak mengerti siapa yang telah membunuh ayahnya. Di sisi lain Harry dituduh akan hal ini olehnya. Tapi waktu telah membuktikan siapa pelakunya, ya orang yang selalu menemanilah yang telah membunuhnya. Gemi merasa bersalah pada Harry namun apa bo...
