Chapter 1:Daun yang Terinjak

37 1 0
                                        


"Lihat, itu anak yang bermasalah itu bukan?"

"Ah, maksudmu anak yang jarang sekali masuk sekolah itu?"

"Bukankah ia sedang di skors?"

"Skors? Kudengar ia dikeluarkan dari sekolah"

"Lihat, ia bahkan duduk di pojok kelas, aku yakin tak ada yang mau duduk dengannya"

"Kudengar guru-guru bahkan menyerah untuk menolongnya"

------------------------------------------------------------------------------------

Apakah kalian percaya pada sebuah hubungan? Percaya pada untaian-untaian kata yang terucap oleh orang lain? Percaya pada sebuah ikatan? Percaya bahwa teman sejati memang ada? Percaya bahwa semua akan baik-baik saja hanya karena ada yang mengatakannya? Percaya pada kepercayaan itu sendiri?

Aku tidak...

Kepercayaan, hubungan, ikatan, perasaan, kata-kata, menenangkan, teman, saudara, cinta, kasih, bagiku itu semua hanyalah omong kosong. Tak ada yang nyata, tak ada yang dapat dipercaya. Karena pada akhirnya, kita sendirian, dan takan pernah berubah...

--------------------------------------------------------------------------------------

Ucapan-ucapan itu sudah sering kudengar. Dari murid-murid, orang tua siswa, bahkan dari guru. Bagiku itu bukan masalah. Aku tidak pernah menganggap pusing itu semua. Mungkin lebih tepatnya, aku tidak mempedulikan mereka, omongan mereka, keberadaan mereka.

Ya, akulah si murid bermasalah itu. Namaku Kuroichi Manatsu. Orang biasa memanggilku Kuro-kun, beberapa memanggilku Manatsu-san, beberapa lagi memanggilku kuso. Lagi, bagiku tak masalah. Karena aku tak mempedulikan orang-orang itu. Aku bahkan menganggap mereka tak ada.

Usiaku 17 tahun. Wajahku berbentuk lonjong sedikit meruncing di bagian dagu. Mataku tergolong besar bagi orang-orang sebangsaku. Kulitku tidak hitam atau coklat, tidak bsa juga di bilang putih. Tinggiku sekitar 172cm, dan beratku sekitar 75kg. Tidak terlalu tinggi dan cukup gemuk. Wajahku selayaknya orang Jepang. Tidak tampan, biasa-biasa saja. Rambutku pendek berwarna hitam dan sering terlihat berantakan.

Aku cenderung bisa melakukan semuanya seorang diri, jadi aku tidak membutuhkan bantuan orang lain. Akupun tidak pernah mengharapkan bantuan dari orang lain, apalagi memintanya. Aku tidak begitu suka bergaul dengan orang lain. Tidak lagi setelah aku mengalami kejadian itu.

Ya, aku memang tidak mempedulikan orang-orang di sekitarku. Aku jarang mengerjakan tugas, karena bagiku itu tidak penting. Ayolah, aku sudah bisa memecahkan soal-soal itu, mengapa juga aku harus menyelesaikan soal-soal yang serupa? Aku jarang masuk sekolah. Entahlah, aku hanya malas untuk masuk sekolah. Maksudku, untuk apa aku datang ke sekolah? Semua sama saja. Tidak ada yang menarik. Teman-teman sekelas yang selalu memakai topeng, guru-guru yang kuno, dan sistem pembelajaran yang mengekang.

Lagipula di sekolah ini pun tak ada yang mengharapkan ku untuk datang. Maksudku, kalian pun mendengar kata-kata yang diucapkan murid-murid tadi bukan? Aku adalah bahan hinaan mereka. Bahan cemoohan mereka. Bagi mereka, keberadaanku hanyalah sebuah daun yang jatuh ke tanah dan terinjak.

Tidak ada yang mau mendengarkanku ketika aku bercerita, tidak ada yang mau menjawabku jika aku bertanya, bahkan guru-guru pun menyalahkanku ketika ada 1 materi yang aku tidak bisa.

"Itulah akibatnya jika kamu selalu membolos dan tidak pernah masuk kelas!"

Itu adalah kata-kata yang selalu kudengar dari semua guru di sekolah ini jika aku bertanya tentang materi yang tidak aku ketahui. Hei, aku hanya bertanya pada materi yang aku tidak ketahui, bahkan materi itu baru diberikan hari ini. Bahkan teman-teman yang lain pun banyak yang belum mengerti materi tersebut. Entah karena aku memang bolos atau sakit, ketika aku bertanya hal yang tidak kumengerti, jawaban dari guru akan selalu sama.

PicisanWhere stories live. Discover now