Aku berjalan menjauh dari ruang tamu yang penuh dengan orang-orang aneh. Aku tak mengenali satupun dari mereka.
Baru saja kemarin mom meninggal, karena penyakit entah apa. Dokter bilang penyakit itu tidak umum. Dan kali ini rumahku sudah diserbu oleh sekawanan orang asing yang ingin aku tinggal di kastil entah apa itu namanya. Aku masih punya dad yang menyayangiku dan masih bisa membiayai hidupku. Dad bukan orang miskin. Dad adalah pengusaha kaya yang perusahaannya cukup terkenal. Dan aku juga sudah menyukai sekolahku. Teman-temanku, mereka sangat baik dan sangat pintar. Aku juga bukan salah satu siswa bodoh. Aku sekolah di sekolah komplek yang terkenal di New York. Dan aku juga selalu mendapat peringkat pertama. Apa yang harus dikhawatirkan. Aku tak mau pindah. Walaupun mom sudah meninggalkanku tapi aku masih bisa menjalani hidupku dengan benar, layaknya gadis remaja kebanyakan.
Sayup-sayup aku mendengar mereka mau memindahkanku ke sekolah ternama di Eropa. Astaga! Eropa sangat jauh dan aku tak mau pisah dengan dad. Aku sangat menyayangi dad. Begitupula dad. Kini ia sedang berusaha mempertahankanku. Hanya ada aku, dad, dan oh ya, adikku tentunya. Ia sedang ada dalam kamarnya. Entah mengapa bukan adikku yang diperebutkan, tapi aku. Dan aku tak mau!
"Kau sudah mendengarnya sayang." Dad tiba-tiba saja muncul didepanku dan mengatakan sesuatu yang sama sekali tak ku mengerti.
"Dad. Untuk apa mereka membawaku?" aku tergagap-gagap mengatakannya.
"Mereka benar sayang. Kau harus ikut dengan mereka." Dad berbicara sangat pelan sehingga aku harus diam sebentar dan mencerna ucapannya.
"Dad. Kau tak serius bukan. Aku tak mau pindah. Aku nyaman berada disini. Kenapa bukan dia." Aku berpaling menunjuk adikku yang hanya diam dan melongo.
"Dengar sayang. Mereka memilihmu. Oh lebih tepatnya mom memilihmu. Mom sangat sayang kepadamu untuk itu ia memilihmu. Orang-orang itu akan sangat baik kepadamu. Kau hanya harus tinggal disana dan belajar sayang." Dad menjelaskan dengan sangat tenang. Rupanya ia tak mau aku gugup atau takut.
"Okay mom memang menyayangiku, tapi dad tidak. Dad bahkan tak mau mempertahankanku." Aku membentaknya. Aku tak mau pindah. Apalagi ke tempat yang sangat tak ku mengerti.
"Dad sangat menyayangimu sweetheart. Untuk itu kau akan pindah ke Eropa bersama kami." Seorang paman dengan jas abu-abu tua ikut menjawab.
"Ayolah sayang. Kau ingat apa yang mom ucapkan dua tahun lalu." Dad sangat tenang, namun aku tahu kali ini ia sedang meneteskan air mata. Aku mengingat kedalam dua tahun silam. Waktu itu umurku 13 tahun, mom mengatakan bahwa beberapa tahun lagi aku akan menjadi gadis yang sangat dicintai oleh semua orang. Aku akan menjadi kesayangan. Karena akhlakku, karena sikapku, karena semua yang kumiliki. Semacam ratu.
"Ya aku ingat. Mom bilang aku akan menjadi ratu." Ucapku sambil tersenyum kecut.
"Dan kau akan menjadi ratu disana sayang."
"Tidak. Aku tetap tak mau pergi." Aku membantah. "Kalaupun aku akan menjadi ratu. Harusnya aku pergi ke London dan bersanding dengan raja Charles. Bukan ke Paris." Bentakku lalu aku pergi meninggalkan rumah.
Aku pergi menemui bibiku. Ia sangat senang aku datang, namun saat aku menceritakan tentang situasi di dalam rumah sekarang. Bibiku malah mengantarku pulang kerumah dan mengemasi semua barangku. Dad hanya ikut menyiapkan surat-surat penting, dan semuanya sudah diurus oleh bibi dan sebagian orang-orang aneh itu.
Aku hanya diam di dalam kamar adikku. Ia tampak bersedih karena aku akan pindah. Aku hanya bisa memeluknya dan kita menangis bersama.
YOU ARE READING
FLO
FantasyBagaimana jika kau tak pernah tau dari mana sebenarnya kau berasal Kau hanya terlalu menikmati hidupmu tanpa tau siapa kau sebenarnya Hingga mereka memaksamu untuk mengetahui segalanya Segalanya yang tak mudah untuk kau terima -Roselie White
