Roxane Dysis, panggil saja Oxa.
"Oxa, turun nak sarapan sudah siap." Teriak ibu dari bawah. "Urgg ganggu aku lagi nulis diary aja" ucapku perlahan. Yap,setidaknya suara itu selalu terdengar seperti jam backer yang berbunyi setiap waktunya. Suara bak diva terkenal mancannegara dengan nada lembut dan berirama. Ane Dysis, diva cafe yang terkenal di Drahomir, kota kecil namun memiliki sejuta keunikan.
"Yes mom..bentar lagi" ujar ku sambil menuruni tangga dan memasang dasiku. Tak pikir panjang aku langsung mengambil sarapanku yang tak pernah berubah, roti dengan selai coklat beserta kacang dan dilipat segitiga. Pagi ini aku terburu buru karna aku sudah terlambat untuk upacara.
Bagi siswa Drahomir School atau singkat saja DS, upacara adalah hal menyebalkan yang terjadi setiap seminggu sekali. Tapi bagiku, upacara adalah saat yang selalu ku nanti setiap minggu.
"Uhh aku tak boleh telat." Gumamku sambil mengayuh sepedah tua berwarna putih dan tanpa rem.
"Welcome to Drahomir School, make your dream come true."
Tulisan dan ucapan seperti itu sudah biasa bagi siswa siswa DS. Sebelum memasuki gerbang, kita akan disambut dengan tulisan dan ucapan itu. Tak sembarangan orang bisa masuk ke gedung DS. Sebelum memasuki gedung DS kita karus memperlihatkan kartu tanda pengenal. Di DS keamanan sangat diperhatikan karna banyak "kejadian" yang tak diinginkan.
"Oxa!! Kemana aja, upacara akan segera dimulai." Ujar laki laki bermata biru, badan tinggi tegap, rambut disisir kesamping dan berkacamata. Dia adalan Konane Donahue, sahabatku sejak kecil.
"Iya Nane sorry telat." Ujarku tergesa gesa sambil berlari menuju lapangan. "ONE bukan NANE!" Ucapnya kesal sambil berlari mengejar ku.
Konane lebih suka dipanggil One [bacanya tetep one kok bukan "wan"]. Tapi ketika dia memarahiku, aku selalu memanggilnya Nane. Aku tau, dia tak akan pernah benar benar marah balik padaku karna dia sahabatku sejak kecil.
Namun ada yang aneh, hari ini tak ada satupun guru yang muncul. Para siswa DS pun tak mau menunggu lama dan akhirnya kembali ke kelas masing masing. Aku terus bertanya dalam hati, apa yang sedang terjadi. Mengapa upacara tak dilakukan seperti biasanya. One tau kalau aku bingung dan tak ingin kembali kekelas sebelum tau sebabnya.
"Ane, ke ruang guru aja yuk kita tanya sebenernya ada apaan." Ucap One sambil menepuk pundakku. "OXA bukan ANE!!." Ucapku kesal sambil berjalan menuju ruang guru.
YOU ARE READING
Roxane Dysis
Science FictionRoxane Dysis, gadis cantik berambut pirang, bermata biru dan berparas menawan. Hidup di pulau sekaligus kota kecil bernama Drahomir. Banyak kejadian aneh dalam hidupnya. Buku berjudul EARTH memgawali petualangannya. Dibekali keberanian dan keinginan...
