Erika menatap rumah yang besar yang berwarna putih bersinar dengan wajah yang pucat pasi dan sedih. Ya. Itu adalah rumah dia dulu tetapi sekarang tidak. Rumah itu sudah menjadi milik bank.
"Sudahlah ka, rumah itu bukan punya kita lagi" Ucap adik erika yang bernama David
"Maafkan papa nak, papa yang telah membuat nasib kalian seperti ini" Ucap Jonathan yang tak lain adalah papa Erika
"Gapapa pa, yok kita cari rumah baru!" Ucap Erika dengan nada gembira
Jonathan tau betul bahwa Erika sangat sedih.
"Yok pa, becak nya udah datang tuh" Ucap Diana yang merupakan mama Erika
********
Erika menatap rumah yang berada didepannya sekarang. Kecil, Lusuh, Bau, dan tak layak untuk ditinggali. Bangunan tidak lebih dari empat meter panjangnya. Cat berwarna biru sudah pudar, bahkan sebagian cat terkena lumpur akibat banjir. Pintunya terbuat dari papan biasa yang sudah lapuk. Lantai keramiknya kusam bahkan ada yang pecah. Ada kursi plastik berwarna hijau di depan teras rumah yang kotor dan seekor kucing yang tengah tidur pulas di atas kursi itu. Erika menelan ludah. Bahkan memasuki rumah itu membuat perutnya sakit. Sakit nya merupakan campuran dari rasa takut, jijik, dan cemas. Membuatnya menelan ludah berkali-kali.
"Ayok turun nak! Kita sudah sampai" Ucap Jonathan kepada kedua anaknya
Di dalam ruangan ini ada dua kamar tidur, ruang tamu,kamar mandi dan ruang makan yang menyambung dengan dapur. Sekali mengedarkan pandangan dia sudah melihat segala isinya. Tidak ada desain-desain yang menarik, yang ada justru kesan bahwa bangunan yang disebut rumah ini adalah bangunan yang di buat tanpa rencanan apapun. Bangunan yang asal buat saja tetapi bisa melindungi panas dan hujan. Di ruang tamu ada televisi 21 inci. Kulkas dua pintu di ruang makan. Kamar tidurnya berukuran tidak lebih dari 2×3 meter yang dijejali dengan spring bed dan lemari pakaian.
"Maa! Kamar mandi nya jelek! David gak mau mandi!" Teriak David dari kamar mandi
Erika pun mengintip kamar mandi yang ada di sebelah dapur, tidak ada shower dan bathtub. Hanya ada bak air dan gayung yang berlumutan. Secepat kilat erika keluar dari situ.
"Sabar yah nak. nanti kita bersihin sama-sama biar bersih, tapi kamu harus bantuin!" Ucap Diana kepada David
David Jonathan. Merupakan adik Erika yang masih duduk di bangku sekolah itu hanya mengganguk pelan.
Erika yang melihat kejadian itu hanya mampu meneteskan air matanya yang mulai mengalir di pipinya.
"kamu kenapa nangis? Kamu bilang kita semua bisa mengatasinya bersama-sama kan?" Tanya Diana menguatkan anaknya
Siapa bilang Diana tak terpukul? Dia sangat terpukul, dia harus meninggalkan hobi nya di dunia fashion dan kawan-kawannya yang membully dia karena jatuh miskin. Tapi Diana hanya mampu tersenyum, bukan kah cinta tak memandang harta?
"Gapapa ma, Erika cuma sedih aja" Jawab Erika terisak
Sebelumnya Erika memang sempat berpikir begitu. Erika itu kuat, Erika yakin dia mampu beradaptasi dengan mudah. Erika yakin dia dan keluarganya pasti baik-baik saja. Namun keyakinan itu runtuh hari ini.
"Walau rumahnya jelek begini, ini tetap rumah kita. Bukan dilihat dari rumahnya rik, kita lihat dari kebersamaan keluarga kita. Mama yakin keluarga kita masih akan harmonis walaupun berkecukupan seperti ini" Ucap Diana menenangkan putrinya itu
Rumah ini adalah rumah masa kecil ayahnya. ketika ayahnya bahwa keluarga mereka masih memiliki rumah ini, tidak ada alasan lagi bagi Erika dan keluarganya tinggal di rumah ini. Dan ibunya tak henti-henti menghibur anaknya
YOU ARE READING
My Team Work
Random[1/1] Cinta itu timbul dengan sendirinya. Cinta tak memandang fisik. Cinta tak memandang bagaimana kehidupan seseorang. Cinta tak memandang latar belakang seseorang. Cinta tak memandang harta. Because love is pure.
