Kado Buat Ivet

43 1 0
                                        

Matahari bulan April tak sesejuk bulan Desember. Dedaunan kering bertebaran disepanjang jalanan kampus. Harusnya, duduk dalam gazebo sini cukup membuat Ivet tak kepanasan. Poni cantik Ivet sampai lengket diatas keningnya. Bahkan kemeja hijau yang dipakainya sedikit basah.
Ia membuka tasnya, mencari cari sambil mengingat-ingat apa dia telah memasukkan tisu basah pagi tadi. Wajahnya tak begitu bersemangat saat tahu, benda yang dicarinya tak ada. Ivet mengangkat wajahnya, melihat lihat sekitar, berharap pedagang asongan yang biasanya berkeliaran menawarkan dagangan mereka lewat.

"Assalamualaikum.."
Sebuah suara lembut mengagetkan Ivet dari belakang.

"Wa'alaikumsalam..." jawab Ivet. Ia langsung tersenyum sumringah saat mengenali gadis dengan pakaian serba lebar yang langsung menyalaminya dan duduk dihadapannya. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyum selalu terukir dibibirnya. Wajah bulatnya dibalut jilbab pink bergaris biru muda dipinggirannya, menutupi hampir sebagian tubuh rampingnya. Cantik. Tapi dalam hati Ivet, terbesit tanya...dengan pakaian setebal ini, apa ia tak merasa gerah, kepanasan dibawah terik ini? Ia sendiri saja, sedari tadi yang hanya duduk dibawah gazebo ini merasa sangat tak nyaman. Ingin segera pulang, mandi dan mendinginkan diri dalam kamarnya yang ber-ac.
"

Gimana ujiannya, Vet?" Tanya gadis itu ke bali.
Ivet mengangkat bahunya sembari menarik nafas panjang. Menyeka keringat dari kening dan lehernya.
"Entahlah kak Raya...tadi soalnya agak sulit. Aku tadi hampir gak bisa menyelesaikan semuanya. Tapi...."
"Tapi kenapa, Vet?" Tsurayya bertanya tak mengerti, karena ia melihat mata Ivet seketika berbinar.
"Aku lulus...aku lulus kak Raya!!!" Seru Ivet girang.
Tsurayya tak kalah girangnya. Ia memeluk gadis cantik mungil dihadapannnya dengan spontan.
"Alhamdulillah ya Allah. Usahamu tak sia sia, Vet. Ini harus dirayakan Vet..."
"He'eh...boleh boleh...kak. Kak Tsurayya memang malaikat Ivet deh."
"Gak kok Vet...itu karena dirimu sendiri. Aku cuma bantu nge-aminin do'a kamu aja kok."
"Akhirnya...cita cita Ivet bisa kuliah disini kesampaian kak."
"Alhamdulillah...amiiiin. Moga bisa jadi dokter kandungan yang sukses ya, Vet."
"Hehehe....amiiin kak." timpal Ivet sedikit malu.
"Eh...Kak Raya mau ditraktir apa? Ntar Ivet traktirin deh..."
Gadis berlesung pipi itu berfikir sejenak dan tersenyum kembali. Ia begitu menyukai Ivet. Seorang gadis muda, dari keluarga terpandang, kaya, cantik, cerdas...tapi rendah hati. Periang..itu yang paling menarik hatinya.
"Kemanapun kak Raya bawa, Ivet sanggupi?"
"Siiip kak Raya...jangan kuatir. Tadi, mamah juga dah ngasih aku uang jajan lebih kok...hehehe" bisik Ivet.
Tsurayya merasa senang. Ia merasa bahagia melihat Ivet yang begitu bersemangat. Rambut gadis yang lebih muda dua tahun darinya itu setengah basah oleh keringat. Ia tak habis pikir, kenapa si cerdas Ivet menolak tawaran Papa nya untuk kuliah di Harvard University dan lebih memilih kuliah disini. Yah,,,meskipun kampus ini juga cukup bergengsi, tapi apa salahnya untuk ukuran seorang anak pengusaha sekelas Pak Adam Tanjung kuliah di kampus bergengsi dunia. Alasannya cuma satu. Tetangganya itu berpendapat bahwa belajar dimanapun selama kita punya "sifat" pembelajar, maka ilmu akan dapat kita kuasai dengan baik.
"Yuk.....kita rayaiin keberuntungan kamu di Masjid." ajaknya sembari menarik tangan Ivet.
"Masjid?" Tanya Ivet tak mengerti.
Tsurayya mengangguk penuh arti.
"Kok di Masjid, kak?"
"Ayo....kita rayainnya disana aja." Tsurayya menarik tangan Ivet untuk berdiri dan mengikutinya.
"Mau ngapain disana kak?
Tsurayya menjawab Ivet dengan senyum.
"Ayo...."
******************

Disini nyaman. Hawanya sejuk meski tak ada ac terpasang. Kipas angin dindingnya ada dua, tapi tak nyala. Jendelanya yang lebar dan banyak membuat udara leluasa masuk. Lantai keramik berwarna hijau lumut semakin membuat kesan sejuknya.
Tsurayya baru saja menyelesaikan rakaat ke empat nya. Ivet memperhatikannya dengan seksama sedari tadi. Gerakan yang sama, seperti yang ia lakukan. Tetapi Tsurayya berbeda. Tiap gerakan ke gerakan shalatnya, penuh ketenangan. Damai ia rasakan. Ia tak pernah shalat selama dan setenang itu. Yang ada, tiap shalat...Ia selalu gusar menanti bagian akhir, salam. Tsurayya kelihatan begitu menikmati gerakannya. Seperti melihat orang orang yang begitu menikmati gerakan yoga. Saat ia sujud, Ivet merasa bahwa Tsurayya sedang pasrah, tunduk, mendengarkan perintah tuhan. Ah....Ivet masih belum paham.
"Vet...." lembut suara Tsurayya.
"Eh...Iya kak Raya."
"Maaf yah. Lama ya nunggunya.."
"Nggg....Iya sih kak. Tapi gak papa kok. Terus, abis ini..kita mau kemana? Kita naik taxi aja ya? Soalnya tadi mobil diservice."
"Ivet gak sholat dzuhur dulu?"
"Ivet shalatnya dirumah aja yah kak."jawab Ivet sambil nyengir.
"Ivet beneran mau traktir kak Raya nih? "
"Ihhh..Kak Raya...Iya lah..beneran kak."
"Traktirannya nanti aja yah Vet,,,sebagai gantinya Ivet mau kan temani kak Raya ke gedung Fakultas. Ada berkas yang harus kak Raya ambil disana. Mau kan?"
Tanpa berfikir panjang Ivet mengangguk, mengiyakan Tsurayya. Toh...biar sekalian ia bisa melihat lihat keadaan kampus nya.

Tbc

Kado Untuk IvetStories to obsess over. Discover now