Prolog

16 2 0
                                        

Menanti semua kenangan manis bersamamu kembali terulang lagi memang mustahil terjadi. Secerca harapan yang ku nantikan tak akan sebanding dengan hasil yang akan ku dapatkan. Diriku kini menanti semua kemustahilan itu yang kuharap berujung menjadi kenyataan. Kata-kata manis seperti "Indah pada waktunya" ku yakini semua itu memang benar adanya dan tak lagi menjadi omong kosong yang selalu menjadi topik utama penyebab hatiku merana.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

"Ghifa.."
mendengar namanya dipanggil, Ghifa menoleh kearah sumber suara berasal.
"Iya, ada apa? " ia pun menjawab.
Ternyata Anjani yang memanggilnya. Sosok perempuan yang selalu memiliki aura dingin kepada Ghifa. Hanya kepada Ghifa saja Anjani bersikap seperti itu karena menurutnya Ghifa selalu membuat dirinya menjadi orang terbodoh dikelas. Ini semua berawal dari pelajaran matematika dihari senin sehabis upacara, entah memang Anjani yang kurang tepat menjawab soal itu atau Ghifa yang selalu menjawab lebih baik dari jawaban Anjani yang diberikan oleh guru matematika tersebut. Anjani selalu merasa gondok bila harus berdebat rumus matematika dari soal yang diberikan. Menurutnya cara itu sudah benar dan efisien tidak membutuhkan waktu lama. Namun lagi-lagi semua itu disanggah secara terang-terangan oleh Ghifa yang menurutnya cara itu tak baik bila Bu Nisya memberikan soal essay dikertas ulangan harian nanti. Menurutnya cara tersebut akan mengurangi nilai tambahan siswa dalam mengerjakan soal. Yang sialnya pendapat itu disetujui oleh Bu Nisya bahwa apa yang dikatakan Ghifa benar. Intinya Bu Nisya akan memberikan nilai tambahan bagi siswa yang menulis cara dan rumusnya dengan lengkap walau hasil akhirnya salah. Dan pernyataan tersebut langsung disambut gembira semua siswa dalam kelas dengan sorakan "Yeyyyy".
Seketika pula Anjani mendengus kesal kearah Ghifa dan dibalas dengan senyum licik namun tetap mempesona. Inilah awal kisah mereka dimulai.
.
Mintz Flavor..

Mintz FlavorWhere stories live. Discover now