11 Bulan sudah berlalu dan bulan ini terakhir aku bekerja di PT. Baka Cileungsi, Bogor. Aku pusing setengah mati mencari-cari kerjaan yang kian hari makin sulit apalagi aku punya order-an setumpuk, namun 2 hari ini suasana hari tak seperti biasa cuaca sangat kelabu namun tak hujan, aku sudah lama menderita anemia dan itu membuat aku sering membolos kerja.
Akhrnya senja tiba dan aku kembali ke rumah namun di lingkungan rumahku banyak hal aneh terjadi, orang-orang disekitarku mendadak muntah-muntah darah. "Apa yang terjadi?", tanyaku. Namun karena sikapku yang cuek. Aku tak mempedulikannya dan memilih untuk beristirahat. Esok pagi aku sepeti biasa beraktifitas namun di kantor tampak aneh sebagian pekerja wajahnya sangat pucat dan bertingkah seperti orang mati. "Kayaknya bakal libur nih", pikirku. Namun ketika sedang sarapan dikantin 15 orang pekerja mendadak pingsan dan mengeluarkan darah dari hidung, kuping, dan mulut. Ke-15 pekerja dibawa ke klinik untuk diberi pertolongan.
Namun tiba-tiba 15 pekerja tersebut sadar dan menyerang orang-orang disekitarnya. "Hei masih pagi bercanda melulu kalian", omel ku. Kemudian salah satu pekerja menyerangku, Aku langsung mengayunkan gelas penuh kopi panas ke kepala penyerang tersebut .Penyerang tersebut jatuh bersimbah darah, "ah ada apa ini? Aku mesti inggalin tempat ini!", ucapku.
Kemudian aku bergegas berlari menuju tempat tinggalku, namun di perjalanan keadaan menjadi kacau balau. Kecelakaan lalu lintas tengah terjadi, orang-orang saling menyerang satu sama lain, seorang ibu yang tengah asyik memakan tubuh anaknya, melihat itu aku langsung lari sekencang-kencangnya akhirnya aku berhasil pulang kerumahnya dengan selamat kemudian aku langsung mengunci pintu dan jendela rapat-rapat dan mematikan lampu agar tak terlihat orang lain dari luar. Malam hari tiba, suara jangkrik berubah mnejadi suara minta tolong dan tembakan. "Apa yang terjadi apa sudah saatnya kiamat?", tanyaku dalam hati. Kini aku sendirian di rumah dengan berbekal pisau dapur dan beberapa makanan yang aku masak tadi subuh.
Jam 06.00. pagi telah tiba namun tiada bunyi ayam berkokok hanya kesunyian yang didapat. Aku membuka pintu depan rumahku dan melihat keadaan sekitar, tampak mayat yang tak utuh berserakan dijalan dan bau busuk pun menusuk hidung. Aku pun terus melihat namun aku hanya berani berjalan 3 blok dari rumahku, karena takut akan serbuan para manusia yang sudah tak berjiwa.
Kemudian aku bergegas pulang namun diperjalanan aku melihat ibu-ibu yang sedang memakan sesuatu. "Permisi!'", sapaku. Kemudian ibu-ibu itu berbalik badan dan menatapku. Aku pun kaget setelah melihat ibu-ibu itu yang ternyata sedang asyik memakan otak anak laki-lakinya. "Jangan bergerak", perintahku. Namun, ibu-ibu itu mendekatiku dan spontan aku langsung menusuk ibu-ibu itu tepat di dahinya. Ibu itu pun tergeletak tewas dan tiba-tiba lima zombies datang dan mengejarku, aku pun lari, kejar-kejaran pun terjadi antara aku dengan para mayat hidup, namun mereka berlari sangat kencang layaknya atlit lari 100 meter. Disaat keadaan terdesak, tiba-tiba mereka tewas tertembak satu per satu. "Siapa dia?", tanyaku.
Dia bernama Shifa Aqila, anak juragan sembako di pasar Cileungsi yang berparas wanita Jepang. Kemudian Aqila mengulurkan tangan kepada Insan, "kamu gak apa-apa?", tanya Aqila. "Ya makasih, namaku Azim. Namamu?", tanyaku. "Shifa Aqila, panggil saja aku Aqila". Aku menanyakan makhluk apa yang menyerang dirinya. Aqila menjawab Infected. Akhrnya aku senang dirinya tak lagi sendiri, kini dia ditemani oleh survivor cantik bernama aqila anak juragan sembako pasar Cileungsi Bogor yang berparas cantik seperti wanita Jepang. "Jadi kamu belum tahu soal peristiwa malem tadi", tanya Aqila. Aku hanya mengangguk. Aqila menjawab kalau ini semua akibat peyalahgunaan bahan kimia, Aqila menilai bahwa menggunakan hujan buatan dan pil pengurang dahaga akan membawa dampak buruk bagi otak dan syaraf, maklum Aqila adalah dosen jurusan kimia disebuah universitas terkenal di Jakarta. "Lalu bagimana dengan militer dan pemerintah, bukanya mereka terproteksi?", tanyaku. "Mereka telah tiada, kamu tau kan berita tentang istri presiden yang sakit?", tanya Aqila. Aku menjawab ya, lalu Aqila menjelaskan bahwa sakit yang di derita istri presiden itu bukah sakit karena cuaca melainkan virus. "Lalu apa yang harus kita perbuat?", tanyaku. "Bertahan hidup?", jawab Aqila. Lalu Aqila memberikan senapan nosin magant milik Aqila. "Keep save", ucap Aqila. Aku hanya diam membisu, apa yang dikatakan Aqila itu benar. Aku masih terdiam sembari melihat keawan kelabu yang tiada akhir.
. . Jam 03.00 sore. Awan tetap kelabu dan suasana kota tetap sunyi hanya ada gerombolan gerombolan Infected yang berlari kesana kemari mencari mangsa. Namun, para infected juga menjadi sasaran latihan tembak oleh Aku dan Aqila. "Gimana kamu udah nge-kill berapa?", tanya Aqila. "Baru juga 5, klo kamu?", tanyaku. Aqila menjawab bahwa dirinya telah membunuh 15 infected. Aku merasa lemas karena penyakit anemiaku kembali kambuh. "Kenapa?", tanya Aqila. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab tidak apa-apa. Aqila menyadari bahwa aku mengidap anemia. "Ya sudah, kamu istirahat aja, hemat amunisi!", ucap Aqila. Aku hanya mengangguk, persediaan peluru pun menipis hanya tinggal 5 butir lagi.
Malam harinya kami berdua tidur dalam satu ranjang dalam possisi berhadapan kami saling menatap, "Terimakasih !" ucapku sambil tersenyum "sama-sama" jawabnya. sementara diluar tampak suara infected berlarian dan terdengar suara mobil dan tembakan. "Siapa itu?", tanyaku. Namun Aqila menutup mulutku dengan jarinya dan menyuruh aku tetap diam dan menunggu hingga fajar tiba.
15 menit kemudian suasana menjadi sunyai sepi aku dan Aqila bernafas lega .Namun,tiba-tiba pintu rumahku digedor oleh seseorang. "Tolong buka pintunya! AKu tahu kalian ada di dalam, tolong!!", Ucap seorang dari luar rumah. "Dia butuh bantuan!", ucapku. Aqila langsung melarangku, Aqila memperingatkanku agar tidak bertindak konyol. Namun aku bersikeras untuk menolong orang itu. Dalam keadaan yang bimbang akhirnya Aqila menuruti kemauanku. Kemudian aku berdiri didepan pintu rumahku dan Aqila bersiap menembak jika hal buruk terjadi. Kemudian aku membuka pintu dan menarik orang tersebut kedalam rumah, Aqila dengan cepat langsung mengkunci pintu itu rapat rapat.
"Kita selamat!", ucap Aqila. "Kamu gak apa-apa kan?", tanyaku, "ya makasih..." jawab orang tersebut. Orang tersebut bernama Milaika Az-zahra atau biasa dipanggil Mila, murid SMU di sekolah Bunda Hati Kudus di perumahan Kota Wisata Cibubur. "Gimana kamu tahu kita ada disini?", tanya Aqila. Mila menjawab kalau tadi siang dirinya melihat aku dan Aqila. Kemudian aku menyuguhkan beberapa makanan kecil. "Semoga bisa buatmu kenyang!", ucapku. Mila lalu memakan makanan tersebut. Malam ini bagiku merupakan malam yang istimewa karena ada survivor lain yang berhasil diselamatkan.
Jam 08.00, Semua terdiam. Aku, Aqila dan Mila, Kami bingung ingin pergi kemana. Sementara diluar tampak infected yang lapar tengah mencari mangsa dan amunisi pun menipis. Aku melihat keluar dari jendela rumah, Suasana nampak sepi hanya ada ayam milik pak RT yang tengah terdiam. Sementara itu Mila mencoba menghubungi ayah dan ibunya namun tak ada jawaban. "Aku harus pulang sekarang!", Ucap Mila. Aku langsung melarangnya dengan alasan diluar masih bahaya namun Mila tetap mengotot untuk bisa kembali ke rumahnya. Tiba-tiba pintu rumahku dibobol zombie. Aku, Aqila dan Mila bergegas menyelamatkan diri, terkadang Aqila berusaha memberi perlawanan untuk menahan laju para zombie yang lapar tersebut namun apa daya jumlah zombie terlalu banyak 10:1, apalagi amunisi sudah kosong.
Akhrnya kejar-kejaran pun terjadi di komplek antara Infected dengan ketiga survivor .Namun Mila terjatuh dan para Infected hampir mendekatinya. Tiba-tiba mobolcolt diesel datang dan menabrak para zombie tersebut. "Ayo naik kalau kalian ingin hidup!", ucap sopir tersebut. Kemudian Aku dan yang lainnya menaiki mobil tersebut dan akhirnya kami bisa lolos dari para Infected yang lapar tersebut.
"Kalian gak apa-apa nak", ucap sopir tersebut. Kami mengangguk. Sopir itu bernama Faisal, supir bus kota jurusan bogor-ciawi. "memangnya tujuan bapak mau kemana"tanya Mila."Katanya ada pos evakuasi di bandara Halim Perdana Kusuma", ucap Faisal. Aku senang kerana tujuan dia sama dengan tujuan Faisal. Namun perjalanan tak semudah yang dia bayangkan pasti di kota besar seperti Jakarta, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang ada didaerah tempat tinggaknya.
"Pak, apa bapak tahu tempat toko material sama alat olahraga?", Tanyaku. "Ya saya tahu gak jauh dari sini memangnya mau ngapain kamu?", Tanya Faisal. Aku menjelaskan kalau survivor harus memelukan senjata untuk membela diri, Faisal pun setuju. Akhirnya mereka sampai disebuah material dan disampingnya toko alat olah raga. Aku dan yang lainnya mengambil alat alat seperti palu, pipa besi, paku, bata, stick golf, tongkat baseball, dan lainya.
"Apa ini cukup?", Tanya Faisal." Lumayan", jawabku. Akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan yang penuh misteri dan kejutan.
Pada saat sedang berada dalam perjalanan segerombolan anjing zombie jenis herder menghalangi laju mobil kami, satu persatu anjing tersebut berusaha memasuki mobil kami, sehingga kami berusaha menutup pintu dengan jendela mobil. Namun sayang, seekor anjing berhasil masuk dan menggigit lengan kiri Aqila . Dengan respon cepat aku langsung memukul kepala anjing itu dengan tongkat baseball dan memukulnya berulang ulang hingga ia tewas dan kemudian di buang ke pinggir jalan. Namun saat ini kondisi Aqila terluka parah, aku membuka bajuku untuk kujadikan perban sementara. "Bertahanlah aku akan tetap melindungimu hingga kita sampai" sahutku sambil melilitkan bajuku di luka lengan kirinya. "Iya , terima kasih" ucapnya. Hingga akhirnya kami sampai di tempat evakuasi bandara halim, disana Aqila dengan ditemani Aku mendapat pengobatan medis yang tersedia disana. "Kita harus pindah dari kota ini, kota ini sudah tidak aman lagi bagi kita. Cepat masuk kedalam pesawat Evakuasi !!! " perintah komandan TNI yang berada di bandara itu. Sambil membantu Aqila naik menuju kursi pesawat Aku berkata "Kita selamat, jangan cemas !!! kita aman" ucapku sambil tersenyum padanya. "Iya aku tau tapi bagaimana dengan keadaan orang tua ku?" ucapnya sambil murung. "Tenanglah mudah-mudahan saja ia tetap dalam keadaan selamat, tapi dengan kondisi saat ini sangat kecil kemungkinan untuk selamat " ucapku sambil menenangkannya. Tidak lama kemudian pesawat evakuasi akan segera terbang meninggalkan bandara. Namun segerombolan zombie dengan menggunakan kendaraan darat tiba-tiba datang mengerubungi bandara. "Cepat !!!! Tinggalkan bandara ini !!!! Sekarang !!!!" teriak sang komandan pada pilot. Tidak lama pesawat kami pun terbang meninggalkan bandara halim perdana kusuma. Namun sang jenderal dengan pasukannya berusaha menyerang zombie tersebut namun gagal, sehingga jenderal TNI dengan pasukannya dimakan oleh segerombolan zombie.
To Be Continued...
Cerita ini dispesialkan untuk karakter bernama Aqila ^_^ karena apa ? dia hari ini berulang tahun yeeee :D ^_^ Happy Birthday ya buat Amartya Hirarida, semoga panjang umur, sehat selalu, nurut sama orang tua dan tambah rajin belajarnya ^_^ ya Amartya adalah orang yang aku ceritakan dalam karakter Aqila. Milaika adalah nama karakter dari CS saya sejak SMP Annisa Zahra, sementara Faisal adalah nama sahabat baru saya yang bertampang Chinese namun dia Balinese Fauzi namanya :D. Nama-nama karakter di cerita ini saya dapatkan dari drama disekolah kami yang kebetulan 1 kelompok. Oh iya mereka-mereka ini juga punya Wattpad loh, kalo bisa difollow ya Aqila(Amartya) : YatyaBTS, Milaika(Zahra) : Milaika Az-zahra Kurdi dan Faisal(Fauzi) : Ichizan Hisatsu. Oke sekian ya cerita saya sorry klo endingnya ngegantung :'v
#93
YOU ARE READING
Azim & Aqila
AdventurePasangan ini saling berusaha melindungi satu sama lain dengan ditemani oleh 2 orang pembantu penggerak dicerita ini. Pasangan Azim & Aqila adalah pasangan yang diberi kemampuan beladiri untuk bertahan dari serangan manusia-manusia. Manusia-manusia s...
