Buat part pertama gua mau ngeshare kata-kata dari novelnya Kak Dwitasari yang jatuh cinta diam-diam:
'It's okay, yang pertama selalu full of shit, kok. Itulah makannya lebih baik kita menikah dengan cinta terakhir daripada cinta pertama.'
'Orang yang pernah membuatmu tertawa paling kencang adalah orang yang akan membuatmu menangis paling kencang.'
'Perbedaan itu indah, Pak. Tapi tuhan sudah mengantisipasi perbedaan dengan menciptakan cinta.'
'Perbedaan yang paling indah adalah perbedaan yang mampu menciptakan penyatuan.'
'Begitu kuat. Begitu dalam. Sampai saya tak temukan lagi alasan, mengapa harus kamu yang saya cinta?'
'Mungkin bukan lelah bermimpi, hanya kelelahan memperjuangkan mimpi agar segera menjadi nyata.'
'Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.'
'Rindu seperti punya kendali khusus. Aku tidak bisa menolak untuk tidak mencintai dan merindukannya.'
'Mungkinkah dia terlalu tinggi untukku? Apakah dia terlalu sempurna untuk ku genggam?'
'Terkadang kita harus meninggalkan sesuatu yang penting demi sesuatu yang lebih penting.'
'Orang yang sayang sama kamu adalah yang meluk kamu saat nangis begini.'
'Aku udah bilang, kalau ada apa-apa jangan lari ke alkohol, lari ke aku aja. Pacarmu kenapa lagi?'
'Dan, setiap hari aku juga selalu berdoa agar tak pernah jadi bagian dari orang-orang yang berjanji untuk kembali namun malah lupa untuk kembali.'
'Aku hanya ingin mendengar dia berbicara, aku ingin mengetahui seberapa parah lukanya. Apakah separah yang kurasakan?'
'Ini munafik. Sungguh. Aku berusaha membuatnya merasa bahwa segalanya baik-baik saja meskipun yang kurasakan saat ini adalah perasaan yng bahkan kata pun tak mampu mendeskripsikannya.'
'Apa yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kau sayang?'
'Apa yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kau sayang? Tentu saja ada. Ada yang lebih sakit daripada itu. Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang selalu bertumbuh itu tak pernah menyentuh dan menjamah.'
'Kalau kau pikir kau bodoh, aku memang sudah lama bodoh seperti ini. Sejak mengenal dia, mungkin aku tambah bodoh.'
'Kalau pulang untuk melihat seseorang yang sudah pergi, apa tetap menyenangkan?'
'Dia berganti-ganti pasangan semudah mengganti batang rokok yang mulai memendek dengan batang rokok baru yang lebih panjang.'
'Aku selalu siap dengan berbagai macam kehilangan, tapi aku nggak pernah siap kehilangan kamu.'
'Beberapa hal berubah, tapi di antara perubahan ini masih ada yang tetap dan selalu ada. Hatiku sampai saat ini masih dihuni oleh satu orang.'
'Kamu itu spesial. Yang harus kamu lakukan adalah merasa spesial dan nggak minder sama kata orang lain, got it?'
'Aku tak tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Aku tak boleh tergesa-gesa menyebut segalanya adalah cinta. Cinta bukan sepaket perkenalan yang terbentuk tanpa proses. Semua harus butuh proses. Tapi, bukankah aku dan dia memang sedang dalam proses?'
'Aku menghela napas, berusaha mengumpulkan kekuatan agar tetap terlihat baik-baik saja di depan dia dan kekasihnya.'
'Kamu hanya perlu memercayai kata hatimu, kadang yang terlihat belum tentu yang sesungguhnya terjadi.'
'Iya, cinta memang gaib. Begitu gaib, sampai-sampai membuat mereka yang berbeda dalam segala hal bisa bertemu, saling tahu, dan bisa saja saling cemburu.'
'Jika semua arah terlihat salah, mungkin akan lebih baik kalau kita nggak sekadar berjalan ke depan, tapi juga melihat ke atas. Melihat ke arah Dia yang selalu sibuk mengawasi kita.'
'Dialah matahari yang menghapus mendungku selama ini.'
'Ah, betapa melupakan sungguh sangat sulit, meskipun aku begitu yakin telah mengikhlaskan.'
'Kini dia meninggalkanku tanpa sempat mendengarku mengungkapkan perasaan. Semudah ketika aku meninggalkannya tanpa kalimat perpisahan.'
'Aku mau kamu terus sama dia. Cuma dia yang bisa menjamin kebahagiaan kamu, kan?'
'Aku nggak mau berharap terlalu tinggi, kalau jatuh, pasti sakit banget.'
'Mungkin sudah saatnya aku menyerah. Perasaan kalian terlalu kuat untuk kukalahkan.'
'Kita terlalu egois untuk menyatakan perasaan, sama-sama bertahan dengan anggapan masing-masing, dan nggak tahu yang sebenarnya terjadi.'
'Aku senang nulis tentang kamu karena dalam tulisan, sosok kamu bisa abadi.'
'Aku dan dia pernah membangun mimpi bersama. Kami akan mewujudkan mimpi itu bersama juga, kan? Iya, seharusnya.'
****
Sampai jumpa di part berikutnya :))
YOU ARE READING
Quotes
RandomKadang semua yang tidak bisa diungkapkan hanya bisa ditulis untuk menuangkan perasaan.
