Elisa's POV:
"Elisa, bangun nak" Ibu membangunkanku dan menggoyangkan tubuhku.
"Nanti saja bu, ini masih jam 3 pagi" Kataku sambil berpaling dari ibu. Tiba-tiba saja, brukk. "Aduh sakit dek!" Kataku berteriak. Aku lalu duduk dan mengusap mataku yang masih sayu.
"Kakak sih, belom mau bangun. Udah siang nih. Nanti telat simulasinya" Kata adikku, Farel Osfaldo.
Aku segera melihat jam dinding kamarku dan waktu menunjukkan pukul 06.00. Aku langsung berlari menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri.
○○○
Aku melihat gedung sekolahku yang besar dan megah ini, SMA Harapan Bangsa. SMA ini memang sekolah swasta tetapi SMA paling unggulan di kota ini. Sekalipun swasta, banyak sekali prestasi-prestasi yang telah diraih. Dan, tak mudah bagi calon siswa SMA yang mau masuk ke sekolah ini. Aku beruntung bisa masuk.
Bel berbunyi dan aku melangkah menuju Auditorium atau Aula. Baru saja aku menginjakkan selangkah di atas ubin, seorang perempuan berjalan ke arahku.
"Dek! Jangan nginjak lantai pake sepatu! Baca peraturan gak sih? Asal masuk aja" Bentaknya padaku sambil berlalu dengan muka sangar. Aku segera melepaskan sepatuku dan merapikan sepatu.
Di dalam Aula, sudah banyak sekali calon teman-temanku yang duduk dengan rapi. Aku duduk agak di belakang. "Hai" Seseorang memanggilku dan aku menoleh. Seorang perempuan cantik dengan rambut kecoklatan yang digerai dan mata biru yang cantik membuatnya seperti seorang bule. "Hai" sapaku. Dia mengulurkan tangannya, "Ariska Tifanny Christable". Wow, nama yang cantik.
"Aku, Elisa Abigail Athalia". "Senang berkenalan denganmu" katanya. Aku tersenyum, "Senang juga berkenalan denganmu".
Lalu, seorang bapak masuk dengan berpakaian olahraga. Beliau menjelaskan bagaimana kegiatan kami selama sepekan ke depan. Kami akan mengikuti simulasi pada hari ini, 3 hari Latihan Kedisiplinan atau LatDis, dan 3 hari MOS atau Masa Orientasi Siswa. Kata bapak itu, kami tidak perlu takut dengan senior yang akan mendampingi kami sebab mereka akan mengajarkan kami kehidupan di SMA Harapan Bangsa.
"Oke, semuanya sudah bapak sampaikan. Ada pertanyaan?". Kami semua terdiam, sepertinya tidak ada pertanyaan. "Kalo enggak ada pertanyaan, bapak serahkan kalian ke senior. Bisa, senior?" Tanya bapak itu ke senior. "Siap bisa!" Jawab mereka serentak. Kemudian bapak itu pergi, meninggalkan kami dengan 25 senior.
Salah satu senior cowok maju ke depan. "Kakak disini akan membacakan struktur kegiatan LatDis ke depan". Rupanya, kakak yang membacakan struktur tadi adalah Kak Ben. Aku berada di pleton 3. "Kakak sudah bacakan, sekarang baris sesuai pleton masing-masing. Cepetan!" Bentaknya. Kami, dengan ricuh, mencari pleton kami masing-masing.
-----------------------------------------------------------
Hai Hai Haii!
Gimana menurut kalian prolognya? Maaf kalo kependekan, cumen 400 word, termasuk ini.
Cerita ini asli dari kehidupan aku. Hanya merubah sedikit. Kalo ada yang sama ceritanya maklumin aja. Soalnya aku ngambil inspirasi dari kalian semua.
Kasih komen dan votenya ya supaya aku ngerti maunya kalian. Soal masalah adegan 17+ bakalan ada, tapi just kissing scene. Aku belum resmi 17.
Semoga kalian senang!
- Sevilah Miracle
YOU ARE READING
Dating with 'Our' Leader
Romance"Aku mencintaimu tanpa alasan, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Yang ku mau hanyalah kita bersama selamanya" - Samuel Kornelius Galileo "Masa lalu bukanlah alasan kita tak bisa bersatu, tetapi bagaimana masa depan mempersatukan kita" - Elisa A...
