Didedikasikan untuk wwclub
Bugh!
"Ayoo bangun!" Ucap seorang gadis sambil menampar pipi cowok di hadapannya. Yang ditampar hanya diam sambil terus memuntahkan darah. "BANGUN!"
Kemarahan Thania sudah benar benar tak terkendali. Kini jiwanya hanya dikendalikan obsesi semu yang hanya akan menyakiti orang lain.
"Ekhem.." cowok itu mendongak melihat Thania. Rasanya dia ingin mati sekarang. "Sekarang lo boleh bebas. Gue kasi waktu 30 menit buat lo ke rumah gadis impian lo. Kalo lo gabisa, lo bakal jadi milik gue selamanya. Oke sayang?" Kata Thania.
Hampir saja cowok itu muntah mendengar kata-kata itu. Tapi dengan kondisinya yang sekarang, dia memang hanya ingin bebas dari wanita gila itu tanpa bisa melakukan perlawanan.
Akhirnya cowok yang ternyata bernama Dion itu berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki. "ARGHH!!" Baru saja akan pergi ada anak buah Thania yang memukul tepat di betisnya hingga ia jatuh tersungkur.
"Arghhh." Dion tetap meringis sambil memegangi kakinya. "Lo-lo... gila, Than..."
"28 menit dari sekarang lo bakal jadi milik gue, dan ketentuan masih berlaku sayang. Come on!"
Tidak ada pilihan lain Dion tetap mencoba berdiri dan pergi meninggalkan Thania beserta semua orang suruhannya.
Dion tetap berlari dengan bibir yang robek, pelipis penuh darah, hidung yang ia rasa sudah patah sekarang, dan kaki yang sudah pasti cedera. Ia hanya ingin bebas sekarang, ia tau hanya ini saatnya, meski dia sadar semua kata kata yang keluar dari mulut Thania tidak pernah berasal dari otak warasnya. Dion berlari dengan sedan hitam yang juga mengikutinya dari belakang.
Ya, Dion sampai. Ia sampai di rumah gadis impiannya. Gadis yang selalu ia jaga. Gadis yang memiliki cinta sama besarnya dengan Dion, Raisha.
Raisha melihat Dion berdiri di depan rumhnya sambil terus menekan bel, ia ingin sekali keluar dan membawa Dion dalam pelukannya. Memastikan Dion aman bersamanya. Tapi beberapa menit yang lalu iblis itu mengubah semua jalan cerita.
Dion bakal sampe di rumah lo sebentar lagi.
Dion baik baik aja kan, Than? Gue uda ngelakuin semua yang lo minta.
Jangan pernah keluar dan nyentuh dia. Atau saat itu juga dia bakal lebih dari kenapa kenapa.
Itulah sebabnya Raisha masih tetap berdiri di dalam rumah.
Entah kesadaran dari mana yang ia dapat. Sedetik kemudian Raisha berlari keluar rumah dan memeluk Dion. Benar benar memeluknya erat. "Diooonnn..."gumamnya ditengah isak tangis.
"Lo gapapa kan, sha?" Dion malah bertanya balik.
"Good drama! Tapi.. kayanya happy ending uda mainstream. Gimana kalo gue buat sad?! Hm?" Thania hadir di antara dua sejoli itu. Menghancurkan segalanya. Benar kata orang tua. Jika pemuda pemudi berduaan, yang ketiga adalah setan.
Dengan satu kedipan mata Thania bisa membuat seluruh orang orangnya untuk memisahkan dua remaja itu.
Dion tak berdaya sekarang. Ada 2 orang berbadan besar yang mengunci pergerakannya. "KENAPA? KENAPA HARUS GUE, THAN?" Dion benar benar sudah murka sambil terus berontak. Ia tak bisa melihat Raisha di tangan orang orang itu. Terlebih lagi, Raisha menangis.
"Dion..." lirih Raisha.
"Lo tenang aja, sha. Lo bakal baik baik aja." Balas Dion meyakinkan.
"Oh, ya, sayang?" Sela Thania sembari menyentuh lembut pipi Dion. "Kita sampai di game kedua." Dion hanya diam menghadapi kegilaan ini.
Thania melanjutkan, "Lo jadi milik gue.. atau... keperawan gadis impian lo bakal lenyap di tangan orang orang gue?"
Dion mulai mengeluarkan sumpah serapah, "Bangsat.. anjing kalo sampe lo lakuin itu gue bakal ngelakuin lebih parah ke lo. Iblis sialan!"
Thania hanya tersenyum melihat Dion yang terus berteriak. Sedetik kemudian Thania memberi isyarat agar membawa Raisha ke dalam mobil.
"Hanya dua option, Dion." Dion membalasnya dengan tatapan sedingin es seolah ia percaya Thania bisa ia bunuh dengan tatapan itu.
"Dion.." Raisha masih menangis.
Dion seperti berada di pinggir jurang. Ia bisa saja bunuh diri atau lari. Dia tidak mungkin membiarkan Raisha kehilangan sesuatu yang sangat berharga seperti itu.
"Dion.. jangan katakan apapun." Raisha justru meyakinkan Dion bahwa ia akan baik baik saja.
Pasti ada cara, tapi Dion tidak tau apa itu.
"Oke." Raisha tersedak mendengar jawaba Dion. "Lo boleh lakuin apapun yang lo mau ke gue asal jangan pernah lo ganggu Raisha lagi." Thania tersenyum puas.
Kini Raisha telah bebas tapi ia tak berlari menghampiri Dion. Justru Thania yang menghampiri Dion dan menyentuh lembut pipinya.
"JANGAN BERGERAK!" Tidak! Thania terlonjak kaget. Begitu juga dengan Dion. Tapi tidak dengan Raisha, dia tidak sebodoh itu menuruti perkataan iblis menuju neraka.
Raisha tahu polisi akan datang tepat pada waktunya. Beberapa saat sebelum Dion datang Raisha sudah menelpon polisi. Dan sekarang Thania dengan semua bodyguard nya sudah diringkus polisi.
Kini Raisha memeluk Dion lebih erat lagi, seakan ia tak ingin Dion pergi. "Maaf, sha.." gumam Dion dengan sangat pelan.
"Gue seneng lo kembali, yon.."
Dion sudah tidak bisa mendengarnya lagi karena sekarang ia jatuh pingsan di bahu kecil milik Raisha.
Sekarang Raisha akan menopangnya, seberat apapun itu.
Cerita gaje. Asal buat. Mengandung kekarasan. Hal hal yang membuat hilang kesadaran.
#Event1WWC's done.
Finish.
YOU ARE READING
Obsession
FantasyDibuat dalam rangka memenuhi event 1 WWC sekaligus menyalurkan ide ide absurd dalam otak yang kalo dibuang sayang. Hm.
