"Pertemuan"

300 15 0
                                        

Terkadang pertemuan itu diawali dengan nasib yang sama.

*Pertemuan*

Author's POV
"Kita Putus!!!" Sherina mengatakan kata kata itu dengan lantang, membuat semua orang di sekelilingnya menatap mereka.

"Beb, kok bisa?" Dika menatap Sherina, dia tidak mengerti kenapa mereka harus putus. Bukankah selama ini hubungan mereka baik baik saja. Apa yang terjadi sebenarnya?

Dan lagi pula kenapa dia malah minta putus di depan umum, ini hal memalukan. Coba ngomongnya baik baik, putusnya baik baik, itu hal wajar, tapi ini...

"Yaudah, kalo itu mau Lu. Kita bayar bill masing masing. Cantik juga kagak, udah main selingkuh aja."

Plak...
Tangan Sherina berhasil mengenai pipi kiri Dika, dan membuat pipi itu menjadi memar dan membiru.

Tamparan itu serasa membuat waktu di sekitar Dika berhenti, semua mata kembali menatap mereka berdua. Nih cewek namparnya sakit banget, tangannya dari beton apa? Ketus Dika dalam hati.

"Berengsek lo, Dik." Sherina melenggang pergi dari tempat itu, Dika hanya bisa menahan sakit, dan tidak tau harus apa lagi.

Lelaki itu mulai menyadari mata yang menatapnya sedari tadi. Dia merasa tidak enak sudah membuat keributan.
"Silahkan lanjutin makannya Om, Tante, anggap aja tadi itu iklan bengbe*g"

Dika's POV
Gue cuma bisa jalan ke taman dan nenangin hati gue untuk sebentar aja. Kok kehidupan gue gini amat? Baru aja dapat yang cocok, eh dia nya selingkuh. Untung gak terlalu sayang. Ada gak sih cewek yang bener sayang sama gue. Apa perlu gue makan pop mie biar bisa dapat cewek dari hongkong.

"Gak ada lagi gunanya gue hidup"

Itu suara apa? Kok ngeri sih? Mana suaranya jelek lagi? Apa itu suara hati gue?

Gue mencari sumber suara itu, dari ujung taman sampai ujung kaki gue, gue belum liat apa apa, dari tadi gue di sini sendiri. Tapi siapa yak? Gue terus terusan mencari sampai gue ngeliat orang di belakang gue, mukanya gak tragis amat sih, tapi dia nangis, jadinya jelek kebangetan.

Gue diam mengamati apa yang salah dari pria itu, kayak ada ganjilnya gitu. Kemudian gue menyadari kalo tuh cowok pengen bunuh diri. Dengan siap gue berlari kea dekatnya, gue duduk di samping kakinya. Barang kali dengan adanya gue dia bisa mati dengan tenang.

Si cowok tuh malah mandangin gue dengan aneh.

"Oi, lu ngapain sih di sini? Lu niat nggak ngehentiin gue?"

"Idih, siapa lu, mau lu loncat apa peduli gue?"

"Kamfret lu, gue jadi gak bernafsu bunuh diri. Btw nama gue Edo." Dia kemudian duduk di samping gue dan ngulurin tangannya.

"Gue Dika, tadi lu kenapa mau bunuh diri?"

"Pertunangan gue batal, gara gara tunangan gue kabur sama cowok lain"

Gue kirain gue yang ngalamin hari buruk ternyata masih ada yang lain.

"E.."

"Gue tadi niat nembak gebetan eh ternyata dia malah anggap gue adeknya."

Gue kemudian berbalik gara gara ngedengar suara angker.

Ni orang kenapa bisa di sini? Malah curhat lagi, gue kan gak tanya. Gue kemudian natap Edo, dan dia cuma mengangkat bahunya seolah dia tidak mengenalnya, jadi kalo Edo gak kenal sama dia, terus dia itu siapa, beruk apa?

"Loh kok kalian diam sih?" Cowok itu natap kami berdua, dia bingung dan kemudian tertawa.

Kayaknya bener bener sarap de ni orang.

"Pasti kalian bingung, gue ini siapa?"
Jelaslah lu baru datang dan tiba tiba curhat.

"Nama Gue Leo"

Jadi orang sarap ini namanya Leo. Keren juga namanya kayak iklan kripik. Jadi lapar gue.

"Gue Dika"

"Gue Edo

Disitulah awal perkenalan kami.

The BujangsStories to obsess over. Discover now