Ryan membetulkan duduknya.
Kemudian ia menatap mata Alexa. Lexa merasa agak canggung ketika mata mereka bertemu.
"Kau tahu aku? seperti apa aku sebenarmya?" Tiba-tiba meluncur kalimat tanya di bibir Ryan
"Kau bicara apa Yan?" Lexa mencoba menyelidik kata-kata Ryan
"Aku tidak seperti yang kau lihat, tampak baik-baik saja."
"Ada apa sih Yan?"
"Aku takut jika aku sampaikan siapa diriku, kau akan meninggalkan aku."
"Ya dan tidak." Lalu Alexa tertawa, terlihat giginya yang putih dan rapi
"Apa maksudmu Lexa?"
"Ya, gitu deh." Lexa berdiri meninggalkan Ryan yang masih terperangkap dengan teka teki Alexa
"Hei Lexa, tunggu! mau kemana?" Ryan menangkap tangan kekasihnya itu
"Meninggalkanmu." Jawab Lexa ceplos
Mendengar jawaban Alexa, Ryan melepas tangan kekasihnya itu. Lalu Alexa duduk di samping kanan Ryan, kemudian menatap mata pemuda itu tajam-tajam. Ryan tertunduk. Mata gadis itu terasa menusuk jantungnya
"Ryan, kau tak perlu mengatakan masa lalumu, yang penting aku tahu kau yang sekarang itu sudah cukup buat aku. Lihatlah aku Yan, tataplah." Ryan mencoba menatap Alexa, tapi tak sanggup, lalu tertunduk lagi.
"Ryan! kau harus menatapku, supaya kau tahu apa yang ada dalam hatiku." Ryan malah menutup wajahnya dengam kedua tangannya.
Alexa berusaha untuk membuka wajah Ryan dengan paksa, tapi Ryan bersikukuh untuk menutup wajahnya.
"Ryan! kau harus menatapku!" Teriak Lexa sangat kencang
"Lexa, gila kamu!" Mata Ryan menembus mata Lexa yang terdalam
Mata cantik itu mengeluarkan air mata dan mengalir melewati pipinya yang putih.
Lexa sangat sedih.
"Lexa, maaf, maaf bukan maksudku .."
"Sudahlah Yan, aku tak apa-apa." Lexa menghapus air matanya.
"Yan, sekarang katakan apa yang ingin kau katakan, aku akan mendengarkannya."
"Tidak,tidak ada."
"Bukankah kau bertanya padaku apakah aku tahu dirimu,kau sebenarnya seperti apa? Baiklah, aku akan jawab tidak tahu, tapi kalau itu penting untuk hubungan kita, katakan saja. Bukankah kita masing-masing harus jujur satu sama lain,agar tidak kecewa dan saling menyakiti?" Tanya Alexa
"Baiklah aku akan cerita,tapi jika kau meninggalkan aku karena cerita ini, aku siap."
Alexa diam saja.
"Sebelum mengenalmu, aku ini suka minum-minum dengan teman-teman hingga mabuk. Sering kali aku tidak bisa mengendalikan diri dan memukuli orang yang menurutku menghalangi kesukaanku termasuk Ibuku.
Aku marah jika ibuku tidak memberiku uang untuk membeli minuman. Pernah sekali kepala ibuku ku bentur-benturkan dinding kamar, karena masakannya terlalu asin." Ryan menutup wajahnya, pemuda itu menangis.
Lexa bergetar hatinya. Iapun ikut menangis, tangannya membelai rambut Ryan.
Ryan menghela nafas
"Kemudian ibuku menengadahkan tangannya ke atas memohon pada tuhan, agar mengampuni kesalahanku.
Aku mendengar doanya. Tidak menyesali malah semakin marah. Aku pecahkan seluruh barang yang ada di rumah. Lalu pergi dan tidak pulang selama lima hari.
Hari ke enam aku pulang karena bertemu dengan tetangga ku yang mengatakan bahwa ibu ku sakit.
Aku lari menuju rumah untuk minta maaf kepada ibuku. Tapi, ibuku sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, justru malah tenggelam pada minuman keras, tiap hari aku teler. Sampai pada suatu hari, tetanggaku memberikan surat dari ibuku dua hari sebelum meninggal.
Lexa, tolong bacakan buatku." Ryan mengambil dompetnya, sebuah surat yang di bungkus amplop putih agak kotor di keluarkan.
Ryan, Ibu harus mengatakan ini padamu. Sesungguhnya ibu telah berbohong padamu. Bahwa ayahmu sudah meninggal waktu kau berusia dua tahun, bahwa ayahmu seorang pilot, bahwa ayahmu sangat menyayangimu dan selalu membawakan mainan setiap pulang. Ryan ibu ini tidak menikah, ibu seorang perawan. Sedangkan kau ada karena kiriman dari tuhan. Kau ku temukan di pinggir sungai saat ibu mau mandi menjelang subuh itu. Saat itulah Ryan, kau jadi anakku. Agar tidak di curigai, ibu pindah ke kota bersama almarhum nenekmu, mengontrak dari rumah ke rumah. Tapi yang ibu tidak bohong adalah, bahwa ibu sangat mencintaimu, ibu selalu berdoa agar Ryan di tunjukkan jalan yang benar.
Maafkan ibu nak, ibu terpaksa merahasiakan semua padamu.
Kedua anak muda itu menangis. Tak ada suara.
"Lexa, sekarang kau tahu siapa aku sebenarnya, sekarang terserah kamu. "
Lexa menatap mata Ryan. Lalu dari mulut mungilnya banyak kalimat yang mengejutkan Ryan.
"Ryan, aku juga punya masalalu."
"Aku seorang gadis dari keluarga yang cukup terpandang, tapi dalam rumah itu aku tak menemukan kebahagiaan karena kedua orang tuaku jarang di rumah. Jika bertemu, mereka selalu cekcok. Aku sereing melihat ibuku di pukuli ayahku.
Suatu hari, aku bertemu teman bisnis ayahku, umurnya kira-kira tujuh tahun diatasku. Semula pemuda itu sangat baik sampai akhirnya aku jatuh cinta padanya. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Karena pemuda itu membawa kabur uang perusahaan ayahku dan meninggalkan aku dengan janin di perutku.
Mengetahui hal ini, ayahku marah dan jantungnya kambuh lalu meninggal.
Tinggal ibuku dan bayi di perutku yang berusia dua bulan. Penderitaan tak selesai dari situ, diketahui ayahku seorang koruptor, Negara menyita seluruh aset dan rumah yang kami tempati. Kami pergi ke desa ibuku, di rumah nenek. Kami tinggal dengan pola hidup sangat sederhana. Sebenarnya aku mulai bahagia dengan keadaan itu.
Akan tetapi, saat usia kandunganku mencapai lima bulan, aku terpeleset di kamar mandi dan mengalami keguguran. Hingga suatu hari aku sakit dan badanku semakin kurus. Dengan keterpaksaan dengan sisa uangku, aku pergi ke dokter. Dan dokter memfonisku, aku terkena virus HIV. Ternyata pacarku dulu seorang penderita HIV.
Ibuku sangat terpukul dengan kejadian itu smpai ia jatuh sakit lalu meninggal. Sampai sekarang aku tingal bersama nenekku yang tua dan sakit-sakitan.
Itulah kehidupanku yamg sesungguhnya Ryan. Aku adalah penderita HIV."
Alexa tidak menangis,karena ia telah bebas mencurahkan hatinya pada Ryan kekasihnya.
Angin lembut kembali berhembus melalui jendela. Ryam menatap hadis itu dalam-dalam, kemudian ia raih tangan gadis itu dan ia genggam erat.
"Lexa, kita pasti bisa menjalani hidup ini, kita tak boleh putus asa, bukankah kita telah di pilih tuhan untuk menjadi tokoh protagonis, kita menjadi lakon di dunia ini. Kita harud percaya, bahwa tuhan mengetahui seberapa besar cinta kita padaNya. Pasti kita bisa lewati hari-hari dengan bahagia. Percayalah."
"Terima kasih tuhan, kau pertemukan aku dengannya" Gumam Lexa.
End
YOU ARE READING
Ada Cerita di Mata Kekasihku
RandomRyan membetulkan duduknya kemudian ia menatap mata Alexa. Lexa merasa agak canggung ketika mata mereka bertemu.
