approach, chase, remind

74 10 7
                                        

Semakin kau berlari semakin ku kejar..

Semakin kau menjauh semakin ku mendekat..

Semakin kau melupakan semakin ku mengingatkan..

Aku terus melangkahkan kaki ku dengan cepat, bukan hanya karna suara itu atau nyanyian itu saja, tapi juga karna si pemilik suara itu, sosok yang menyanyikan lagu itu. aku ingin berlari, aku ingin berteriak tapi aku tidak bisa melakukannya. Karna pasti dia akan mengetahui keberadaanku, kalaupun nanti ada seseorang yang bisa aku mintai bantuan aku akan berbisik-bisik padanya. Aku masih berjalan tanpa tentu arah. Sial! Umpatku, semua jalan yang aku lalui tidak ada bedanya, semuanya jalanan sepi yang aku ngga tau ujungnya. Hampir semua arah sudah ku coba, dan hasilnya tetap sama. Aku diam sejenak sambil melihat sekeliling, bajuku sudah penuh dengan keringat dingin.

Ibu! Ayah! Abang! Adi! Nabil! Temen-teman! Semuanya tolong! Tolong aku! Aku Cuma bisa meneriakan nama orang-orang terdekatku dalam hati, suaraku tak keluar, aku takut. Aku memutarkan badanku sedikit demi sedikit mencari jalan keluar. Sampai aku melihat sosok itu disana, di balik pohon sedang menatapku, mengawasiku. Badanku gemetar hebat, nafasku terengah-engah, peluh keringat terus membasahi tubuhku, ditambah udara dingin yang terus menyergapku. Aku takut. Aku yakin otakku sudah memerintahkan kaki ku untuk lari, Tapi kenapa aku hanya diam? Kenapa aku tak bergerak? Aku ingin teriak, tapi kenama perginya suaraku? Dengan tangan gemetar aku menyentuh tenggorokan ku sambil berdeham, tapi tetap saja tidak ada suara yang keluar dari mulutku.

Aku menggerak-gerakkan kaki ku, aku harus lari dari sini. Ku paksakan kaki ku berjalan mundur, aku terus menyeret kakiku hingga aw! aku menabrak pohon. Aduh! Sejak kapan ada pohon disini? Damn! Sejak kapan juga aku terduduk dibawah pohon ini? Punggungku sakit sekali, begitu keras kah aku menabraknya? Shit! Aku rasa tulangku remuk, Arrrgh! Ringisku, sambil meraba punggungku perlahan. Mataku terus mengawasi sosok dibalik pohon yang agak jauh dari tempatku saat ini. Dia masih mengawasiku disana tanpa bergerak, bisa ku lihat dengan jelas senyuman sinis yang terukir dibibir mungilnya. Matanya yang sayu memancarkan kesenangan, entah apa yang ia pikirkan.

Semakin kau berlari semakin ku kejar..

Semakin kau menjauh semakin ku mendekat..

Semakin kau melupakan semakin ku mengingatkan..

Aku takut. Aku takut. Aku takut. Dia menyanyikan lagu itu lagi sambil mulai berjalan ke arah ku. Dia terus berjalan, dia juga terus menyanyikan lagu itu dengan lirih, sangat lirih. Lagu yang selalu membuat hatiku merasakan sakit, entah sakit apa. Lagu yang membuatku merasa putus asa, lagu yang membuatku ingin sekali menangis. Sosok itu masih berjalan ke arah ku dengan perlahan namun menakutkan tanpa perduli bagaimana rasa takut ku. Tuhan aku benar-benar merasa takut saat ini. Tolong aku tuhan, tolong aku.

Ia semakin mendekat nafas ku pun semakin tercekat. Dan sampailah ia dihadapanku, ia berdiri menjulang, mataku tidak dapat lepas darinya, seakan akan aku dapat membaca gerak tubuhnya kalau nanti dia akan melakaukan sesutau padaku. Dia menyelesaikan lagunya, kemudian tertawa penuh kemenangan. Tawa nya sangat mengerikan bagiku. Pundaknya bergerak seiring dia tertawa.

Jika kalian bertanya sosok apa yang sedang ku takuti, sosok yang saat ini sedang tertawa didepanku adalah sosok wanita cantik yang seumuran denganku.



* lanjut engga yah? follow, vote, and comment *

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 17, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

  The ghost savior   Where stories live. Discover now