Azel & Lio

8 0 0
                                        

Lio's POV :

Aku segera mengambil motor yang berada di garasi. Kemudian mengendarainya menuju rumah Azel yang ada di samping rumahku.

"Kampret! Lama amat sih. Kita jadi telat nih." Keluh Azel.

Tanpa membuang waktu, dia naik ke motorku sambil menggerutu. Susah kalo sama Azel mah, aku selalu disalahkan. Padahal aku telat juga gara-gara dia nyuruh ngebenerin handphonenya yang mati karna gak sengaja kecebur.

"Jangan ngebut bego. Gue masih mau hidup." Jerit Azel saat aku sengaja menambahkan kecepatan motorku.

"Supaya kaga telat, Zel." Ucapku kalem.

Azel menjerit lagi, "Kaga ngebut juga kita udah telat kali. Pengen dibunuh banget sih lo."

Aku ngakak denger dia bilang gitu. Dia emang hobi ngancem mau membunuhku tapi nyatanya apa, denger aku kecelakaan dikit aja udah kalang kabut.

Akhirnya kami sampai di sekolah, Azel segera turun dan nyerahin helmnya dengan tampang cemberut. Aku merapikan rambutnya yang sedikit acak acakan.
Kutangkup pipinya "Gak usah cemberut gitu ah. Kelas yok." Kami berjalan beriringan sambil sesekali bercanda.

Baru aja kami sampai depan kelas udah diteriakin sama guru BP yang kebetulan lewat.

"KALIAN BERDUA, DIAM DISITU!" Teriakan itu guru menggelegar di lorong sekolah yang lagi sepi ini.

"Hehe, eh ada Ibu." Cengir Azel saat beliau berada di hadapan kami.

Guru itu menatap kami tajam dibalik bulu mata palsunya yang sangat tebal.
"Kalian kenapa telat?"

"Emm.. tadi ada masalah gitu bu. Ban motornya Lio bocor di jalan, terpaksa deh kita ke bengkel dulu jadinya telat. Maafin kita ya bu, janji deh gak telat lagi." Azel mah sering banget ngibulin orang jadi udah terlatih dia ngehadapin yang kayak gini.

Guru itu tampak berpikir, "Yasudah, kali ini kalian bebas. Jangan telat lagi ya. Tapi sebelum masuk kalian isi buku catatan keterlambatan dulu."

Kami hanya pasrah. Daripada dihukum ya mending ini.

¤¤¤●●¤¤¤

Aku berjalan dengan santai ke kantin mau nyusulin Azel yang seenaknya aja ninggalin di kelas padahal aku lagi sibuk mencatat rumus yang ada di papan tulis. Ada beberapa adik kelas kecentilan yang menyapaku. Aku hanya mengacuhkan mereka. Untuk apa ditanggapi, membuang waktuku saja. Bukannya mau narsis tapi aku memang lumayan tampan, wajar kalau banyak cewe yang mencari perhatian padaku.

Handphone Azel kuletakkan di atas meja kantin deket Azel duduk. Aku melirik sekilas kearah orang yang sedari tadi ngobrol sama azel dan menatap dia datar. Lalu aku beralih ke Azel lagi, dia gak berhenti ketawa bahkan setelah kutarik rambutnya. Entah apa yang dia ketawain.

Azel mengambil handphonenya dan memeriksanya. "Wih ternyata lo punya bakat jadi tukang servis handphone ya. Cepet bener kelarnya."

"Bukannya bilang makasih malah gitu." Jawabku sarkastis.

Azel tersenyum jenaka "Iyadeh. Makacih ya Io." Ucapnya dengan gaya anak kecil.

Mungkin merasa diacuhkan. Davin, orang yang tadi ngobrol sama Azel pamit mau ngumpul bareng temennya katanya. Baguslah.

Aku duduk disamping Azel sambil natap dia datar setelah selesai mesen bakso sama bu kantin. "Ngapain sih lo masih aja ngobrol sama Davin? Udah tau dia suka sama lo. Anak orang tuh, jangan di kasih harapan mulu kalo elonya kaga suka." Sindirku.

"Bukan gitu. Gue nganggep dia temen kali. Wajarkan kalo ngobrol."

Keras kepala.

Aku menghela nafas.

"Terserah."

¤¤¤●●¤¤¤

Puk.

Puk.

Sedari tadi ada yang menimpukku dengan gumpalan kertas, entah siapa. Sekarang udah jam terakhir mana pelajarannya sejarah ditambah gurunya itu loh ngebosenin banget. Suaranya pelan terus gak ada intonasinya. Berasa didongengin. Alhasil, karena aku adalah murid yang rajin. Sambil menunggu bel pulang bunyi aku tidur di kelas.

Puk.

Lagi-lagi ada yang menimpukku. Gangguin tidur orang doang. Kaga tau orang lagi ngantuk ya. Aku kembali melanjutkan tidurku yang sempat terganggu.

Seseorang berbisik kepadaku "Sstt.. Yo sstt.." Dia mencolek bahuku.

Aku membalikkan mukaku, menghadap orang disampingku menatapnya malas. Dia yang sedari tadi mengusik tidurku. Aku menaikkan sebelah alisku seakan bertanya kenapa, padanya.

"Besokkan minggu tuh. Kita jalan-jalan, gimana? Jogging kek atau apa gitu." Ajaknya sambil menatapku penuh harap.

Aku mendelik, "Ogah. Gue dirumah aja. Tidur."

Tepat setelah aku berbicara, bel pulang berbunyi. Aku merapikan semua bukuku. Kulihat Azel, orang yang duduk disebelahku tidak bergerak sedikitpun. Ia hanya menatapku cemberut.

"Apa?" Tanyaku.

Matanya berkilat memancarkan amarah "Pokoknya gak mau tau! Besok kita jalan-jalan. Kalo lo masih tidur, gue bakal nyeret lo. Titik." Balasnya tanpa bisa diganggu gugat.

Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: May 25, 2018 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

ONEDove le storie prendono vita. Scoprilo ora