Main cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Shim Changmin
Author : UknowM
Genre : angst
Rate : all
HAPPY READING
"Jika engkau merasakan cinta pada seseorang, katakanlah.
Berani. Jujur dan jangan ragu. Tapi, jika tidak, ucapkanlah
dengan tegas bahwa engkau tak menyukainya." Kata-kata
yang selalu terngiang dan telah terpatri di kepalaku setelah aku bertemu dengan Namja cantik ini. Namja cantik. Namja cantik elok yang telah mencuri hatiku dan
menyimpannya, hingga tak dapat aku temukan pecahan hatiku. Namja cantik yang mampu membuatku tak mampu berkata- kata. Namja cantik yang mampu membuatku tak dapat
mengingat kata-kata yang selama ini telah bersarang di
kepalaku. Aku tau, mungkin aku sudah gila atau apalah itu. Aku tak ngerti dan tak paham dengan apa yang sedang kualami sekarang. Yang ku tau hanya aku ingin bersama, menggenggam tangannya dan melindunginya. Aku ingin menjadi seseorang yang mampu menjadi penopang hidupnya. Pengobat rasa
sedihnya. Namja cantikku. Aku ngerasa kamu hanya impian yang tak dapat kugapai. Aku ngerasa tangan ini tidak sanggup untuk meraih tanganmu. Seandainya engkau tau, aku disini menunggumu, menantimu untuk mengambil setengah hatiku yang telah kau curi. Aku ingin kau ada disini, menemaniku. Hidup bersamaku di sisa umurku.
Kututup diaryku, sambil terus membayangkan Namja cantikku. Kulihat waktu telah larut malam. Beranjak ku menuju tempat tidur. Aku ingin istirahat dan memimpikan Namja cantik itu.
Walau hanya mimpi, aku ingin bertemu Namja cantik itu lagi.
Mengobrol dan melihat senyumnya yang mampu membuatku terpana. Kupejamkan mata sambil terus dan terus membayangkan wajah Namja cantik manisku. Hingga lelap dan pulas.
***
"Yunho..... cepat bangun. Kamu gak pergi melukis hari ini????" Samar-samar kudengar suara eomma yang memanggilku.
Dengan berat dan perlahan kubuka mata yang terpejam ini. Kucari-cari jam yang biasa kuletakkan di meja samping tempat tidurku. Betapa kagetnya aku ketika jarum jam telah menunjukkan pukul 09.00, yang artinya aku telah terlambat setengah jam untuk memulai aktifitas rutinku. Membantu orang yang ingin memiliki potret diri. Segera aku mempersiapkan diri dan berangkat menuju tempat yang biasa kugunakan untuk melukis. Hari masih pukul 09.00, namun sinar matahari sangat menyengat. Kususuri jalan yang ramai itu dengan peralatan lukis yang tersampir di pundakku dan sebuah lamunan di sepanjang jalan. Ya, inilah aku. Yunho seorang pelukis jalanan. Seorang pelukis yang kesehariannya hanya untuk melukis orang-orang tanpa dibayar. Kadang aku mendengar orang-orang di sekitarku berkata, untuk apa aku melukis tanpa dibayar, hanya buang- buang waktu aja. Tapi aku senang dan menikmati kehidupanku
ini, karna aku sadar hidupku tinggal sebentar lagi. Aku ingin
hidupku berguna untuk orang lain. Walaupun aku sadar aku
lemah, namun ada sesuatu yang mampu membuatku semangat menjalani kehidupanku ini.
"Yunho."
Inilah seseorang yang mampu membangkitkan semangatku
untuk hidup. Seseorang yang juga mampu menggetarkan
hatiku. Jaejoong. Dialah Namja cantikku yang hanya menjadi
impian dalam hidupku. Jaejoong adalah sahabat kecilku. Dia yang selalu menghibur dan memberikan semangat hidupku.
Sebagian masa kecilku, kuhabiskan hanya untuk bersamanya. Aku tidak pernah menyangka, perasaan yang awalnya hanya sebatas sahabat berkembang menjadi rasa cinta yang sangat
dalam. Jaejoong tidak pernah tahu perasaanku ini. Aku
berusaha menyimpannya rapat. Aku tidak pernah ingin Jaejoong tahu rasa cinta yang tumbuh dalam hati. Aku tak ingin hubungan persahabatan ini hancur hanya karna cinta. Aku tak pernah ingin jauh darinya, karna hanya dia penopang hidupku.
Kulihat Jaejoong berjalan menghampiriku sambil melambaikan tangannya yang mungil. Di sampingnya berjalan pula seorang
pria yang menggandeng tangannya. Changmin. Pria yang berarti dan berharga baginya. Pria yang juga aku kenal sebagai salah teman jurusannya. Dia pria yang baik dan menyayanginya
sepenuh hati, aku senang Jaejoong mendapat pria seperti dia. "Hai...., Yun. Boleh tidak kami minta kamu buat melukis kami berdua????? Aku suka sekali sama lukisanmu.", rengek Jaejoong.
"Bener Yun. Aku dengar kamu jago banget melukis. Pasti keren sekali ntar hasilnya.", kata Changmin menambahkan.
"Kalian itu tak usah memujiku seperti itu, nanti aku bisa jadi
besar kepala.", jawabku.
"Baiklah. Aku akan lukis kalian sebagai hadiah dariku karna kalian baru jadian. Ayo duduk di kursi itu. Aku akan mulai melukis.", lanjutku.
Mereka pun menuju kursi yang aku sediakan. Rasanya ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya melihat Namja cantikku dipeluk pria lain. Ingin sekali aku merebutnya dari
tangan pria itu dan memeluknya. Namun, segera kutepis semua pikiran itu jauh-jauh dan mulai melukis. Pertama kalinya aku
merasa sakit dan perih sekali saat melukis, biasanya tak pernah sekalipun rasa ini melingkupiku saat aku melukis. Biasanya aku
melukis dengan gembira dan senyuman. Karna aku cinta
melukis. Akhirnya lukisanku selesai.
