Langsung saja.
Namaku David Robert. Nama itu lahir karena pertentangan antara ayah dan ibuku. Ayah ingin menamaiku Robert, sedangkan Ibu ingin menamaiku David. Alhasil keduanya memanggilku dengan nama yang mereka beri masing-masing. Itu tidak pernah menjadi masalah bagiku.
Aku adalah anak tunggal dan aku hidup dengan kondisi berkecukupan, mungkin bisa dibilang lebih. Ayah memiliki beberapa pabrik besar dan banyak sekali orang yang bekerja di bawah perintahnya. Sedangkan, Ibuku adalah seorang dokter kandungan. Aku selalu berpikir bahwa hidupku akan berjalan dengan normal seperti kebanyakan orang di dunia ini. Ternyata aku salah.
Ketika aku berumur 7 tahun, Ibu pergi, meninggal karena penyakit strokenya. Hal ini sangat tidak disangka olehku, bahkan ayah pun shock berat. Setiap hari ia terus-terusan mengunci diri dan menangis. Aku juga ingin sekali menangis, tetapi menurutku menangis itu hal yang sia-sia, apalagi jika ayah melihatku menangis, ia pasti akan merasa terbebani.
Selama setahun penuh, aku berusaha menahan diri. Aku tidak pernah meminta dibelikan mainan. Makan pun aku ragu untuk meminta tambah. Aku mencoba untuk belajar dengan baik dan menghasilkan nilai yang cukup. Kupikir itu akan membuat Ayah senang, tetapi kepergian Ibu tetap membuatnya menjadi manusia yang begitu murung.
Namun, teringatlah aku akan ajaran guruku.
"Ketika kalian ada masalah dan merasa sedih, jangan kawatir! Bergantunglah pada Tuhan!"
Ayah mengangguk, matanya seperti berkaca-kaca setelah mendengarkan kata-kataku. Awalnya aku pikir ini tidak akan memberikan pengaruh yang besar, tetapi ternyata ini mengubah seluruh hidupku.
Sehari demi hari Ayah terlihat bertambah cerah. Aku sangat senang mengetahuinya. Ayah mulai sering ke gereja dan terkadang ia mengajakku.
....
"Ayah, barang-barang kita mau dibawa kemana? Apakah ayah akan membuangnya?"
"Tidak, Robert. Barang-barang ini akan kita berikan kepada orang yang lebih membutuhkan."
"Kenapa kita harus melakukan itu, yah?"
"Karena dengan begini, kita telah membuat lebih banyak orang berbahagia seperti kita. Kau mau semua orang di dunia ini bahagia, kan?"
"Ooh, baiklah"
Itu hanya permulaan. Setelah memberikan mainan bekas dan baju-baju bekas kami, Ayah mulai sering menyumbang dana ke panti asuhan yang ada di dekat rumah kami. Tak lama juga, ia menjual pabriknya dan menyumbangkan uangnya. Aku pun heran, kawatir karena aku takut kebutuhan kami tidak terpenuhi lagi. Akhirnya niat Ayah pun terungkapkan ketika ia membujukku untuk tinggal di rumah Bibi, kakak sulung Ayah. Ternyata ia mengambil keputusan untuk menjadi Pastur.
Aku yang malang, yang masih duduk di bangku kelas 4 SD hanya bisa mengiyakan, tidak menyangka bahwa aku tidak akan bertemu dengannya lagi hingga waktu yang sangat lama. Dan di hari aku menapakkan kaki ku ke rumah Bibi, hidupku hancur seketika.
Di mulai dari kehilangan seluruh teman-teman karena harus pindah sekolah sampai Bibi yang terus-terusan mengomeliku, tidak puas dengan nilaiku yang hanya biasa-biasa saja. Aku merasa sudah tidak niat melakukan apa-apa. Niat baik dan usahaku tidak menghasilkan keuntungan bagiku sama sekali.
Aku terus berpikir
"Tuhan, setelah Engkau memanggil ibuku, Kau juga memanggil ayahku. Adakah yang tersisa bagiku?"
Ketika kelas 3 SMA, aku kembali melihatnya. Di panggung altar itu, aku masih mengenali matanya yang agak sayu dan suaranya yang sangat berat. Aku semakin yakin ketika ia memperkenalkan dirinya sebagai pastur baru yang akan mulai bertugas di paroki tersebut, menyebutkan nama lengkapnya yang tidak asing bagiku.
YOU ARE READING
The Lost Boy
RandomSebuah kisah oneshot yang random sekali lmao lagi pengen nulis aja
