"Kamu benci saya Ning?"
"Astaga Mas Tama, darimana Mas Tama dapat pikiran itu. Saya tidak benci Mas Tama, sama sekali tidak. Ayah, bunda dan Mas Tama adalah orang-orang yang penting bagi kehidupan saya. Adalah mustahil bagi saya untuk membenci Mas T...
"KENAPA SIH KAMU GAK MATI AJA BARENG ORANG TUA KAMU?"
#PLAAKK
Kami semua terhentak. Semenjak aku tinggal di rumah ini, tak pernah sekalipun aku melihat ayah semarah ini.
"Ayah pukul Tama? Ayah pukul Tama, anak Ayah sendiri, demi anak pembantu itu?"
"PRATAMA, JAGA BICARA KAMU!"
"Ayah ... sudah Ayah ...", Bunda dengan berurai air mata berusaha menahan Ayah yang tampak mau memukul mas Tama lagi.
"Tama pergi, Tama suntuk tinggal di sini!"
"Mas Tama ... Mas mau kemana ... " panggilku mengejar Mas Tama yang berlalu menuju motornya.
"Jauh-jauh kamu dari saya, saya ...."
"BUNDA!!" terdengar teriakan Ayah dari dalam rumah. "Tama, Ning, cepat kemari, bunda pingsan."
Itulah pertengkaran terakhir antara ayah dan Mas Tama yang disebabkan ketidaksukaan Mas Tama akan kehadiranku. Itulah saat ketika aku memutuskan untuk keluar dari rumah yang membesarkanku sejak aku dapat mengingat dan mencari jalan hidupku sendiri.
***
7 tahun kemudian
"Mbak Ning, iki ana sing nelefon. Jare'e sing budhene Mbak Ning."* kata Sita, salah satu penjahit yang bekerja di pabrik baju batik milikku ini.
"Oh nggih Sita, matur nuwun yo,"** jawabku menerima telefon yang diaku sodorkan Sita.
Ya, selepas pertengkaran antara ayah dan mas Tama 10 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk mencoba mencari jalan hidupku sendiri. Kuliah yang sudah aku mulai di semester satupun aku tinggalkan.
Beruntung saat itu ada sepupu ibu, wanita yang kupanggil Budhe, bersedia untuk menerima aku di rumahnya. Budhe adalah pengusaha batik di Yogyakarta. Dari beliaulah aku belajar untuk berwirausaha dan melihat pangsa pasar. Saat warga Indonesia terusik dengan pengakuan batik oleh Malaysia, aku menjajal peruntunganku di dunia busana batik. Berbekal kemampuan menjahit yang ku dapatkan dari bunda dan beberapa helai kain batik dari budhe, aku mulai menjajaki pangsa pasar ini. Hasilnya memuaskan. Dari promosi mulut ke mulut, aku memiliki beberapa pelanggan tetap di luar Yogyakarta. Meningkatnya permintaan produksi membuat aku bisa membuka lapangan pekerjaan bagi beberapa orang penjahit dan pembuat pola.
Aku tidak pernah sakit hati dengan perkataan mas Tama, bagaimanapun juga mas Tama adalah kakak yang selalu aku kagumi. Aku hanya khawatir dengan keutuhan keluarga yang sudah berbaik hati membesarkan aku sejak takdir membiarkanku sendiri sejak aku berusia tiga tahun.
Bapak adalah supir keluarga Ayah, sejak jauh sebelum aku lahir. Ketika Bapak menikah dengan ibuku, kekasihnya dari kampung, Ayah dan Bunda membuka tangan mereka dan menerima Ibu untuk ikut bekerja untuk mereka. Semua tampak sempurna, sampai saat ketika aku harus dilahirkan.
Ibu yang saat itu sedang hamil tua, seperti biasa menjemput mas Tama dari taman kanak-kanak yang terletak tidak jauh dari rumah. Tiba-tiba mas Tama menyebrang jalan tanpa menyadari bahwa ada sebuah angkot yang melaju kencang kearahnya. Didorong rasa panik, ibu berlari menyelamatkan mas Tama dan menjadikan dirinya sendiri sebagai korban tabrak lari.
Mas Tama lecet-lecet, aku dilahirkan 1 bulan sebelum waktunya, dan Ibu berpulang kembali ke Sang Ilahi.
Bunda bilang, sejak kepergian Ibu, Bapak seperti kehilangan cahaya hidupnya. Beliau bertahan selama tiga tahun, mengurus aku yang semakin lama semakin mirip dengan Ibu. Satu hari setelah aku berusia tiga tahun, yang juga merupakan satu hari setelah Ibu pergi selama tiga tahun, Bapakpun menyusul Ibu. Bunda pernah berkata, "Mungkin Bapakmu patah hati kehilangan Ibu kamu, Ning...". Saat itu aku tidak mengerti, mengapa patah hati bisa membuat Bapak kehilangan semangat hidupnya.
"Assalamualaikum Budhe"
"Waalaikumsalam 'Nduk, kamu apa kabarnya tho ... sudah lama kamu tidak berkunjung ke rumah Budhe."
"Maaf Budhe, Bening sedang banyak persiapan untuk pengiriman ke kios-kios di Tanah Abang. Katanya pengiriman Bening yang kemarin sudah habis, jadi mereka pesan stok baru. Bening sudah pesan bahan lagi ke Mbak Bitha, kain dari memang pabrik Budhe paling cocok untuk baju-baju Bening."
"Budhe sehat Ning. Budhe mau minta maaf, hari Sabtu ini Budhe ndak bisa ikut ke makam, Pakdhemu ada undangan di kecamatan, Budhe harus ikut katanya. Ndak papa ya 'Nduk..Malamnya kamu bisa ke rumah Budhe. Budhe ada rencana masak nasi liwet khas Solo kesukaan kamu."
Ah ... Budhe selalu ingat hari ulangtahunku. Merupakan tradisi bagi kami berdua untuk mengunjungi makam Ibu di hari dimana aku menarik nafas pertamaku dan Ibu menghembuskan nafas terakhirnya 25 tahun yang lalu.
"Ndak papa Budhe, nanti Ning sampaikan salamnya ke ibu. Budhe ndak usah repot-repot masak buat Ning, lain kali saja kalau kita sama-sama punya waktu lebih banyak. Budhe bantu Pakdhe saja dulu di kecamatan"
"Bener ndak papa tho Ning? Kalau begitu lain kali saja Budhe masak buat kamu ya. Jaga kesehatan kamu ya Ning. Budhe mau kontrol produksi lagi. Assalamualaikum"
"Budhe juga jaga kesehatan ya, tolong sampaikan salam Ning buat pakdhe. Waalaikumsalam"
Tampaknya kali ini aku bisa berbincang-bincang lama berdua saja dengan ibu.
----
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
***
Perjumpaan kembali
Setibanya di kompleks pemakaman ini, aku melihat sosok itu berdiri tegap, menatap makam ibu dalam diam. Bahunya lebih bidang dan tubuhnya lebih berisi dari yang aku ingat. Rambutnya terpotong rapi, tidak lagi sebahu seperti 10 tahun yang lalu.
Hatiku ragu, haruskah aku menyapanya, atau haruskah aku membiarkan dia menikmati momentnya sendiri bersama ibu.
Tiba-tiba sosok itu membalikkan tubuhnya, menatapku dibalik kacamata hitamnya.
Entah berapa lama kami saling bertatapan sampai akhirnya dia mencopot kacamatanya dan menyapaku, "Bening ..."
* Mbak Ning, ini ada yang menelepon. Katanya dari budhenya Mbak Ning.