BAB 1SURAT

50.9K 576 3
                                        


Dear Sonia,

Daddy dan Mom harus kembali ke kantor pusat lebih cepat dari rencana. Ada penugasan mendadak yang tidak bisa kami tinggalkan. Penerbangan kami berangkat pagi ini, jadi Mom tidak sempat membangunkanmu.

Kamu sudah cukup dewasa untuk menjaga diri dan bertanggung jawab atas rumah selama kami pergi. Jangan lupa makan teratur, datang ke kampus tepat waktu, dan jangan membuat pesta!

Oh, iya, Jack sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Dia akan tinggal di rumah selama menyelesaikan penelitian tesisnya. Tolong jemput dia di bandara pukul sebelas.

Jangan terlambat.

Take care, dear.

Kiss from Daddy and me.

Mom

"WHAT?!"

Aku membaca memo itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Tetap sama.

Tidak ada kalimat yang tiba-tiba berubah menjadi Mom cuma bercanda. Tidak ada tulisan kecil di bagian bawah yang mengatakan bahwa mereka sedang bersembunyi di balik pintu sambil menertawakanku.

Hanya ada selembar kertas berwarna kuning yang ditempel di kulkas dengan magnet berbentuk alpukat.

Aku mencabut memo itu dan berlari menuju kamar mereka. Pintunya tidak terkunci. Tempat tidur sudah rapi, lemari pakaian setengah kosong, dan dua koper besar yang biasanya tersimpan di dekat jendela sudah tidak ada.

Mereka benar-benar pergi.

"Mom!" teriakku, meskipun tahu tidak akan ada jawaban. "Daddy!"

Hening.

Rumah sebesar ini hanya menjawabku dengan suara pendingin udara dan detak jam dinding.

Tega sekali.

Aku memang sudah dewasa. Aku sudah menjadi mahasiswi. Aku bisa mengurus diri sendiri, memilih pakaian sendiri, mengendarai mobil sendiri, dan sesekali berhasil memasak mi tanpa membuat dapur terbakar.

Namun, bukan berarti mereka boleh terbang ke luar negeri tanpa memberitahuku!

Masa hanya meninggalkan memo?

Memo!

Setidaknya kirim pesan sepanjang tiga halaman. Atau buat video perpisahan yang mengharukan. Atau bangunkan aku, lalu katakan, "Sonia, anak kesayangan kami, maafkan kami karena harus meninggalkanmu di rumah yang luas, sepi, dan mengerikan ini."

Bukan malah menempelkan kertas di kulkas seperti sedang mengingatkanku membeli telur.

Aku kembali ke dapur sambil menyeret langkah. Kepalaku masih terasa berat karena semalam menonton serial sampai hampir pagi. Aku baru tidur setelah menyelesaikan episode terakhir—keputusan buruk yang sekarang sangat kusesali.

Ponselku tergeletak di meja makan. Ada dua belas panggilan tak terjawab dari Mom, lima dari Daddy, dan satu pesan suara.

Baiklah.

Mungkin mereka memang mencoba membangunkanku.

Namun, tetap saja aku berhak kesal.

Aku menekan pesan suara itu.

"Hai, dear. Mom sudah mencoba meneleponmu, tetapi ponselmu tidak diangkat. Daddy juga sudah mengetuk pintu kamarmu. Kami harus berangkat sekarang karena rapatnya dimajukan. Semua sudah Mom jelaskan dalam memo. Jangan panik, ya. Kami mungkin pergi selama beberapa bulan, tetapi akan sering meneleponmu. Jack tiba siang ini. Tolong jemput dia dan—"

Sleep With My CousinStories to obsess over. Discover now