We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bukit Cinta

84 2 0
                                        

Libur semester telah tiba. Penat rasanya di Surabaya. Ingin ke Gresik, desaku. Tapi sepertinya gak ada yang mau mengantarku ke sana. Huft ..
PING!!!
Vindra : Ada apa, Yas?
Yasmin : Aku ikut kamu pulang ya? aku ke Gresik
Vindra : Iya, aku pulang besok, aku tunggu di kost-ku ya, Yas
Sip, aku bakal ke desa sama Vindra. Ya walaupun dia ke Lamongan sedangkan aku ke Gresik, semoga saja aku gak nyasar kalau kita berpisah di tengah jalan.
Perjalanan, di dalam bus. “Aku turun di Betoyo, Yas”
“Terus aku turun dimana?”
“Kamu turun di Pertigaan Bungah, kira-kira 20 menit dari Betoyo”
“Oh, Pasar Bungah?”
“Iya, aku habis ini turun, udah sampai. Bye Yasmin, hati-hati, loh!”
Mampus, aku sendirian di bus. Aku mencoba menelepon Mas Iwing yang ada di desa. “Halo, Mas, bisa jemput aku di Pertigaan Bungah?”
“Gak bisa, Dek, Mas lagi jualan baju di Pasar Sidayu, kamu dimana?”
“Aku 20 menit lagi sampai di Pertigaan Bungah, gimana ini?”
“Kamu naik angkot aja ke arah Pasar Dukun, sampai sana naik Becak ke Siraman”
“Iya, deh, Mas, kalau nyasar jemput aku, ya?”
“Iya!”
Akhirnya sampai juga di Pertigaan Bungah. Tengok kanan, tengok kiri. Bingung mau ngapain. Untung ada mini market di seberang jalan, mampir dulu ke sana, beli minuman sama snack.
Laperr!! Aku mencari warung makan. Ada warung bakso dan warung sate. Emm.. bakso saja lah.
“Pak, bakso satu, ya!”
“Iya, Mbak!”
Pesananku datang juga. Waktu lagi makan, ada seseorang yang duduk di sebelahku. “Kosong, Mbak?”
“Iya kosong, duduk aja”, dia memesan bakso juga.
“Eh, kayak pernah ketemu, siapa ya?”, kata orang yang duduk di sebelahku.
Aku mengamati wajahnya beberapa saat. “Mas Adi ya? aku Yasmin, yang di kampung sebelah Mas itu loh”. Mas Adi itu satu-satunya orang desa sebelah yang aku kenal. Aku kenal lewat facebook, kira-kira sudah 2 tahun yang lalu. Dia satu tahun lebih tua dari aku, sekarang dia bekerja di salah satu bengkel.
“Oh, iya-iya. Tambah cantik aja. Hehehe.. Sendiri aja, Yas?”
“Hehehe.. bisa aja kalau gombal. Iya, Mas, habisnya gak ada yang mau antar. Tadi aku naik bus sama temanku, tapi dia turun di Betoyo. Sendirian deh aku. Minta jemput Mas Iwing, tapi dia jualan di Pasar Sidayu”
“Lah, Mas ngapain di sini?”
“Habis dari rumah temanku. Ke Siraman bareng aku aja, gimana? Nanti kamu nyasar loh!”
“Bener ya, Mas?”
“Iya, dihabiskan dulu baksonya”
*******
“Makasih tumpangannya, Mas, hati-hati dijalan ya”. Mas Adi mengantarku sampai depan rumah Nenek. Senangnya dapat tumpangan.
“Siapa itu, Yas?”, Tanya Bibi yang menyambutku di depan pintu.
“Mas Adi, Bi, kenapa?”
“Anak mana? Anaknya siapa? Nanti diculik loh”
Huft.. diki-dikit ngomongnya diculik. Iya, sih, aku cantik, imut, menggemaskan, tp yakin deh, gak bakal ada yang mau nyulik aku, karena apa yang aku omongkan tadi itu fitnah, dan fitnahku tadi itu fitnah. Yakinlah!
“Anak kampung sebelah, anaknya Bapak Mudlofar, guru di Sekolah Maskumambang itu loh”
Aku pergi ke dapur, ada nenek memasak, entah apa yang nenek masak, beda dengan masakan Bunda di Surabaya. Kadang rasanya aneh. Maklum, lidah orang kota. Hehehe. “Memasak apa, Nek?”
“Bandeng bakar”.
Aku gak suka ikan, jadi aku gak melirik sedikitpun bandeng itu. Bosan dengan keadaan dapur, aku masuk ke kamar, ganti baju lalu rebahan.
*******
“Bangun, Yas, udah siang!”, Bibi membangunkanku.
Molor adalah kebiasaanku di semua tempat. Bukan pemalas sih, tapi hobi. Jam 9 pagi. Ya, menurutku masih pagi sih, aku lesehan lihat tv.
“Cuci muka, gosok gigi dulu, Cah ayu. Habis itu makan. Ada nasi bebek di meja”, kata nenek.
“Iya, Nek!”, aku pun cuci muka dan gosok gigi, lalu memakan nasi bebek.
Mas Adi BBM aku
Adi : Nanti malam jalan-jalan yuk!
Yasmin : Aku usahain, Mas
Adi : Oke!
Sore aku izin Bibiku untuk pergi, “Bi, aku keluar ya?”
“Sama siapa?”
“Sama Mas Adi. Boleh, kan?”
“Hmm.. Ya sudah, nggak apa-apa. Tapi jangan malam-malam kalau pulang!”
“Oke!”, akhirnya boleh juga keluar.
*******
Pukul 18.30.
Yasmin : Mas, jadi keluar, kan?
Adi : Jadi, bentar lagi aku berangkat. Ditunggu dimana?
Yasmin : Di depan rumah nenek aja, Mas!
Adi : Aku lupa rumahnya
Yasmin : Nanti aku tunggu di depan, aku pakai kemeja kotak-kotak
Adi : Iya, aku berangkat!
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Mas Adi datang juga, berangkat deh. Tancaappp!!!
“Mau kemana nih, Yas?”
“Muter-muter aja, Mas”
“Yaudah..!!”
Ternyata beneran, aku diajak muter-muter di situ-situ aja. Hehehe.. wah.. wah ..
“Loh, kok muter-muter sini aja, Mas?”
“Katanya suruh muter-muter? hehe”, kata Mas Adi sambil tertawa.
Jadinya, kita keliling gak jelas gitu deh. Tapi nggak apa-apa, yang penting sama Mas Adi. Hehe..
“Dingin, ya, Yas!”. Kebetulan saat itu Mas Adi cuma pakai kaos aja, nggak pakai jaket, dan aku juga nggak bawa jaket. Hawa di sana dingin kalau malam.
“Dingin mana, Mas, sama tanganku?”, dia pun memegang tanganku. Haduh.. ternyata sama-sama dingin, tapi tetep aja dia masih pegang erat tanganku. Biar romantis dikit kali ya? hehehe.
Sudah beberapa jam keliling melihat pemandangan di malam hari, aku ngajak Mas Adi untuk pulang. “Mas, pulang, yuk!”
“Iya, Yas, aku juga udah gak tahan. Dingin banget”, dengan kecepatan 40km/jam kita nikmati perjalanan pulang, walaupun kedinginan.
Aku melihat ke langit. Indah banget malam ini, banyak bintang. “Mas, bintangnya banyak tuh!”, mas Adi melihat ke atas. Iseng-iseng, aku tutup matanya.
“Yas, lepasin, nanti kalau nabrak gimana?”
*Nabrak hatiku aja Mas* aku berkata dalam hati.
“Biarin! hehehe”.
Akhirnya sampai rumah juga deh. “Hati-hati ya, Mas, kalau pulang!”
“Iya!”
Yasmin : PING!!!
Masih dingin, gak, Mas?
Adi : Udah nggak kok. Tadi soalnya nggak dipeluk sama kamu, jadinya  kedinginan deh! hehehe
Yasmin : Hehehe..! bisa aja. Nggak, mas, aku gak berani. Kapan-kapan, kalau ada waktu, jalan-jalan lagi ya,    Mas?
Adi : Iya, Yas! Aku ajak ke Bukit Jamur, deh!
Yasmin : Oke, Mas!
*******
Hari minggu aku harus bangun pagi. Mas Adi mau mengajakku ke Bukit Jamur. Alarm dari hp-ku berdering. Aku cepat-cepat mandi, ganti baju dan dandan yang cantik. Sudah siap untuk berangkat ke Bukit Jamur, tinggal menunggu jemputan Mas Adi.
Perjalanan ke Bukit Jamur gak terlalu jauh dari desaku. Akhirnya sampai juga di sana. Ramai, banyak pengunjung dari luar kota juga. Mas Adi mengajakku untuk naik ke atas bukitnya, walaupun agak susah, tapi aku bisa menaikinya dengan bantuan Mas Adi.
“Keren ya, Mas”
“Iya, dong! Nyesel kalau belum ke sini”
Aku selfie-selfie dulu sama Mas Adi.
“Yas!!”
“Iya, Mas, kenapa?”
“Kamu cantik hari ini”
“Eemm.. masak sih? Biasa aja deh. Mas”
“Iya, sih, kamu biasa aja. Luar biasa kalau kamu mau jadi pacarku. Kamu mau gak jadi pacarku?”
“Pacar??”, aku kaget saat Mas Adi tiba-tiba memintaku untuk menjadi pacarnya. Tapi hatiku juga gak bisa bohong, aku juga suka dengannya. Tapi aku memendamnya. Entah akan sirna atau dia akan menembakku suatu saat nanti. Ternyata dia menembakku.
“Eee… iya, Yas, kenapa? Gak mau?”
“Aku mau, Mas”, aku tersenyum.
“Yes!!”, Mas Adi pun memelukku. Tapi sebelum dia benar-benar memelukku, aku menyingkir dan berbisik “Ssstt.. dilihat banyak orang”, kita pun tersenyum.

(Cerpen) Bukit CintaStories to obsess over. Discover now