-A-
"Cerenainevelyn? Tempat dibelakang sekolah itu? " tanyaku.
"Iya, disana indah sekali loh. Tapi, banyak yang bilang tempat itu berhantu..."
"Yaampun, Risa. Kau sudah berumur 14 tahun dan masih percaya hantu?." tegasku.
"Ayolah, jangan bicara seperti itu."
"Yasudah, ayo kita pulang sudah jam 5 sore. Nanti kamu dimarahi mama."
"Baik."
Akhirnya aku berjalan pulang dengan Risa. Kalian tau siapa aku? baik, aku ini seorang gadis SMP biasa. Namaku Eina Clarissa. Umurku masih 14 tahun, aku keturunan Jepang-Indonesia. Ibuku Indonesia dan Ayahku Jepang. bisa dibilang aku tidak percaya sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Termasuk hantu.
Kau tau hantu? Ya makhluk kantong plastik bening, aku menyebutnya itu. mengapa aku menyebutnya begitu? Kau tau banyak orang yang bilang hantu itu transparan jadi ya, aku menyebutnya itu saja. Lagipula jika hantu kusebut begitu, dia tak akan bisa marah dan membuat tindak protes didepan rumahku sambil membawa rombongan hantu lainnya kan?
Ya, aku tidak terlalu peduli dengan hal itu.
"Aku duluan ya, daahh!!" Risa menepuk pundakku.
Bisa dibilang tepukannya membuatku tersadar akan lamunanku tentang kantong plastik bening tadi.
"Iya, hati-hati. Dah!" Aku melambai padanya.
Klik. Kubuka pintu rumahku.
Sudah kuperkirakan, tidak ada orang disini.
Sepi.
Sendiri.
Pembantu rumahku sudah pulang rupanya.
Ya, aku selalu ditinggal sendiri oleh orang tuaku. Mereka bekerja sampai larut, bahkan bisa lembur sampai pagi.
Pekerjaan mereka? Tak terlalu bagus. Ayahku hanya seorang pengusaha, terkadang ia pergi keluar negri untuk mengecek perusahaannya, Dan Ibuku Dokter ternama. Hei, aku tak bermaksud pamer. Tapi ya, mengapa kusebut kurang bagus? Mereka meninggalkan gadis mereka bersama seorang pembantu rumahan yang bahkan tak pernah menyebut namaku, mereka juga tak bisa memberikan kasih sayang yang selayaknya. yaa, walau semua kebutuhanku terpenuhi.. dan aku tau mereka bekerja untuku, tapi.. ah sudahlah aku tak peduli lagi.
"Aku pulang."
Sapaan pada tempat tinggal yang sangat telat. aku mengucapkannya ketika sudah didalam kamar.
"Kamarku gelap sekali, bibi tak menyalakan lampunya. Huh, kebiasaan" gerutuku.
Bisa dibilang keadaanku dari dulu turut andil sebagai penyebab aku tidak percaya akan hantu, karena aku sudah terbiasa sendiri.
Aku mulai membuka seragamku. Dan menggantinya dengan baju tidur.
"Baik saatnya nonton."
Aku membuka layar laptop ku. mencari folder bernama 'forbidden'. Tapi sebelumnya aku teringat akan tempat bernama Cerenainevelyn yang berada di belakang sekolahku.
"Baiklah. " gumamku.
Karena saat malam hari sangat dingin, kukenakan baju hangat, dan sarung tanganku.
Kubuka pintu kamar, dan berjalan ke pintu depan rumah, aku berniat untuk menelusuri tempat yang katanya angker itu.
Bagaimanapun... Aku tak percaya. Ya, walau sudah pukul 7 malam, aku tetap melanjutkan perjalananku. Aku tak takut akan hantu, apalagi orang jahat. Untuk apa takut dengan orang yang sama-sama makan nasi?.
Baik, aku ini terlalu menutup diriku.
Aku berjalan melalui tanjakan, karena sekolahku berada di bukit, untunglah aku menaiki sepeda, jadi tak terlalu memakan waktu.
"Akhirnya sampai juga."
Benar, indah. Tempat ini indah. Dengan pohon tua yang menjulang yang daunnya sudah tak terlihat itu mulai dihantam malam, kelelawar hinggap di dahannya. Dengan pemandangan bintang, langit malam hari yang cerah, suasana dingin, rumput yang menari, pohon yang terlihat hitam, dan seorang pemuda yang terlihat seumuran denganku. Tunggu, pemuda?!.
Bersambung. ••|
*2-#;_¢¢£=''
Maaf, kalo jelek, ini first time :v
Kalo mau kritik gapapa, asal jangan sok tau kritiknya :v kalo boleh pesen, kritiknya rasa keju ama bbq ya. (Lu kira kripik apa ).
Stay :u
YOU ARE READING
Cerenainevelyn ••
RomanceTempat ajaib mempertemukan mereka. Yakin? Apakah keajaiban tempat itu merupakan anugerah, atau bahkan kutukan?. Lalu, apa hubungan kedua insan ini?.
