bab 1

20.1K 272 2
                                        

ERISKA POV

Aku tidak bisa bergerak.

Tubuh besar itu menahanku, membuat seluruh tenagaku seolah tidak berarti apa-apa.

Aku mencoba mendorongnya.

Sekali.

Dua kali.

Tidak berhasil.

"Tolong...."

Suaraku nyaris tidak terdengar.

Aku ingin berteriak lebih keras, tetapi tenggorokanku seperti terkunci. Napasku pendek-pendek. Jantungku berdetak begitu cepat sampai terasa menyakitkan.

Bau ruangan itu.

Suara napas itu.

Bahkan dinginnya lantai yang menyentuh kulitku.

Aku mengenal semuanya.

Tidak.

Aku tidak mau berada di sini lagi.

"Eriska...."

Suara itu membuat seluruh tubuhku membeku.

Delapan tahun berlalu, tetapi aku masih mengenal suara itu.

"Tolong...."

Aku memejamkan mata erat-erat.

Ya Tuhan, tolong aku.

Aku mencoba melawan sekali lagi, tetapi tubuhku seperti kehilangan seluruh tenaga.

"Tolong!"

Tidak ada yang datang.

"TOLONG!"

Aku menangis.

"TOLONG!!!"

KRING! KRING! KRING!

Aku tersentak bangun.

Mataku terbuka lebar.

Langit-langit kamar.

Aku menatapnya tanpa berkedip selama beberapa detik, berusaha memahami di mana aku berada.

Kamar.

Aku ada di kamar.

Bukan di sana.

Tanganku gemetar ketika meraih ponsel yang masih membunyikan alarm.

Begitu alarm berhenti, kamar kembali sunyi.

Barulah kusadari pipiku basah.

Aku menangis.

Tubuhku dipenuhi keringat, napasku masih tidak beraturan. Aku mencoba bangun, tetapi tidak sanggup. Rasanya seluruh tenaga telah terkuras hanya untuk keluar dari mimpi itu.

Aku kembali menatap langit-langit.

Kemarin mimpi tentang lorong itu datang.

Sekarang yang ini.

Dua malam berturut-turut.

Setelah delapan tahun.

"Kenapa...?"

Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Aku menelan ludah.

"Kenapa sekarang?"

Tidak ada jawaban.

Tentu saja.

Aku memejamkan mata, tetapi segera membukanya kembali ketika potongan-potongan mimpi tadi muncul.

Tidak.

Aku tidak mau mengingatnya.

Aku sudah menghabiskan delapan tahun untuk belajar hidup seolah semua itu tidak pernah terjadi.

Kenapa masa lalu itu tiba-tiba kembali mengetuk?

Dan kenapa....

Entah dari mana datangnya perasaan itu, tetapi sejak membuka mata tadi, ada sesuatu yang membuat dadaku tidak tenang.

Seolah mimpi-mimpi itu bukan sekadar kenangan.

Seolah sesuatu sedang mendekat.

Aku menarik selimut sampai ke dada.

"Ya Tuhan," bisikku, "ada apa ini?"

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sebuah ketakutan yang kukira sudah mati kembali hidup di dalam diriku.

Dan tanpa alasan yang bisa kujelaskan, aku merasa—

masa lalu sedang mencariku.

Kisah AnandyaMga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon